Senin, 27 Februari 2012

sinopsis "saman" ayu utami


Synopsis Saman karya Ayu Utami

Terdapat empat sekawan dari bernama Shakuntala, Cok, Yasmin dan Laili. Mereka bersahabat dan masih perawan. Daiantar keempat itu, dua diantaranya merasa bimbang untuk menyerahkan keperawanan mereka. Kepada satu lelaki yang mereka kenal dahulu. Saman.
Adalah Laili, berada di sebuah taman bernama Central Park dimana kebebasan itu berada. Di musim semi dimana matahari lebih lama bersinar di hari itu. Hewan-hewan keluar menangkap kehangatan yang diberikan oleh mentari, sehangat kehangatan birahi. Ia berada di sana untuk menunggui seorang yang telah lama ia tunggu. Bersama dengan gelandangan yang tidur seenaknya di bangku taman tanpa peduli dengan keadaan yang ada disekitarnya. Kita tidak tahu dari mana dia, apa warna kulitnya dan mimpi apa dia, yang kita tahu hanyalah ia sedang menikmati tidur pulasnya sambil mengeliat. Dan ia tahu ia juga sedang menikmati hari itu, karena ia akan pacaran. Bercumbu dengan kekasih yang telah lama ia nanti. Tanpa ada orang tua, dosa, dan para penegak hokum. Karena di taman ini, kebebasan adalah segalanya. Tanpa dosa tanpa malu. Kawin setiap mengenal birahi. Di tempat ini tak ada orang yang tahu kecuali gembel itu, jika aku sedang menunggu Sihar. Mantan pastor, yang kini menjadi aktivis untuk orang miskin dan menjadi buronan penguasa orde baru.
Sudah jam sepuluh pagi. Semakin lama menunggu ia semakin kangen kepadanya. Dengan aroma tubuhnya, pelukan hangatnya, juga kepada bau tembakau dari mulutnya. Meskipun ia merokok, namun ia menghormati perempuan. Dan kalau ia datang akan kutunjukan betapa kangennya aku padanya. Ingin rasanya menikmati taman ini. Karena disini tak ada orang yang tahu, hanya gembel itu. Setelah 420 hari menunggu dari hari terkhir ia bertemu, aku selalu menghitung dimana keinginan itu agar kesempatan itu menjadi mungkin dan ia berharap hari ini menjadi mungkin.
Mereka berada dalam satu kamar hotel dengan lelaki itu. Hatinya bergetar. Ia tak pernah sekamar dengan seorang lelaki dan ia akan kawin hari itu. Ia tak tahu apakah lelaki itu pernah membawa perempuan dalam satu kamar seperti ini. Karena ia adalah pekerja tambang minyak yang harus bekerja di laut dalam hutan dan berpisah dari istri. Dan seorang yang beristri tak bisa jika tidak begitu. Karena ia adalah pekerja di kilang minyak. Mungkin hanya dengan wanita-wanita desa di balik warung-warung dengan tembok berlumut melampiaskan birahinya. Dan kini ia berada dalam satu kamar dengan lelaki itu. Dan keindahan tak harus dinamai bukan?

Komentar
Sangat menarik cerita yang diangkat oleh Ayu Utami ini. Mengangkat sisi lain dari kehidupan sosial yang ada di Indonesia. Dimana saat itu kebebasan dan penindasan bagi kaum kurang kaya mulai ada sejak jaman orde baru. Orang dengan kekuasaan mencoba mendapat untung dari jabatan yang ia emban dan menipu banyak orang. Khususnya orang di daerah pedalaman yang pendidikan yang di enyamnya kurang. Karena mereka mudah sekali untuk ditipu dan dimanfaatkan. Hanya dengan janji-janji dari omongan busuk mereka bisa memperdayai dan menghasut orang lain agar berkawan dengan kebajingan para penguasa orde baru pada saat itu. Selain mengangkat tentang penindasan warga miskin di daerah pedalaman, Ayu Utami juga mengangkat bagaimana kehidupan perempuan pada saat itu. Yaitu keinginan perempuan untuk kebebasan. Sperti yang diceritakan dalam novel, Laili ingin melepas keperawanannya kepada orang yang ia cintai meskipun ia telah mempunyai istri. Sampai-sampai ia rela mengambil keputusan yang sangat mendadak tanpa ada pemikiran terlebih dahulu, hanya untuk bisa bercumbu atas birahi yang ia miliki. Dalam cerita Saman ini, unsur cerita berbau seks sangat kental terasa. Seperti pada cerita halaman-halaman terakhir dimana Yasmin dan Sihar saling berkirim email. Membayangkan saat mereka pertama berhubungan dan bercumbu. Menarik karena Ayu Utami berani menceritakan sebuah cerita yang isinya tentang seks. Bukan berarti apa-apa namun hanya sebagai buah dari penglihatannya di masyarakat dan mencoba menguak kehidupan wanita Indonesia pada saat itu.




Biografi Pengarang:
AYU UTAMI


Saman adalah novel pertama karya Ayu Utami yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia pada bulan April 1998. Novel ini adalah novel pertama yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia.
Novel ini pada awalnya direncanakan sebagai fragmen dari novel pertama Ayu Utami, Laila Tak Mampir di New York. Saman mengambil seting Indonesia tahun 80-an dan 90-an, di mana para tokohnya saling berinteraksi di tengah kondisi sosial, politik dan budaya Indonesia pada masa itu. Tokoh utamanya adalah Saman (seorang mantan pastur yang bernama Athanasius Wisanggeni) dan empat perempuan yang bersahabat dari SMP sampai mereka dewasa, yaitu Yasmin Moningka, Shakuntala, Cokorda, dan Laila. Saman memenangkan Sayembara Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998.


Synopsis Para Priyayi karya Umar Kayam

Wanagalih adalah sebuah ibukota kabupaten. Kota itu lahir sejak pertengahan abad ke-19. Di kota itu Lantip sering teringat akan Mbah guru Sastrodarsono yang selalu memberikan nasihat pada seisi rumah setiap kali ia pulang dari pertemuan pagi. Pada waktu hari semakin terang iring-iringan penjual berbagai dagangan semakin ramai menuju pasar, suara “cring-cring-cring” dari dokar yang ditarik kuda semakin sering dan bising pertemuan para pensiunan itu akan bubar, masing-masing akan pulang ke rumah untuk menyeropot kopi panas, mengganyang pisang goreng dan ubi rebus untuk kemudian disusul dengan mandi pagi dengan air hangat dan istirahat tidur atau duduk di kursi goyang.
Hubungan Embok Lantip dengan keluarga Sastrodarsono itu dimulai dari penjualan tempe. Rupanya tempe buatan Embok Lantip itu berkenan di hati keluarga Sastrodarsono. Buktinya kemudian tempe Embok itu jadi langganan keluarga tersebut. Sejak itu rumah keluarga Sastrodarsono menjadi tempat persinggahan mereka, hubungan mereka dengan keluarga itu menjadi akrab, bahkan lama-lama rumah itu menjadi semacam rumah kedua bagi mereka. Tetapi sangatlah tidak pantas rumah gebyok itu terlalu besar dan bagus untuk dikatakan rumah kedua mereka bila disejajarkan dengan rumah mereka yang terbuat dari gedek atau anyaman bambu di desa Wanalawas. Juga bila diingat bahwa rumah itu adalah rumah milik seorang priyayi, seorang mantri guru sekolah desa, yang pada zaman itu mempunyai kedudukan cukup tinggi di mata masyarakat seperti Wanagalih. Mantri guru sudah jelas didudukan masyarakat dan pemerintah sebagai priyayi, ia punya jabatan dan juga punya gaji. Rezeki dan pangkat itu jangan dimakan sendiri, tidak pantas, saru, bila ada seseorang anggota keluarga besar priyayi sampai kleleran, terbengkalai, jadi gelandangan, tidak menikmati pendidikan. Begitu sang Ndoro Guru menasehati anak-anaknya.
Karena sudah beranjak umur enam tahun dan sudah waktunya untuk sekolah, Wage atau Lantip pun disuruh mboknya untuk tinggal bersama keluarga sastrodarsono untuk disekolahkan ke sekakel. Tak terasa lantip sudah kelas lima sekolah dasar dan sebentar lagi akan melanjutkan sekolah dan membalas budi emboknya. Namun kabar tidak mengenakkan datang. Emboknya meninggal dunia karena keracunan jamur. Sangat terpukul hati lantip mendengar kabar tersebut.
Sastrodarsono, adalah anak tunggal Mas Atmokasan seorang anak petani desa Kedung Simo. Sebelumya ia hanya bekerja sebagai guru bantu di Ploso. Dengan janbatan guru bantu itu, berarti Sastrodarsono adalah orang pertama dalam keluarganya yang berhasil menjadi priyayi. Sastrodarsono dijodohkan dengan Ngaisah yang nama aslinya Aisah putri tunggalnya seorang mantri candu di Jogorogo. Dik Ngaisah, begitu ia memanggil istrinya, ia seorang istri yang mumpunyai lengkap akan kecakapan dan keprigelannya bukan hanya pandai mamasak ia juga memimpin para pembantu di dapur, karena memang sejak lahir ia sudah menjadi anak priyayi dibandingkan dengan Sastrodarsono yang baru akan menjadi priyayi. Mereka tinggal setahun di Ploso yang kemudian membeli rumah kecil di jalan Satenan. Segera setelah mereka menempati rumah itu, Mereka dengan para pembantunya mulai mengembangkan tempat tinggal itu sebagaimana rumah tangga yang mereka inginkan yaitu rumah tangga priyayi. Akan tetapi bagaimanapun, naluri petani Sastrodarsono, dan juga Dik Ngaisah masih hadir juga dalam tubuh mereka. Mereka memilih untuk menggaji para buruh-buruh sawah untuk mengolah tegalan dan sawah yang ada di belakang rumahnya berbagai macam tanaman. Walaupun rumah tangga priyayi, mereka tidak boleh tergantung pada gaji. Jadi priyayi itu adalah orang yang terpandang bukan karena kekayaanya namun juga karena kepandaiannya.
Soenandar, yang masih kemenakan Dik Ngaisah mempunyai sifat yang sangat buruk walaupun berkali-kali sering dipukuli oleh Sastrodarsono dengan bambu agar kapok akan perbuatannya yang sering mencuri, dia juga sering mengganggu Sri dan Darmin saat mereka sedang sembahyang. Soenandar yang jatuh cinta pada Ngadiyem ternyata adalah ayah Lantip, tetapi ia tidak mau mengakui kahamilan Ngadiyem Emboknya Lantip, bahkan ia minggat meninggalkan rumah Sastrodarsono yang akhirnya dapat diketahui dari laporan mantri polisi, Soenandar bergabung dengan gerombolan perampok yang dipimpin oleh Samin Genjik yang markasnya telah dibakar termasuk Seonandar yang dititipkan keluarganya kepada Sastrodarsono untuk menjadi priyayi juga hangus terbakar. Semenjak Lantip mengetahui perihal ayahnya, ia merasa kecewa dan malu karena ia hanya anak jadah dan haram meskipun jelas bapaknya tetapi tidak mau menikah dengan Emboknya. Ternyata bapaknya adalah gerombolan perampok. Selain itu, Lantip juga mengerti kenapa keluarga Sastrodarsono sangat peduli. Karena Soenandar adalah bagian dari keluarganya.
Sepeninggalannya Mbah putri kesehatan Eyang kakung semakin memburuk yang aampai akhirnya ia meninggal dunia. Dalam upacara sambutan selamat tinggal untuk Mbah kakung Sastrodarsono semua anggota keluarga Sastrodarsono tidak ada yang berani memberikan pidato kata-kata terakhir, pada akhirnya Lantip yang dijadikan wakil dari keluarga besar Sastrodarsono yang menyampaikan pidato selamat jalan kepada Embah kakung di makam itu. Lantip teringat akan Mboknya dan ia pun menggandeng Halimah untuk pergi ke Wanalawas untuk berziarah ke makam Mboknya.

Komentar
Menurut saya ceritanya sudah bagus untuk dibaca. Namun bagi saya sendiri sedikit membingungkan. Namun terdapat pesan moral yang bisa saya tangkap dari cerita ini. Yaitu bagaimana sifat Lantip yang pintar dan sayang dengan orang tuanya khususnya emboknya. Juga kehidupan priyayi yang mengayomi masyarakat yang kurang mampu untuk saling bekerja sama yang saling menguntungkan. Serta melihat kejadian-kejadian dimana di novel di ceritakan adanya kejadian hamil diluar nikah. Sedangkan mereka adalah keluarga priyayi yang terpandang di masyarakat. Namun apapun masalah yang ada di dalam cerita ini dapat di selesaikan dengan baik semua. Karena di setiap masalah pasti ada jalan keluarnya. Setelah mengkaji isi cerita yang berjudul Para Priyayi, maka penulis dapat mengambil kesimpulan tema dari novel itu adalah menceritakan orang-orang yang berhasil dalam pendidikan dan pekerjaannya dalam pemerintah dan mempunyai kedudukan di masyarakat. Orang-orang terpandang kedudukannya di masyarakat. Lantip berusaha keras agar dirinya menjadi sukses walaupun bapaknya merupakan seorang berandalan. Ia tidak terpengaruh dengan status yang dimiliki oleh ayahnya. Dengan itu bahkan Lantip berusaha tidak ambil pusing dengan hal itu, bahkan ia lebih berusaha untuk tidak memikirkan hal tersebut guna menyenangkan hati emboknya. Itu adalah pelajaran yang harus kita ambil.

Biografi Pengarang
UMAR KAYAM
Umar Kayam (dalam konteks percakapan antar teman biasa disapa UK), lulus sarjana muda di Fakultas Pedagogik Universitas Gadjah Mada (1955), meraih M.A. dari Universitas New York, Amerika Serikat (1963), dan meraih Ph.D. dari Universitas Cornell, Amerika Serikat (1965). Ia pernah menjabat Direktur Jenderal Radio, Televisi, dan Film Departemen Penerangan RI (1966-1969), Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), Diektur Pusat Latihan Ilmu-ilmu Sosial Universitas Hasanudin, Ujungpandang (1975-1976), anggota MPRS (Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara), dosen Universitas Indonesia, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, Jakarta, senior fellow pada East-West Centre, Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat (1973), Ketua Dewan Film Nasional (1978-1979), Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, anggota penyantun/penasihat majalah ''Horison'' (mengundurkan diri sejak 1 September 1993), bersama-sama dengan Ali Audah, Arif Budiman, Goenawan Mohamad, Aristides Katopo, Direktur Pusat Penelitian Kebudayaan Universitas Gadjah Mada (1977-), Ketua Lembaga Pendidikan Kesenian Jakarta (1981-) anggota Akademi Jakarta (1988-seumur hidup). [1]
Umar Kayam termasuk yang banyak melakukan terobosan dalam banyak bidang kehidupan yang melibatkan dirinya. Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Gadjah Mada, ia dikenal sebagai salah seorang pelopor dalam terbentuknya kehidupan teater kampus. Ketika menjadi Dirjen Radio dan Televisi, ia dikenal sebagai tokoh yang membuat kehidupan perfilman menjadi semarak. Sewaktu menjadi Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1969-1972), dia mempelopori pertemuan antara kesenian modern dengan kesenian tradisional. Pada saat menjadi dosen di almamaternya, ia mengembangkan studi sosiologis mengenai sastra, memperkenalkan metode grounded dengan pendekatan kultural untuk penelitian sosial, memberikan inspirasi bagi munculnya karya-karya seni kreatif yang baru, baik di bidang sastra, seni rupa, maupun seni pertunjukan, mendirikan pasar seni di kampus, dan sebagainya. [2]
Ia juga pernah memerankan Presiden Soekarno, pada film Pengkhianatan G 30 S/PKI.
Umar Kayam wafat pada 16 Maret 2002 setelah menderita patah tulang paha pangkal kiri. Umar Kayam meninggalkan seorang istri dan dua anak.


Synopsis Sang Pemimpi karya Andrea Hirata

Buku ini menceitakan tentang kelanjutan para Laskar Pelangi dari SD Muhammadiyah yang rela melanjutkan sekolahnya sampai keluar dari kampungnya. Novel ini menceritakan lika-liku kehidupan Ikal, Arai, dan Jimbron dalam menggapai cita-citanya untuk menempuh pendidikan dan ilmu yang banyak. Buku ini diceritakan bermula saat Arai dijemput oleh Ikal dan ayahnya dari rumah lamanya karena ia ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Dan kini ia menjadi anak yatim piatu. Ia merupakan keturunan terakhir dari keluarganya yang biasa disebut Simpai Keramat. Aria merupakan sosok yang tidak mudah untuk menyerah. Di kampung Ikal dan Arai selalu bersama. Disana ia bertemu dengan Jimbron anak angkat dari pendeta Geovani. Sama dengan Arai, ia juga yatim piatu karena ditinggal mati oleh kedua orang tuanya. Yang akhrinya ia di adopsi oleh pendeta Geovaniu tersebut.
Setelah lulus smpa, mereka melanjutkan sekolah ke SMA Tanjung Pandan. Sekolah negeri yang jaraknya ratusan kilometer jauhnya dari kampung halaman mereka. Karena di kampung mereka belum ada sma. Di sma ini, petualangan mereka baru saja dimulai. Mulai dari dikejar-kejar oleh Pak Mustar, dihukum beradegan seperti dalam film yang terlarang untuk ditonton, jatuh cinta pada Zakia Nurmala namun selalu bertepuk swebelah tangan, menjadi kuli ngambat untuk membiayai sekolah, sampai mendudukkan Ayah Ikal di garda belakang karena keputusasa-an oleh mimpi-mimpi mereka. Sampai akhirnya mereka selesai menempuh pendidikan selama tiga tahun dengan prestasi yang membanggakan. Dan ini menjadi pemicu semangat untuk meraih mimpi. Dimulai dengan kuliah di Jakarta.
Sesampainya di Jakarta, perjala tidak begitu mulus. Mereka harus bersusah payah untuk menemukan tempat tinggal. Sampai akhirnya Ikal dan Arai tinggal di kontrakan kecil di belakang kampus IPB. Saat itu, mereka lebih memilih untuk brjuang guna bertahan hidup di Jakarta. Keinginan untuk melanjutkan kuliah mereka urungkan terlebih dahulu. Menjadi sales sendok mereka jalani, sampai mereka bekerja di tempat fotokopian. Saat bekerja, ada lowongan menarik bagi mereka. Yaitu seleksi kerja di PT POS Indonesia. Merekapun ikut dalam tes tersebut. Namun pada saat tes kesehatan, Arai tidak lolos dalam seleksi, hanya meninggalkan Ikal. Dan pada akhirnya Ikal pun di terima menjadi pegawai pos. arai yang merasa tidak enak hidup menumpang dan menganggur akhirnya memilih pergi meninggalkan Ikal sendiri di Jakarta. Sampai akhirnya Ikal selesai menempuh pendidikan S1 nya jurusan ekonomi di UI. Pada suatu saat, ia melihat ada lowongan beasiswa kuliah ke luar negeri, iapun ikut dalam tes tersebut. Setelah sesi wawancara dan tes selesai, tanpa sengaja ia bertemu dengan Arai kembali. Ternyata Arai kuliah di Kalimantan dan bekerja disana. Setelah bercerita, mereka berdua memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya sambil menunggu hasil kelulusan tes beasiswa itu. Akhirnya surat hasil tes itu pun datang ke rumah Ikal dan Arai. Mereka berencana membacanya sehabis maghrib. Di damping ayah ibunya, Ikal membuka dan membaca hasil pengumumannya. Lolos. Ia lolos dalam seleksi tersebut. Sementara Arai, sambil mendekap foto orang tuanya, sehabis membaca Al-quran ia membaca sambil meneteskan air matanya. “aku lolos”, katanya. Dan dari kerja keras yang begitu lamanya, akhirnya mereka memetik buah yang mereka tana sendiri. University de Paris, sorbone, Perancis, mereka akan datang.

Komentar
Novel ini menjadi best seller karena memang sangat bagus cerita yang di angkat oleh Andrea Hirata ini. Bahasa yang digunakan pun mudah untuk dipahami isi dan maksudnya. Dalam setiap mozaik dalam novel ini selalu tersimpan pesan-pesan yang membangun dan menggugah semangat, khususnya semangat dalam menghadapi cobaan hidup untuk menggapai cita-cita yang diimpikan. Seperti mereka harus rela -sekolah menengah atas- keluar dari kampung halamannya yang berjarak ratusan kilometer, harus rela menjadi kuli ngambat di pasar guna membiayai hidup mereka sendiri, dan masih banyak lagi teladan yang bisa kita ambil dari novel ini. Novel ini menjelaskan bagaimanapun keadaan dan halangan yang kita hadapi semuanya akan berujung bahagia jika kita mampu melewatinya. Namun juga harus ada kerja keras dan semangat dalam meraih mimpi-mimpi itu sendiri, meskipun kadang mimpi itu terasa amat khayal untuk kita gapai. Namun dengan tekad yang bulat dan motivasi yang tinggi kita pasti bisa untuk menggapai dan meraih puncak tertinggi pada mimpi kita.

Biografi Pengarang
ANDREA HIRATA
Andrea Hirata Seman Said Harun (lahir di pulau Belitung, 24 Oktober 1982; umur 29 tahun) adalah seorang penulis Indonesia yang berasal dari pulau Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya adalah novel Laskar Pelangi yang merupakan buku pertama dari tetralogi novelnya, yaitu :
Laskar Pelangi termasuk novel yang ada di jajaran best seller untuk tahun 2006 - 2007.
Selain Tetralogi laskar pelangi, Andrea juga menghasilkan karya lain, yaitu Padang Bulan & Cinta di Dalam Gelas yang terbit tahun 2010.
Meskipun studi mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika, kimia, biologi, astronomi--dan tentu saja sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain untuk tinggal di Kye Gompa, desa di Himalaya.
Andrea berpendidikan ekonomi di Universitas Indonesia, mendapatkan beasiswa Uni Eropa untuk studi master of science di Universite de Paris, Sorbonne, Perancis dan Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea di bidang ekonomi telekomunikasi mendapat penghargaan dari kedua universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia. Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah. Saat ini Andrea tinggal di Bandung dan masih bekerja di kantor pusat PT Telkom.

Synopsis Orang Miskin Dilarang Sekolah karya Wiwid Prasetyo

Novel ini menceritakan tentang perjuangan anak-anak kampong Genteng dalam menenmpuh pendidikan. Lika-liku da haling rintangan yang mereka hadapi untuk bisa mencicipi bangku sekolah yang menurut sebagian besar warga kampong hanya menghabiskan uang saja, lebih baik mereka membantu kedua orang tua untuk mencari nafkah untuk melanjutkan kehidupan. Karena kehidupan mereka berada dibawah garis kemiskinan. Untuk makan sehari saja mereka kekuarangan, apalagi harus membiayaisekolah. Sedangkan pekerjaan kedua orang tua mereka hanyalah seorang pemerah susu sapi, pembersih kandang, dan memberi makan ternak-ternak milik orang paling kaya di desa mereka. Mereka adalah Pambudi, Pepeng, dan Yudi. Ketiga anak alam ini yang belum pernah memakan bangku sekolahan karena ketidakadaan biaya.
Namun, Faisal. Teman ketiga anak alam itu mencoba mempengaruhi teman-temannya untuk mengikuti jejaknya. Yaitu bersekolah. Awalnya mereka tidak mau, namun setelah di bujuk dan mereka sadar ingin sekolah, akhirnya mereka bertiga sepakat untuk bersekolah, meskipun harus bekerja keras untuk membantu membiayai sekolah. Sampai berjualan pisang goring di kelas, berjualan Koran, kuli angkut kelapa dari dini hari sampai waktu sekolah tiba. Sebelumnya mereka bertiga meremehkan sekolah. Namun setelah mereka bertemu bu Mutia-guru kelas 1 sd- mereka, baru sadar bahwa belajar itu penting. Karena tanpa ilmu mereka bisa mudah ditipu oleh orang yang lebih pintar.
Di sekolah, salah satu dari anak alam ini menemukan sosok yang sangat di kaguminya. Kania. Gadis kecil, cantik dan pemberani itu di taksir oleh Pambudi. Mereka mengira Kania merupakan anak orang berada, karena cantik, bersih dan pandai. Namun setelah di selidiki oleh Pambudi, kehidupannya sama dengan keluarganya dan juga teman-temannya. hany a karena cita-cita, semangat dan keyakinan bisa membuat dia berjalan dan terus melangah dari kerasnya kehidupan saat ini. Dai itu membuat Pambudi semakin jatuh hati kepada Kania. Karena selain sebagai wanita yang hebat, kania juga sosok yang dikaguminya. Karena dengan berilmu, kita bisa menakklukkan rintangan kehidupan dengan ilmu. Seperti saat Faisal bercita-cita untuk menciptakan kampungnya agar warganya tidak terus di perbudak oleh Yok Bek selam hidup mereka. Warga Kampung Genteng harus berubah.
Dan pada akhirnya, setelah melalui proses dan tahapan-tahapan yang tidak mudah, akhirnya para warga Kampung Genteng menjadi sadar akan pentingnya pendidikan. Bahkan, Pak Cokro, yang dulunya sebagai dukun, kini mengubah tempat prakteknya menjadi Taman Baca bagi penduduk Kampung Genteng. Dan Faisal terus melanjutkan pekerjaannya sebagai guru bantu termuda setiap hari Minggu di Balai Desa tempat tinggalnya.

Komentar
Menurut saya, novel karya Wiwid ini sangat menarik dan bagus. Dia berusaha mengangkat tema social yang ada di dalam masyarakat saat ini. Yaitu dimana pendidikan hanya dapat diikmati oleh kalangan yang memiliki uang banyak. Sedangkan orang dengan penghasilan minimum hanya bisa menjadi objek untuk dibodohi dan hanya menjadi babu bagi orang pintar dan orang berduit saja. Namun dalam novel ini, menceritakan kegigihan anak-anak desa yang ingin mengenyam pendidikan agar tidak mudah tertipu dan bisa mengangkat harkat dan martabat, meskipun umur mereka sudah melebihi anak-anak lain yang masuk sekolah kelas satu sekolah dasar. Ini menggambarkan sejatinya anak-anak Indonesia meskipun kurang mampu sebenarnya mereka mempunyai keinginan yang kuat untuk belajar. Untuk meraih cita-cita yang diinginkan. Dengan semua kerja keras dan keinginan yang bulat semua yang tidak mungkin akan menjadi mungkin, asalkan mempunyai kemauan dan kerja keras.
Novel ini bertujuan ingin menggugah para orang untuk sadar dan peduli terhadap nasib saudara-saudara kita yang kurang beruntung dalam bidang ekonomi dan pendidikan. Juga mengkritik secara halus dan indah kepada pemerintah yang kurang serius menanggapi polemik dalam hal mencerdaskan kehidupan bangsa dan peningkatan sumberdaya manusia.

Biografi Pengarang
WIWID PRASETYO
Wiwid Prasetyo atau sering juga menulis dengan nama Prasmoedya Tohari, lahir pada 9 November 1981 di Semarang. Alumnus Fakultas Dakwah IAIN Walisongo, Semarang, tahun 2005 ini sehari-harinya aktif di Majalah FURQON, PESANTrend, Si Dul (majalah anak-anak), serta tabloid Info Plus Semarang, baik selaku redaktur maupun reporter. Selain itu, ia juga peduli terhadap dunia pendidikan, terbukti masih menjadi pengajar di Bimbingan Belajar Smart Kids Semarang.
Di sela-sela kesibukannya, ia masih menyempatkan diri untuk menulis beberapa karya dalam bentuk buku. Beberapa karyanya yang sudah terbit adalah Orang Miskin Dilarang Sekolah (DIVA Press, 200), Sup Tujuh Samudra (Bersama Badiatul Rozikin, DIVA Press, 2009), Chicken Soup Asma’ul Husna (Garailmu, 2009), dan Miskin Kok Mau Sekolah…?! (DIVA Press, 2009), Idolaku Ya Rasulullah Saw…! (DIVA Press, 2009), Demi Cintaku pada-Mu (DIVA Press, 2009), Aha, Aku Berhasil Kalahkan Harry Potter (DIVA Press, 2010), The Chronicle of Kartini (DIVA Press, 2010), dan Nak, Maafkan Ibu Tak Mampu Menyekolahkanmu (DIVA Press, 2010).



Synopsis Perahu Kertas karya Dewi Lestari

Bermula dari Keenan yang baru saja datang dari Belanda setelah sekian lama ia sekolah disana bersama dengan Omanya. Hari ini Keenan kembali ke Indonesia dengan naik pesawat terbang. Sebelumnya ayah Keenan tidak setuju dengan rencana Keenan yang melanjutkan sekolah ke Amsterdam Belanda, karena keinginan Keenan untuk menjadi seorang seniman akan menuju jalan yang lapang. Karena, Ayah Keenan mempunyai kenangan sendiri dengan dunia seni yang membuatnya sakit hati jika mengingatnya. Dan itu menjadi masa lalunya.
Hari itu, Keenan sudah sampai di Indonesia dan di jemput oleh keluarganya, Ayah, Ibu, dan … adiknya Keenan. Setelah mereka berkumpul, selang berapa hari, keluarga Keenan harus kembali melepas kepergiannya karena ia harus menempuh pendidikannya di Fakultas Ekonomi di Bandung sesuai dengan keinginan orangtuanya, khususnya ayahnya. Ia pun pergi setelah ia menyiapkan semua perlengkapannya. Dengan berat hati ia pergi meninggalkan kembali orang tuanya dan memulai menempuh pendidikan yang sebenarnya ia tidak suka, karena sesungguhnya ia memilih menjadi seorang seniman.
Sampai disana, di stasiun bandung ia bertemu dengan cewek unik yang bernama Kugy. Teman dari keponakannya yang bernama Eko. Kugy adalah seorang yang unik, yang menggemari dongen sejak ia kecil, dan bercita-cita menjadi seorang penulis dongeng yang terkenal dan hebat. Kugy merupakan kawanan dari saudara Keenan yang bernama Eko tersebut. Pertemuan mereka sangat tidak disengaja. Keenan tak pernah menyangka akan bertemu dengan Kugy, cewek aneh yang menyebut namanya melalui pengeras suara yang ada di stasiun. Ternyata, Kugy pun melanjutkan kuliah di universitas yang sama dengan Keenan, mengambil jurusan sastra. Karena cita-citanya memang menjadi seorang penulis.
Lambat laun, Keenan dan Kugy merasa cocok dengan keanehan yang mereka miliki masing-masing. Juga disebabkan karena mereka berada dalam satu kelompok orang-orang aneh yang terdiri dai, Keenan, Kugy, Eko, dan Noni yang menjadi pacar dari Eko. Mereka berempat sering jalan bersama, keluar beramai-ramai. Mulai keluar untuk menonton film di bioskop, makan di warung pemadam kelaparan. Dan itu membuat Keenan dan Kugy semakin dekat dan akrab, serta timbul rasa-rasa yang aneh diantaranya. Namun mereka tak mungkin menjalin cinta kerena Kugy sudah memiliki kekasih yang bernama Ojos. Sedangkan Keenan memiliki kekasih bernama Wanda.
Persahabatan mereka mulai merenggang sejak kejadian tersebut. Untuk menutupi rasa tidak nyamannya, Kugy pun memilih untuk menyibukkan diri untuk membantu mengajar anak-anak kampung. Sakola Alit, nama tempat Kugy dan ketiga temannya mengajar di daerah Bandung. Ia mengajar pada kelas satu yang ia beri nama pasukan Alit. Ia pun mengarang cerita yang terisnpirasi oleh para anak didiknya tersebut. Munculah karya Kugy yang berjudul Jendral Pilik dan Pasukan Alit yang ditulis dalam sebuah buku tulis yang kelak akan diberikan untuk Keenan saat hari ulang tahunnya.
Kedekatan Keenan dengan Wanda awalnya berjalan mulus. Namun pada suatu malam dalam acara yang diadakan oleh Wanda, ia sangat sakit hati dengan wanita tersebut. Mimpi-mimpinya menjadi pelukis besar mulai runtuh saat ia tahu kejadia yang sebenarnya terjadi terhadap karya lukisnya yang ternyata dibeli sendiri oleh Wanda agar Keenan merasa bangga dan bahagia. Dengan hati hancur, Keenan meninggalkan Wanda, Jakarta, dan Bandung untuk pergi ke Ubud tinggal bersama keluarganya di Bali bersama Pak Wayan.
Selama tinggal bersama Pak Wayan, seorang pelukis tersohor di Bali, ia kembali menemukan jalannya untuk kembali melukis. Dengan buku serial yang diberikan Kugy kepadanya, ia melukiskan lukisan serial berdasarkan cerita dari Kugy. Sehingga lukisannya banyak yang mencari dan diburu oleh para kolektor.
Merasa tidak nyaman berada di Bandung, Kugy pun berniat untuk segera menyelesaikan kuliahnya dan mencari pekerjaan untuk menghilangkan kepenatannya. Di Bandung ia tidak nyaman karena persahabatannya mulai tidak seperti dulu lagi. Akhirnya, setelah lulus kuliah ia kembali ke Jakarta dan mencari pekerjaan disana, sampai ia diterima di sebuah perusahaan advertising dan bekerja sebagai copywriter. Di sana ia bertemu dengan Remigius, atasan sekaligus sahabatnya.
Remi merasa ada yang istimewa dari dalam diri Kugy yang menyebabkan ia menjadi jatuh hati kepadanya. Salain ia istimewa, pekerjaannya di kantor pun sangat bagus. Ia mengeluarkan ide-ide kreatifnya yang menjadikannya sangat diperhitungkan di dalam lingkungan kerjanya. Dalam waktu dekat ia telah menjadi orang penting di dalam perusahaan tersebut. Remi pun tak menyangkal kalau ia jatuh hati dan kugy pun melihat ketulusan Remi dan akhirnya meluluhkan hati Kugy.
Keenan tidak bisa tinggal lama di Ubud. Ia harus kembali ke Jakarta karena ia mendengar kabar bahwa ayahnya sedang mengalami sakit keras, dan ia harus pulang karena ia satu-satunya nama yang disebut ayahnya ketika ia sedang sakit keras. Keenan pun pulang di jemput oleh mamanya. Sesampainya di Jakarta ia menggantikan papanya untuk bekerja di kantor yang di pimpinnya, dan menjadi seorang direktur perusahaan tersebut sampai papanya kembali sehat seperti sediakala.
Pertemuan antara Kugy dan Keenan tidak terelakkan. Bahkan empat sekawan ini bertemu lagi. Semuanya dengan kondisi yang sudah berbeda. Dan kembali, hati mereka diuji. Kisah cinta dan persahabatan selama lima tahun ini pun berakhir dengan kejutan bagi semuanya. Akhirnya setiap hati hanya bisa kembali pasrah dalam aliran cinta yang mengalir entah ke mana. Seperti perahu kertas yang dihanyutkan di parit, di empang, di kali, di sungai, tapi selalu bermuara di tempat yang sama. Meski kadang pahit, sakit, dan meragu, tapi hati sesungguhnya selalu tahu.
Diwarnai pergelutan idealisme, persahabatan, tawa, tangis, dan cinta, “Perahu Kertas” tak lain adalah kisah perjalanan hati yang kembali pulang menemukan rumahnya.

Komentar
Cerita Perahu Kertas ini sangat menarik dan menghibur. Bahasa yang digunakan pun sangat tidak sulit untuk dipahami. Semuanya memgalir dan sejalan dan sejiwa karena temanya sangat anak muda sekali. Tidak membuat pembaca menjadi bosan. Bahkan sangat mungkin saya mau untuk membacanya berkali-kali. Ceritanya romantic khas anak muda yang sedang kuliah. Akhir ceritanya pun juga romantic, saat Keenan dan Kugy bertemu dengan radar Neptunus mereka di pantai saat Keenan menculik Kugy. Sangat bagus.


Biografi Pengarang
DEWI LESTARI

Dewi Lestari Simangunsong yang akrab dipanggil Dee lahir di Bandung, Jawa Barat, 20 Januari 1976 adalah seorang penulis dan penyanyi asal Indonesia. Sebelum Supernova keluar, tak banyak orang yang tahu kalau Dee telah sering menulis. Tulisan Dee pernah dimuat di beberapa media. Salah satu cerpennya berjudul "Sikat Gigi" pernah dimuat di buletin seni terbitan Bandung, Jendela Newsletter, sebuah media berbasis budaya yang independen dan berskala kecil untuk kalangan sendiri. Tahun 1993, ia mengirim tulisan berjudul "Ekspresi" ke majalah Gadis yang saat itu sedang mengadakan lomba menulis dimana ia berhasil mendapat hadiah juara pertama.
Novel pertamanya yang sensasional, Supernova Satu : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, dirilis 16 Februari 2001. Novel yang laku 12.000 eksemplar dalam tempo 35 hari dan terjual sampai kurang lebih 75.000 eksemplar ini banyak menggunakan istilah sains dan cerita cinta. Bulan Maret 2002, Dee meluncurkan “Supernova Satu” edisi Inggris untuk menembus pasar internasional dengan menggaet Harry Aveling (60), ahlinya dalam urusan menerjemahkan karya sastra Indonesia ke bahasa Inggris.
Sukses dengan novel pertamanya, Dee meluncurkan novel keduanya, Supernova Dua berjudul "Akar" pada 16 Oktober 2002. Novel ini sempat mengundang kontroversi karena dianggap melecehkan umat Hindu. Umat Hindu menolak dicantumkannya lambang OMKARA/AUM yang merupakan aksara suci BRAHMAN Tuhan yang Maha Esa dalam HINDU sebagai cover dalam bukunya. Akhirnya disepakati bahwa lambang Omkara tidak akan ditampilkan lagi pada cetakan ke 2 dan seterusnya.
Pada bulan Januari 2005 Dee merilis novel ketiganya, Supernova episode PETIR. Kisah di novel ini masih terkait dengan dua novel sebelumnya. Hanya saja, ia memasukkan 4 tokoh baru dalam PETIR. Salah satunya adalah Elektra, tokoh sentral yang ada di novel tersebut.
Lama tidak menghasilkan karya, pada bulan Agustus 2008, Dee merilis novel terbarunya yaitu RECTOVERSO yang merupakan paduan fiksi dan musik. Tema yang diusung adalah Sentuh Hati dari Dua Sisi. Recto Verso-pengistilahan untuk dua citra yang seolah terpisah tapi sesungguhnya satu kesatuan. Saling melengkapi. Buku RECTOVERSO terdiri dari 11 fiksi dan 11 lagu yang saling berhubungan. Tagline dari buku ini adalah Dengar Fiksinya, Baca Musiknya. Pada Agustus 2009, Dee menerbitkan novel Perahu Kertas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar