Synopsis
Saman karya Ayu Utami
Terdapat
empat sekawan dari bernama Shakuntala, Cok, Yasmin dan Laili. Mereka
bersahabat dan masih perawan. Daiantar keempat itu, dua diantaranya
merasa bimbang untuk menyerahkan keperawanan mereka. Kepada satu
lelaki yang mereka kenal dahulu. Saman.
Adalah
Laili, berada di sebuah taman bernama Central Park dimana kebebasan
itu berada. Di musim semi dimana matahari lebih lama bersinar di hari
itu. Hewan-hewan keluar menangkap kehangatan yang diberikan oleh
mentari, sehangat kehangatan birahi. Ia berada di sana untuk
menunggui seorang yang telah lama ia tunggu. Bersama dengan
gelandangan yang tidur seenaknya di bangku taman tanpa peduli dengan
keadaan yang ada disekitarnya. Kita tidak tahu dari mana dia, apa
warna kulitnya dan mimpi apa dia, yang kita tahu hanyalah ia sedang
menikmati tidur pulasnya sambil mengeliat. Dan ia tahu ia juga sedang
menikmati hari itu, karena ia akan pacaran. Bercumbu dengan kekasih
yang telah lama ia nanti. Tanpa ada orang tua, dosa, dan para penegak
hokum. Karena di taman ini, kebebasan adalah segalanya. Tanpa dosa
tanpa malu. Kawin setiap mengenal birahi. Di tempat ini tak ada orang
yang tahu kecuali gembel itu, jika aku sedang menunggu Sihar. Mantan
pastor, yang kini menjadi aktivis untuk orang miskin dan menjadi
buronan penguasa orde baru.
Sudah
jam sepuluh pagi. Semakin lama menunggu ia semakin kangen kepadanya.
Dengan aroma tubuhnya, pelukan hangatnya, juga kepada bau tembakau
dari mulutnya. Meskipun ia merokok, namun ia menghormati perempuan.
Dan kalau ia datang akan kutunjukan betapa kangennya aku padanya.
Ingin rasanya menikmati taman ini. Karena disini tak ada orang yang
tahu, hanya gembel itu. Setelah 420 hari menunggu dari hari terkhir
ia bertemu, aku selalu menghitung dimana keinginan itu agar
kesempatan itu menjadi mungkin dan ia berharap hari ini menjadi
mungkin.
Mereka
berada dalam satu kamar hotel dengan lelaki itu. Hatinya bergetar. Ia
tak pernah sekamar dengan seorang lelaki dan ia akan kawin hari itu.
Ia tak tahu apakah lelaki itu pernah membawa perempuan dalam satu
kamar seperti ini. Karena ia adalah pekerja tambang minyak yang harus
bekerja di laut dalam hutan dan berpisah dari istri. Dan seorang yang
beristri tak bisa jika tidak begitu. Karena ia adalah pekerja di
kilang minyak. Mungkin hanya dengan wanita-wanita desa di balik
warung-warung dengan tembok berlumut melampiaskan birahinya. Dan kini
ia berada dalam satu kamar dengan lelaki itu. Dan keindahan tak harus
dinamai bukan?
Komentar
Sangat menarik
cerita yang diangkat oleh Ayu Utami ini. Mengangkat sisi lain dari
kehidupan sosial yang ada di Indonesia. Dimana saat itu kebebasan dan
penindasan bagi kaum kurang kaya mulai ada sejak jaman orde baru.
Orang dengan kekuasaan mencoba mendapat untung dari jabatan yang ia
emban dan menipu banyak orang. Khususnya orang di daerah pedalaman
yang pendidikan yang di enyamnya kurang. Karena mereka mudah sekali
untuk ditipu dan dimanfaatkan. Hanya dengan janji-janji dari omongan
busuk mereka bisa memperdayai dan menghasut orang lain agar berkawan
dengan kebajingan para penguasa orde baru pada saat itu. Selain
mengangkat tentang penindasan warga miskin di daerah pedalaman, Ayu
Utami juga mengangkat bagaimana kehidupan perempuan pada saat itu.
Yaitu keinginan perempuan untuk kebebasan. Sperti yang diceritakan
dalam novel, Laili ingin melepas keperawanannya kepada orang yang ia
cintai meskipun ia telah mempunyai istri. Sampai-sampai ia rela
mengambil keputusan yang sangat mendadak tanpa ada pemikiran terlebih
dahulu, hanya untuk bisa bercumbu atas birahi yang ia miliki. Dalam
cerita Saman
ini,
unsur cerita berbau seks sangat kental terasa. Seperti pada cerita
halaman-halaman terakhir dimana Yasmin dan Sihar saling berkirim
email. Membayangkan saat mereka pertama berhubungan dan bercumbu.
Menarik karena Ayu Utami berani menceritakan sebuah cerita yang
isinya tentang seks. Bukan berarti apa-apa namun hanya sebagai buah
dari penglihatannya di masyarakat dan mencoba menguak kehidupan
wanita Indonesia pada saat itu.
Biografi
Pengarang:
AYU
UTAMI
Saman
adalah novel pertama karya Ayu
Utami yang diterbitkan oleh Kepustakaan
Populer Gramedia pada bulan April 1998. Novel ini adalah novel
pertama yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.
Novel ini pada
awalnya direncanakan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu Utami,
Laila
Tak Mampir di New York.
Saman mengambil seting Indonesia tahun 80-an dan 90-an, di mana para
tokohnya saling berinteraksi di tengah kondisi sosial, politik dan
budaya Indonesia pada masa itu. Tokoh utamanya adalah Saman (seorang
mantan pastur yang
bernama Athanasius Wisanggeni) dan empat perempuan yang bersahabat
dari SMP sampai mereka dewasa, yaitu Yasmin Moningka, Shakuntala,
Cokorda, dan Laila. Saman
memenangkan Sayembara Roman Dewan
Kesenian Jakarta 1998.
Synopsis Para
Priyayi karya Umar Kayam
Wanagalih adalah
sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad
ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru
Sastrodarsono yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap
kali ia pulang dari pertemuan pagi. Pada waktu hari semakin terang
iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar,
suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin
sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar,
masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas,
mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan
mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi
goyang.
Hubungan Embok
Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan
tempe. Rupanya tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati
keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian tempe Embok itu jadi
langganan keluarga tersebut. Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono
menjadi tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga
itu menjadi akrab, bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah
kedua bagi mereka. Tetapi sangatlah tidak pantas rumah gebyok itu
terlalu besar dan bagus untuk dikatakan rumah kedua mereka bila
disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat dari gedek atau anyaman
bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah itu adalah
rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang
pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat
seperti Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan
pemerintah sebagai priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji.
Rezeki dan pangkat itu jangan dimakan sendiri, tidak pantas, saru,
bila ada seseorang anggota keluarga besar priyayi sampai kleleran,
terbengkalai, jadi gelandangan, tidak menikmati pendidikan. Begitu
sang Ndoro Guru menasehati anak-anaknya.
Karena sudah
beranjak umur enam tahun dan sudah waktunya untuk sekolah, Wage atau
Lantip pun disuruh mboknya untuk tinggal bersama keluarga
sastrodarsono untuk disekolahkan ke sekakel. Tak terasa lantip sudah
kelas lima sekolah dasar dan sebentar lagi akan melanjutkan sekolah
dan membalas budi emboknya. Namun kabar tidak mengenakkan datang.
Emboknya meninggal dunia karena keracunan jamur. Sangat terpukul hati
lantip mendengar kabar tersebut.
Sastrodarsono,
adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang anak petani desa Kedung
Simo. Sebelumya ia hanya bekerja sebagai guru bantu di Ploso. Dengan
janbatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono adalah orang pertama
dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi. Sastrodarsono
dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri tunggalnya
seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil
istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan
keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para
pembantu di dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak
priyayi dibandingkan dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi
priyayi. Mereka tinggal setahun di Ploso yang kemudian membeli rumah
kecil di jalan Satenan. Segera setelah mereka menempati rumah itu,
Mereka dengan para pembantunya mulai mengembangkan tempat tinggal itu
sebagaimana rumah tangga yang mereka inginkan yaitu rumah tangga
priyayi. Akan tetapi bagaimanapun, naluri petani Sastrodarsono, dan
juga Dik Ngaisah masih hadir juga dalam tubuh mereka. Mereka memilih
untuk menggaji para buruh-buruh sawah untuk mengolah tegalan dan
sawah yang ada di belakang rumahnya berbagai macam tanaman. Walaupun
rumah tangga priyayi, mereka tidak boleh tergantung pada gaji. Jadi
priyayi itu adalah orang yang terpandang bukan karena kekayaanya
namun juga karena kepandaiannya.
Soenandar, yang
masih kemenakan Dik Ngaisah mempunyai sifat yang sangat buruk
walaupun berkali-kali sering dipukuli oleh Sastrodarsono dengan bambu
agar kapok akan perbuatannya yang sering mencuri, dia juga sering
mengganggu Sri dan Darmin saat mereka sedang sembahyang. Soenandar
yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia
tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia
minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat
diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar bergabung dengan
gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya
telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada
Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar. Semenjak
Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena
ia hanya anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak
mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya adalah gerombolan
perampok. Selain itu, Lantip juga mengerti kenapa keluarga
Sastrodarsono sangat peduli. Karena Soenandar adalah bagian dari
keluarganya.
Sepeninggalannya
Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang aampai
akhirnya ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal
untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono
tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada
akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar
Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah
kakung di makam itu. Lantip teringat akan Mboknya dan ia pun
menggandeng Halimah untuk pergi ke Wanalawas untuk berziarah ke makam
Mboknya.
Komentar
Menurut
saya ceritanya sudah bagus untuk dibaca. Namun bagi saya sendiri
sedikit membingungkan. Namun terdapat pesan moral yang bisa saya
tangkap dari cerita ini. Yaitu bagaimana sifat Lantip yang pintar dan
sayang dengan orang tuanya khususnya emboknya. Juga kehidupan priyayi
yang mengayomi masyarakat yang kurang mampu untuk saling bekerja sama
yang saling menguntungkan. Serta melihat kejadian-kejadian dimana di
novel di ceritakan adanya kejadian hamil diluar nikah. Sedangkan
mereka adalah keluarga priyayi yang terpandang di masyarakat. Namun
apapun masalah yang ada di dalam cerita ini dapat di selesaikan
dengan baik semua. Karena di setiap masalah pasti ada jalan
keluarnya. Setelah
mengkaji isi cerita yang berjudul Para Priyayi, maka penulis dapat
mengambil kesimpulan tema dari novel itu adalah menceritakan
orang-orang yang berhasil dalam pendidikan dan pekerjaannya dalam
pemerintah dan mempunyai kedudukan di masyarakat. Orang-orang
terpandang kedudukannya di masyarakat. Lantip berusaha keras agar
dirinya menjadi sukses walaupun bapaknya merupakan seorang
berandalan. Ia tidak terpengaruh dengan status yang dimiliki oleh
ayahnya. Dengan itu bahkan Lantip berusaha tidak ambil pusing dengan
hal itu, bahkan ia lebih berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut
guna menyenangkan hati emboknya. Itu adalah pelajaran yang harus kita
ambil.
Biografi
Pengarang
UMAR
KAYAM
Umar Kayam (dalam
konteks percakapan antar teman biasa disapa UK), lulus sarjana muda
di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada (1955), meraih M.A.
dari Universitas
New York, Amerika
Serikat (1963), dan meraih Ph.D.
dari Universitas
Cornell, Amerika Serikat (1965). Ia pernah menjabat Direktur
Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen
Penerangan RI (1966-1969), Ketua Dewan
Kesenian Jakarta (1969-1972), Diektur Pusat Latihan Ilmu-ilmu
Sosial Universitas
Hasanudin, Ujungpandang
(1975-1976), anggota MPRS
(Majelis
Permusyawaratan Rakyat Sementara), dosen Universitas
Indonesia, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta,
senior
fellow
pada East-West Centre, Honolulu,
Hawaii, Amerika
Serikat (1973), Ketua Dewan
Film Nasional (1978-1979), Guru
Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, anggota
penyantun/penasihat majalah
''Horison'' (mengundurkan diri sejak 1 September 1993),
bersama-sama dengan Ali
Audah, Arif
Budiman, Goenawan
Mohamad, Aristides
Katopo, Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Gadjah
Mada (1977-), Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1981-)
anggota Akademi
Jakarta (1988-seumur hidup). [1]
Umar Kayam termasuk
yang banyak melakukan terobosan dalam banyak bidang kehidupan yang
melibatkan dirinya. Ketika menjadi mahasiswa
di Universitas Gadjah Mada, ia dikenal sebagai salah seorang pelopor
dalam terbentuknya kehidupan teater kampus. Ketika menjadi Dirjen
Radio dan Televisi, ia dikenal sebagai tokoh yang membuat
kehidupan perfilman menjadi semarak. Sewaktu menjadi Ketua Dewan
Kesenian Jakarta (1969-1972), dia mempelopori pertemuan antara
kesenian modern dengan kesenian tradisional. Pada saat menjadi dosen
di almamaternya, ia mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra,
memperkenalkan metode grounded
dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial, memberikan
inspirasi bagi munculnya karya-karya seni kreatif yang baru, baik di
bidang sastra, seni rupa, maupun seni pertunjukan, mendirikan pasar
seni di kampus, dan sebagainya. [2]
Ia juga pernah
memerankan Presiden Soekarno,
pada film Pengkhianatan
G 30 S/PKI.
Umar Kayam wafat
pada 16 Maret
2002 setelah
menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan
seorang istri dan dua anak.
Synopsis
Sang Pemimpi karya Andrea Hirata
Buku
ini menceitakan tentang kelanjutan para Laskar Pelangi dari SD
Muhammadiyah yang rela melanjutkan sekolahnya sampai keluar dari
kampungnya. Novel ini menceritakan lika-liku kehidupan Ikal, Arai,
dan Jimbron dalam menggapai cita-citanya untuk menempuh pendidikan
dan ilmu yang banyak. Buku ini diceritakan bermula saat Arai dijemput
oleh Ikal dan ayahnya dari rumah lamanya karena ia ditinggal mati
oleh kedua orang tuanya. Dan kini ia menjadi anak yatim piatu. Ia
merupakan keturunan terakhir dari keluarganya yang biasa disebut
Simpai Keramat. Aria merupakan sosok yang tidak mudah untuk menyerah.
Di kampung Ikal dan Arai selalu bersama. Disana ia bertemu dengan
Jimbron anak angkat dari pendeta Geovani. Sama dengan Arai, ia juga
yatim piatu karena ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Yang
akhrinya ia di adopsi oleh pendeta Geovaniu tersebut.
Setelah
lulus smpa, mereka melanjutkan sekolah ke SMA Tanjung Pandan. Sekolah
negeri yang jaraknya ratusan kilometer jauhnya dari kampung halaman
mereka. Karena di kampung mereka belum ada sma. Di sma ini,
petualangan mereka baru saja dimulai. Mulai dari dikejar-kejar oleh
Pak Mustar, dihukum beradegan seperti dalam film yang terlarang untuk
ditonton, jatuh cinta pada Zakia Nurmala namun selalu bertepuk
swebelah tangan, menjadi kuli ngambat untuk membiayai sekolah, sampai
mendudukkan Ayah Ikal di garda belakang karena keputusasa-an oleh
mimpi-mimpi mereka. Sampai akhirnya mereka selesai menempuh
pendidikan selama tiga tahun dengan prestasi yang membanggakan. Dan
ini menjadi pemicu semangat untuk meraih mimpi. Dimulai dengan kuliah
di Jakarta.
Sesampainya
di Jakarta, perjala tidak begitu mulus. Mereka harus bersusah payah
untuk menemukan tempat tinggal. Sampai akhirnya Ikal dan Arai tinggal
di kontrakan kecil di belakang kampus IPB. Saat itu, mereka lebih
memilih untuk brjuang guna bertahan hidup di Jakarta. Keinginan untuk
melanjutkan kuliah mereka urungkan terlebih dahulu. Menjadi sales
sendok mereka jalani, sampai mereka bekerja di tempat fotokopian.
Saat bekerja, ada lowongan menarik bagi mereka. Yaitu seleksi kerja
di PT POS Indonesia. Merekapun ikut dalam tes tersebut. Namun pada
saat tes kesehatan, Arai tidak lolos dalam seleksi, hanya
meninggalkan Ikal. Dan pada akhirnya Ikal pun di terima menjadi
pegawai pos. arai yang merasa tidak enak hidup menumpang dan
menganggur akhirnya memilih pergi meninggalkan Ikal sendiri di
Jakarta. Sampai akhirnya Ikal selesai menempuh pendidikan S1 nya
jurusan ekonomi di UI. Pada suatu saat, ia melihat ada lowongan
beasiswa kuliah ke luar negeri, iapun ikut dalam tes tersebut.
Setelah sesi wawancara dan tes selesai, tanpa sengaja ia bertemu
dengan Arai kembali. Ternyata Arai kuliah di Kalimantan dan bekerja
disana. Setelah bercerita, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke
kampung halamannya sambil menunggu hasil kelulusan tes beasiswa itu.
Akhirnya surat hasil tes itu pun datang ke rumah Ikal dan Arai.
Mereka berencana membacanya sehabis maghrib. Di damping ayah ibunya,
Ikal membuka dan membaca hasil pengumumannya. Lolos. Ia lolos dalam
seleksi tersebut. Sementara Arai, sambil mendekap foto orang tuanya,
sehabis membaca Al-quran ia membaca sambil meneteskan air matanya.
“aku lolos”, katanya. Dan dari kerja keras yang begitu lamanya,
akhirnya mereka memetik buah yang mereka tana sendiri. University de
Paris, sorbone, Perancis, mereka akan datang.
Komentar
Novel
ini menjadi best
seller
karena memang sangat bagus cerita yang di angkat oleh Andrea Hirata
ini. Bahasa yang digunakan pun mudah untuk dipahami isi dan
maksudnya. Dalam setiap mozaik
dalam novel ini selalu tersimpan pesan-pesan yang membangun dan
menggugah semangat, khususnya semangat dalam menghadapi cobaan hidup
untuk menggapai cita-cita yang diimpikan. Seperti mereka harus rela
-sekolah menengah atas- keluar dari kampung halamannya yang berjarak
ratusan kilometer, harus rela menjadi kuli ngambat di pasar guna
membiayai hidup mereka sendiri, dan masih banyak lagi teladan yang
bisa kita ambil dari novel ini. Novel ini menjelaskan bagaimanapun
keadaan dan halangan yang kita hadapi semuanya akan berujung bahagia
jika kita mampu melewatinya. Namun juga harus ada kerja keras dan
semangat dalam meraih mimpi-mimpi itu sendiri, meskipun kadang mimpi
itu terasa amat khayal untuk kita gapai. Namun dengan tekad yang
bulat dan motivasi yang tinggi kita pasti bisa untuk menggapai dan
meraih puncak tertinggi pada mimpi kita.
Biografi
Pengarang
ANDREA
HIRATA
Andrea Hirata Seman
Said Harun
(lahir di pulau
Belitung, 24
Oktober 1982;
umur 29 tahun) adalah seorang penulis Indonesia
yang berasal dari pulau
Belitung, provinsi Bangka
Belitung. Novel
pertamanya adalah novel Laskar
Pelangi
yang merupakan buku pertama dari tetralogi novelnya, yaitu :
Selain Tetralogi
laskar pelangi, Andrea juga menghasilkan karya lain, yaitu Padang
Bulan & Cinta di Dalam Gelas yang terbit tahun 2010.
Meskipun studi mayor
yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika,
kimia, biologi, astronomi--dan tentu saja sastra. Andrea lebih
mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi
dan backpacker.
Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye
Gompa, desa di Himalaya.
Andrea berpendidikan
ekonomi di Universitas
Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni
Eropa untuk studi master
of science di Universite
de Paris, Sorbonne,
Perancis dan
Sheffield
Hallam University, United
Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi
telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut
dan ia lulus cum
laude.
Tesis itu telah diadaptasikan ke dalam Bahasa
Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama
yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai
referensi Ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung
dan masih bekerja di kantor pusat PT
Telkom.
Synopsis
Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo
Novel
ini menceritakan tentang perjuangan anak-anak kampong Genteng dalam
menenmpuh pendidikan. Lika-liku da haling rintangan yang mereka
hadapi untuk bisa mencicipi bangku sekolah yang menurut sebagian
besar warga kampong hanya menghabiskan uang saja, lebih baik mereka
membantu kedua orang tua untuk mencari nafkah untuk melanjutkan
kehidupan. Karena kehidupan mereka berada dibawah garis kemiskinan.
Untuk makan sehari saja mereka kekuarangan, apalagi harus
membiayaisekolah. Sedangkan pekerjaan kedua orang tua mereka hanyalah
seorang pemerah susu sapi, pembersih kandang, dan memberi makan
ternak-ternak milik orang paling kaya di desa mereka. Mereka adalah
Pambudi, Pepeng, dan Yudi. Ketiga anak alam ini yang belum pernah
memakan bangku sekolahan karena ketidakadaan biaya.
Namun,
Faisal. Teman ketiga anak alam itu mencoba mempengaruhi
teman-temannya untuk mengikuti jejaknya. Yaitu bersekolah. Awalnya
mereka tidak mau, namun setelah di bujuk dan mereka sadar ingin
sekolah, akhirnya mereka bertiga sepakat untuk bersekolah, meskipun
harus bekerja keras untuk membantu membiayai sekolah. Sampai
berjualan pisang goring di kelas, berjualan Koran, kuli angkut kelapa
dari dini hari sampai waktu sekolah tiba. Sebelumnya mereka bertiga
meremehkan sekolah. Namun setelah mereka bertemu bu Mutia-guru kelas
1 sd- mereka, baru sadar bahwa belajar itu penting. Karena tanpa ilmu
mereka bisa mudah ditipu oleh orang yang lebih pintar.
Di
sekolah, salah satu dari anak alam ini menemukan sosok yang sangat di
kaguminya. Kania. Gadis kecil, cantik dan pemberani itu di taksir
oleh Pambudi. Mereka mengira Kania merupakan anak orang berada,
karena cantik, bersih dan pandai. Namun setelah di selidiki oleh
Pambudi, kehidupannya sama dengan keluarganya dan juga
teman-temannya. hany a karena cita-cita, semangat dan keyakinan bisa
membuat dia berjalan dan terus melangah dari kerasnya kehidupan saat
ini. Dai itu membuat Pambudi semakin jatuh hati kepada Kania. Karena
selain sebagai wanita yang hebat, kania juga sosok yang dikaguminya.
Karena dengan berilmu, kita bisa menakklukkan rintangan kehidupan
dengan ilmu. Seperti saat Faisal bercita-cita untuk menciptakan
kampungnya agar warganya tidak terus di perbudak oleh Yok Bek selam
hidup mereka. Warga Kampung Genteng harus berubah.
Dan
pada akhirnya, setelah melalui proses dan tahapan-tahapan yang tidak
mudah, akhirnya para warga Kampung Genteng menjadi sadar akan
pentingnya pendidikan. Bahkan, Pak Cokro, yang dulunya sebagai dukun,
kini mengubah tempat prakteknya menjadi Taman Baca bagi penduduk
Kampung Genteng. Dan Faisal terus melanjutkan pekerjaannya sebagai
guru bantu termuda setiap hari Minggu di Balai Desa tempat
tinggalnya.
Komentar
Menurut
saya, novel karya Wiwid ini sangat menarik dan bagus. Dia berusaha
mengangkat tema social yang ada di dalam masyarakat saat ini. Yaitu
dimana pendidikan hanya dapat diikmati oleh kalangan yang memiliki
uang banyak. Sedangkan orang dengan penghasilan minimum hanya bisa
menjadi objek untuk dibodohi dan hanya menjadi babu bagi orang pintar
dan orang berduit saja. Namun dalam novel ini, menceritakan kegigihan
anak-anak desa yang ingin mengenyam pendidikan agar tidak mudah
tertipu dan bisa mengangkat harkat dan martabat, meskipun umur mereka
sudah melebihi anak-anak lain yang masuk sekolah kelas satu sekolah
dasar. Ini menggambarkan sejatinya anak-anak Indonesia meskipun
kurang mampu sebenarnya mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk
belajar. Untuk meraih cita-cita yang diinginkan. Dengan semua kerja
keras dan keinginan yang bulat semua yang tidak mungkin akan menjadi
mungkin, asalkan mempunyai kemauan dan kerja keras.
Novel
ini bertujuan ingin menggugah para orang untuk sadar dan peduli
terhadap nasib saudara-saudara kita yang kurang beruntung dalam
bidang ekonomi dan pendidikan. Juga mengkritik secara halus dan indah
kepada pemerintah yang kurang serius menanggapi polemik dalam hal
mencerdaskan kehidupan bangsa dan peningkatan sumberdaya manusia.
Biografi
Pengarang
WIWID
PRASETYO
Wiwid
Prasetyo atau sering juga menulis dengan nama
Prasmoedya Tohari, lahir pada 9 November 1981 di Semarang. Alumnus
Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, tahun 2005 ini
sehari-harinya aktif di Majalah FURQON, PESANTrend,
Si Dul (majalah anak-anak), serta tabloid Info Plus
Semarang, baik selaku redaktur maupun reporter. Selain itu, ia juga
peduli terhadap dunia pendidikan, terbukti masih menjadi pengajar di
Bimbingan Belajar Smart Kids Semarang.
Di sela-sela
kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya
dalam bentuk buku. Beberapa karyanya yang sudah terbit adalah Orang
Miskin Dilarang Sekolah (DIVA Press, 200), Sup Tujuh Samudra
(Bersama Badiatul Rozikin, DIVA Press, 2009), Chicken Soup
Asma’ul Husna (Garailmu, 2009), dan Miskin Kok Mau
Sekolah…?! (DIVA Press, 2009), Idolaku Ya Rasulullah Saw…!
(DIVA Press, 2009), Demi Cintaku pada-Mu (DIVA Press, 2009),
Aha, Aku Berhasil Kalahkan Harry Potter (DIVA Press, 2010),
The Chronicle of Kartini (DIVA Press, 2010), dan Nak,
Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu (DIVA Press, 2010).
Synopsis
Perahu Kertas karya Dewi Lestari
Bermula
dari Keenan yang baru saja datang dari Belanda setelah sekian lama ia
sekolah disana bersama dengan Omanya. Hari ini Keenan kembali ke
Indonesia dengan naik pesawat terbang. Sebelumnya ayah Keenan tidak
setuju dengan rencana Keenan yang melanjutkan sekolah ke Amsterdam
Belanda, karena keinginan Keenan untuk menjadi seorang seniman akan
menuju jalan yang lapang. Karena, Ayah Keenan mempunyai kenangan
sendiri dengan dunia seni yang membuatnya sakit hati jika
mengingatnya. Dan itu menjadi masa lalunya.
Hari
itu, Keenan sudah sampai di Indonesia dan di jemput oleh keluarganya,
Ayah, Ibu, dan … adiknya Keenan. Setelah mereka berkumpul, selang
berapa hari, keluarga Keenan harus kembali melepas kepergiannya
karena ia harus menempuh pendidikannya di Fakultas Ekonomi di Bandung
sesuai dengan keinginan orangtuanya, khususnya ayahnya. Ia pun pergi
setelah ia menyiapkan semua perlengkapannya. Dengan berat hati ia
pergi meninggalkan kembali orang tuanya dan memulai menempuh
pendidikan yang sebenarnya ia tidak suka, karena sesungguhnya ia
memilih menjadi seorang seniman.
Sampai
disana, di stasiun bandung ia bertemu dengan cewek unik yang bernama
Kugy. Teman dari keponakannya yang bernama Eko. Kugy adalah seorang
yang unik, yang menggemari dongen sejak ia kecil, dan bercita-cita
menjadi seorang penulis dongeng yang terkenal dan hebat. Kugy
merupakan kawanan dari saudara Keenan yang bernama Eko tersebut.
Pertemuan mereka sangat tidak disengaja. Keenan tak pernah menyangka
akan bertemu dengan Kugy, cewek aneh yang menyebut namanya melalui
pengeras suara yang ada di stasiun. Ternyata, Kugy pun melanjutkan
kuliah di universitas yang sama dengan Keenan, mengambil jurusan
sastra. Karena cita-citanya memang menjadi seorang penulis.
Lambat
laun, Keenan dan Kugy merasa cocok dengan keanehan yang mereka miliki
masing-masing. Juga disebabkan karena mereka berada dalam satu
kelompok orang-orang aneh yang terdiri dai, Keenan, Kugy, Eko, dan
Noni yang menjadi pacar dari Eko. Mereka berempat sering jalan
bersama, keluar beramai-ramai. Mulai keluar untuk menonton film di
bioskop, makan di warung pemadam kelaparan. Dan itu membuat Keenan
dan Kugy semakin dekat dan akrab, serta timbul rasa-rasa yang aneh
diantaranya. Namun mereka tak mungkin menjalin cinta kerena Kugy
sudah memiliki kekasih yang bernama Ojos. Sedangkan Keenan memiliki
kekasih bernama Wanda.
Persahabatan
mereka mulai merenggang sejak kejadian tersebut. Untuk menutupi rasa
tidak nyamannya, Kugy pun memilih untuk menyibukkan diri untuk
membantu mengajar anak-anak kampung. Sakola Alit, nama tempat Kugy
dan ketiga temannya mengajar di daerah Bandung. Ia mengajar pada
kelas satu yang ia beri nama pasukan Alit. Ia pun mengarang cerita
yang terisnpirasi oleh para anak didiknya tersebut. Munculah karya
Kugy yang berjudul Jendral Pilik dan Pasukan Alit yang ditulis dalam
sebuah buku tulis yang kelak akan diberikan untuk Keenan saat hari
ulang tahunnya.
Kedekatan
Keenan dengan Wanda awalnya berjalan mulus. Namun pada suatu malam
dalam acara yang diadakan oleh Wanda, ia sangat sakit hati dengan
wanita tersebut. Mimpi-mimpinya menjadi pelukis besar mulai runtuh
saat ia tahu kejadia yang sebenarnya terjadi terhadap karya lukisnya
yang ternyata dibeli sendiri oleh Wanda agar Keenan merasa bangga dan
bahagia. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan Wanda, Jakarta, dan
Bandung untuk pergi ke Ubud tinggal bersama keluarganya di Bali
bersama Pak Wayan.
Selama
tinggal bersama Pak Wayan, seorang pelukis tersohor di Bali, ia
kembali menemukan jalannya untuk kembali melukis. Dengan buku serial
yang diberikan Kugy kepadanya, ia melukiskan lukisan serial
berdasarkan cerita dari Kugy. Sehingga lukisannya banyak yang mencari
dan diburu oleh para kolektor.
Merasa
tidak nyaman berada di Bandung, Kugy pun berniat untuk segera
menyelesaikan kuliahnya dan mencari pekerjaan untuk menghilangkan
kepenatannya. Di Bandung ia tidak nyaman karena persahabatannya mulai
tidak seperti dulu lagi. Akhirnya, setelah lulus kuliah ia kembali ke
Jakarta dan mencari pekerjaan disana, sampai ia diterima di sebuah
perusahaan advertising dan bekerja sebagai copywriter. Di sana ia
bertemu dengan Remigius, atasan sekaligus sahabatnya.
Remi
merasa ada yang istimewa dari dalam diri Kugy yang menyebabkan ia
menjadi jatuh hati kepadanya. Salain ia istimewa, pekerjaannya di
kantor pun sangat bagus. Ia mengeluarkan ide-ide kreatifnya yang
menjadikannya sangat diperhitungkan di dalam lingkungan kerjanya.
Dalam waktu dekat ia telah menjadi orang penting di dalam perusahaan
tersebut. Remi pun tak menyangkal kalau ia jatuh hati dan kugy pun
melihat ketulusan Remi dan akhirnya meluluhkan hati Kugy.
Keenan tidak bisa
tinggal lama di Ubud. Ia harus kembali ke Jakarta karena ia mendengar
kabar bahwa ayahnya sedang mengalami sakit keras, dan ia harus pulang
karena ia satu-satunya nama yang disebut ayahnya ketika ia sedang
sakit keras. Keenan pun pulang di jemput oleh mamanya. Sesampainya di
Jakarta ia menggantikan papanya untuk bekerja di kantor yang di
pimpinnya, dan menjadi seorang direktur perusahaan tersebut sampai
papanya kembali sehat seperti sediakala.
Pertemuan antara
Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu
lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati
mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun
berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya
bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana.
Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali,
di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang
pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.
Diwarnai pergelutan
idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas”
tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan
rumahnya.
Komentar
Cerita
Perahu Kertas ini sangat menarik dan menghibur. Bahasa yang digunakan
pun sangat tidak sulit untuk dipahami. Semuanya memgalir dan sejalan
dan sejiwa karena temanya sangat anak muda sekali. Tidak membuat
pembaca menjadi bosan. Bahkan sangat mungkin saya mau untuk
membacanya berkali-kali. Ceritanya romantic khas anak muda yang
sedang kuliah. Akhir ceritanya pun juga romantic, saat Keenan dan
Kugy bertemu dengan radar Neptunus mereka di pantai saat Keenan
menculik Kugy. Sangat bagus.
Biografi
Pengarang
DEWI LESTARI
Dewi
Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil
Dee lahir di
Bandung,
Jawa
Barat, 20
Januari
1976
adalah seorang penulis
dan penyanyi
asal Indonesia.
Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah
sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media.
Salah satu cerpennya berjudul "Sikat Gigi" pernah dimuat di
buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media
berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan
sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi"
ke majalah
Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia
berhasil mendapat hadiah juara pertama.
Novel pertamanya
yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang
Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar
dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar
ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret
2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk
menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60),
ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa
Inggris.
Sukses dengan novel
pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul
"Akar" pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang
kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu.
Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan
aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover
dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan
ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.
Pada bulan Januari
2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di
novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia
memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra,
tokoh sentral yang ada di novel tersebut.
Lama
tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel
terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik.
Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto
Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi
sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku RECTOVERSO
terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline
dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Pada Agustus
2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar