Sabtu, 28 April 2012

AFIKSASI DALAM KAJIAN MORFOLOGI

AFIKSASI DALAM KAJIAN MORFOLOGI


TUGAS INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Morfologi Bahasa Indonesia
Yang dibina oleh Dr. Sumadi M.Pd.



Oleh:
Danang Febrianto         110211413101

Offering B






 










UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
MEI 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penu-lis bisa menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Morfologi. Makalah yang berjudul “Afiksasi Dalam Kajian Morfologi” merupakan persyaratan untuk menyelesaikan tugas serta untuk mengikuti ujian akhir semester genap.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
LATAR BELAKANG
Bahasa merupakan salah satu bagian dari ilmu-ilmu bahasa yang digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi satu sama lain. Terdapat berbagai bahasa khususnya dalam Bahasa Indonesia. Menurut WIBOWO (2009 : 3)
Bahasa adalah suatu sistem symbol bunyi yang bermakna yang berarti kualisi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbiter dan konfisional yang dipakai sebagai alat komunikasi oleh sekelompok orang untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Bahasa Indonesia yang terlihat mudah dari pandangan orang awam memang benar dalam kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataan yang terjadi, masih banyak kesalahan dan kekurangpahaman terhadap Bahasa Indonesia dalam kajian-kajian yang lebih mendalam. Sering ditemui dalam perkatan dan tulisan-tulisan yang ada dikehidupan sehari-hari tanpa disadari kita telah banyak mengucapkan dan menuliskan kata-kata yang dalam kajian ilmu linguistik mempunyai peranan dan kajiannya masing-masing. Namun kurangnya kemampuan dasar dalam pemahaman banyak yang tidak tahu makna dan bagaimana proses pembentukan katanya. Bahkan, masih banyak pengucapan-pengucapan yang kurang tepat atau kurang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Secara umum bahasa adalah sesuatu yang semena-mena dalam pengucapannya. Sering dalam pengucapannya kita jarang melihat mana yang lebih tepat menurut aturan baku. Karena bahasa adalah semena-mena, orang memilih mana yang enak untuk diucapkan dibandingkan mana yang seharusnya wajib dan benar dalam aturan baku.
Morfologi Ramlan (1978:19) menjelaskan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-peruahan bentuk kata terhadap golongan kata dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Morfologi merupakan salah satu kajian linguistik yang membahas masalah berbahasa terdapat berbagai bagian-bagian yang dikaji. Karena dalam bahasa terdapat sub-sub yang membedakan jenis bahasa. Dari sini muncul gagasan untuk lebih memfokuskan pada satu bahasan masalah dalam kajian morfologi tentang afiksasi.
PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian dikhususkan untuk membahas afiksasi.
TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah kali ini yaitu untuk menganalisis dan mengetahui afiksasi dalam bahasa Indonesia.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian antara lain :
Bagi Kepentingan Akademis
Sebagai sumbangan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengem bangan sumber daya manusia dan dapat menjadi dasar penelitian selanjutnya.

BAB I

A.     PENGERTIAN AFIKS DAN AFIKSASI

            Afiks ialah satuan gramatik terikat yang bukan merupakan bentuk dasar, tidak mempunyai makna leksikal, dan hanya mempunyai makna gramatikal, serta dapat dilekatkan pada bentuk asal atau bentuk dasar untuk membentuk bentuk dasar dan atau kata baru. Sebagai contoh, satuan gramatik {meN-}, {di-}, {ter-}, {ke-an}, {se-nya}, {memper-}, {memper-i}, {ber-an} dan sebagainya. Karena satuan-satuan gramatik ini merupakan bentuk terikat dan tidak mempunyai makna leksikal dan hanya akan mempunyai makna gramatikal setelah digabung dengan satuan gramatik lain.
                  Afiks adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 1993). Dasar yang dimaksud pada penjelasan tersebut adalah bentuk apa saja, baik sederhana maupun kompleks yang dapat diberi afiks apapun (Samsuri, 1988).
Afiksasi ialah proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan afiks pada bentuk dasar atau juga dapat disebut sebagai proses penambahan afiks atau imbuhan menjadi kata. Hasil proses pembentukan afiks atau imbuhan itu disebut kata berimbuhan.
Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata (Richards, 1992).
Afiksasi atau pengimbuhan sangat produktif dalam pembentukan kata, hal tersebut terjadi karena bahasa indonesia tergolong bahasa bersistem aglutinasi.  Sistem aglutinasi adalah proses dalam pembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan jalan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.
Menurut A. Chaer (106: ) afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori verba, berkategori nomina maupun berkategori ajektiva. Dalam hal ini akan dibahas afiksasi berkategori verba.
                        Dari penjelasan-penejelasa di atas dapat disimpulkan bahwa afiksasi adalah penggabungan antara morfem-morfem untuk membentuk kata baru dan menghasilkan makna gramatikal yang baru yaitu dengan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.

            Ciri-ciri kata berimbuhan adalah
1.      Memilliki makna gramatikal atau makna gramatis
2.      Polimorfemis atau memiliki atau terdiri lebih dari satu morfem dan salah satu atau lebih morfemnya berupa afiks.
3.      Terjadinya perubahan kelas kata.

B.     Jenis-jenis afiksasi

1.      Prefiks
Prefiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menambahkan afiks pada bentuk dasar dan melekatkannya di depan bentuk dasar. Adapun contoh prefiks adalah di-, ke-, ber-, ter-, se-, meN-, pra-, peN-, per-, a-, dan lain sebagianya.
Contoh kata ber-prefiks
·        Di + bantu à dibantu (sumadi, 76:2010)
Pembentukan kata dibantu dilakukan dengan cara menambahkan afiks di- di depan bentuk dasar bantu.
·        Ter + jatuh à terjatuh
Pembentukan kata terjatuh dilakukan dengan cara menambahkan afiks di- depan bentuk dasar jatuh.
·        Ke + tujuh à ketujuh
·        Se + kalian à sekalian
·        meN + tangis à menangis
·        pra + sejarah à prasejarah, dan lain sebagainya

2.      Sufiks http://qlearn.wordpress.com/2007/10/27/akhiran-sufiks/
Sufiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menambahkan atau menempelkan atau melekatakan afiks di belakang bentuk dasar sehingga menimbulkan makna gramatikal atau gramatis. Seperti kita ketahui dalam penggunaan kata baik dalam percakapan maupun tulisan kita harus menggunakan kata-kata yang benar dan sesuai dengan EYD. Untuk kali yang akan dibahas yaitu akhiran kata atau sering disebut juga sufiks
Akhiran merupakan imbuhan yang dibubuhkan di akhir kata. Contoh akhiran antara lain –kan, -i, dan –an.
Akhiran –an
Akhiran –an memiliki makna :
1. Menyatakan alat
Contoh : ayunan, timbangan
2. Menyatakan tempat
Contoh : belokan, tikungan, pangkalan
3. Menyatakan sesuatu yang di
Contoh : tulisan, catatan
4. Menyatakan hal atau cara
Contoh : asuhan, bujukan
5. Menyatakan akibat atau hasil perbuatan
Contoh : guntingan, kudapan
6. Menyatakan mempunyai sifat
Contoh : manisan
7. Menyatakan seluruh atau kumpulan
Contoh : lautan, luapan
8. Menyatakan menyerupai
Contoh : rumah-rumahan, mobil-mobilan, kuda-kudaan
9. Menyatakan tiap-tiap
Contoh : satuan, harian, mingguan, bulanan, tahunan
Akhiran –kan dan –i
Akhiran –kan dan –i berfungsi untuk membentuk pokok kata. Contoh : tuliskan, bacakan, belikan, bayarkan, jauhi, hindari.
Kata-kata tersebut bukan kata mandiri namun merupakan pokok kata, karena masih memerlukan imbuhan lain yang melengkapinya.
Kata-kata, seperti bacakan, belikan, bayarkan, tuliskan, jauhi, dan hindari tidak bisa digunakan dalam kalimat normal, karena kata-kata tersebut belum bisa digunakan sebagai kata mandiri.
Contoh kalimat yang tidak mungkin digunakan sebagai kata normal ( kita tidak mungkin menggunakan kalimat berikut ini ) :
1.      Saya tuliskan buku terjemahan ini.
2.      Dia jauhi semua teman-temannya.
Hanya dalam kalimat perintah, kata-kata tersebut dapat digunakan, antara lain :
1.      Coba kamu tukiskan isi buku ini di papan tulis !
2.      Jauhi semua teman-temanmu !
Dengan ditambahi awalan men(N)-, di-, dan ter- pokok kata tersebut dapat membentuk suatu kata.
a. Makna akhiran -kan
Secara umum akhiran –kan mengandung arti perintah.
Contoh : Tunjukan semua hasil perbuatanmu!
Namun pada kata kerja aktif intransitif (kata kerja yang membutuhkan objek) dapat mengandung makna sebagai berikut :
1. Menyatakan menganggap sebagai
Contoh : menganak-emaskan, mengagungkan, mendewakan
2. Menyatakan membuat jadi
Contoh : meningkatkan, merendahkan, dibersihkan
3. Menyatakan sebagai alat atau membuat dengan
Contoh : merobekkan kertas, mengunuskan pedang
4. Menyatakan perbuatan untuk orang lain
Contoh : dibawakan, menyajikan, membawakan, menuliskan
5. Mengantar objek sebagai pengganti kata depan
Contoh : bertahtahkan, beratapkan, beralaskan
6. Mentransitifkan kata kerja intransitif
Contoh : Sinar mentari pagi memantul ke dinding
Menjadi Kaca itu memnatulkan sinar mentari pagi ke dinding
7. Menyebabkan sesuatu melakukan tindakan
Contoh : mengoperasikan,
3.      Infiks
            Infiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menyisipkan afiks ke dalam bentuk dasar. Seperti yang kita ketahui ada beberapa kata yang sepertinya mirip namun berbeda makna namun seperti berasal dari bentuk dasar yang sama. Seperti contohnya gerigi dan gigi, tunjuk dan telunjuk, dan lain sebagainya. Contoh dari infiks adalah –er-, -el-, -em-. Memang untuk infiks afiks yang ditemukan masih belum sebanyak prefiks dan sufiks. Adapun infiks –in- dalam kata kinerja. Namun dalam penggunaannya, afiks –in- sering dijumpai dalam kata dalam bahasa Jawa. Sehingga infiks –in- sebenarnya adalah afiks namun karena dalam konteks bahasa Indonesia infiks –in- belum bisa melekat pada bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Indonesia menyerap secara utuh kata kinerja dari Bahasa Jawa.

Proses pembentukanya:    infiks +     bentuk dasar         à kata
infiks -el-        +          tunjuk   àtelunjuk
infiks -em-      +          getar     àgemetar
infiks -er-         +          gigi       àgerigi
·         -el- contoh:

Jumat, 20 April 2012

DM PADA BUMIL

DIABETES MELITUS --> IBU HAMIL 
Pengertian

Diabetes melitus (DM) merupakan penyakit kelainan metabolisme yang di sebabkan kurangnyainsulin. Diabetes melitus (DM) adalah keadaan hiperglikemia kronik di sertai berbagai kelainanmetabolik akibat gangguan hormonal yang menimbulkan berbagai komplikasi kronik padamata, ginjal, saraf dan pembuluh darah di sertai lesi pada membran basalis dalampemerikasaan dengan pemeriksaan mikroskop elektron.Diabetes melitus (DM) adalah adalah suatu gangguan kronik yang bercirikan hiperglikemia (glukosa darah terlampau meningkat ) dan khususnya menyangkut metabolisme lemah danprotein juga terganggu.EtiologiDiabetes melitus bisa disebabkan oleh dua penyebab yaitu Diabetes yang timbul akibatkurangnya insulin dari kelenjar pankreas disebut DM tipe I, di sebabkan oleh reaksi autoniumberupa serangan antibodi terhadap sel beta pankreas.Sedangkan Diabetes karena insulin tidak berfungsi dengan baik disebut DM tipe II, karenareseptor insulin pada sel berkurang atau berubah struktur sehingga hanya sedikit glukosa yangberhasil masuk ke sel. Kondisi ini dalam jangka panjang akan merusak pembuluh darah danmenimbulkan berbagai komplikasi.Faktor prediposisi

Penyakit diabetes melitus yang biasa dikenal dengan kencing manis ataupun penyakit gula ini  dapat dibedakan menjadi 3 bagiany yaitu :
Diabetes melitus tipe 1 dikenal sebagai diabetes yang tergantung insulin. tipe ini berkembang jika sel-sel beta pankreas memproduksi insulin terlalu sedikit atau bahkan tidak memproduksi sama sekali. Jenis ini biasanya muncul sebelum usia 40 tahunan bahkan termasuk pada usia anak-anak.
Sampai saat ini penyakit diabetes melitus tipe 1 tidak dapat dicegah karena penyebabnya bukan dari pola makan yang tidak sehat melainkan karena adanya kesalahan reaksi autoimunitas yang menghancurkan sel beta pankreas. Reaksi autoimunitas tersebut dapat dipicu oleh adanya infeksi pada tubuh.
Diet dan olah raga tidak bisa menyembuhkan ataupun mencegah diabetes tipe 1. Kebanyakan penderita diabetes tipe 1 memiliki kesehatan dan berat badan yang baik saat penyakit ini mulai dideritanya. Selain itu, sensitivitas maupun respons tubuh terhadap insulin umumnya normal pada penderita diabetes tipe ini, terutama pada tahap awal.
dimana Penderita dirawat dengan menyuntikkan insulin dan dianjurkan untuk melakukan diet khusus diabetes serta melakukan pengawasan yang teliti terhadap tingkat glukosa darah melalui alat monitor pengujian darah. 5-10% dari penderita diabetes menderita diabetes tipe 1 namun untuk penanganan diabetes melitus tipe 2 agak berbeda karena penyebab diabetes melitus ditentukan oleh beberapa factor

Diabetes Melitus Tipe 2 dikenal sebagai penyakit gula yang tidak tergantung Insulin. Diabet tipe 2 ini berkembang ketika tubuh masih mampu menghasilkan insulin tetapi tidak cukup dalam pemenuhannya atau bisa juga disebabkan karena insulin yang dihasilkan mengalami resistance insulin dimana insulin tidak bekerja secara maksimal.
Sekitar 90-95% penderita diabetes melitus termasuk dalam tipe diabetes 2. Penderita dirawat dengan mangatur pola makan, latihan dan menyuntikkan insulin untuk mencapai kadar gula dan tekanan darah yang senormal mungkin. sedangkan 5-10 adalah diabetes melitus gestational dan diabet tipe 1
Gestational diabetes mellitus (GDM) diakibatkan oleh kombinasi dari kemampuan reaksi dan pengeluaran hormon insulin yang tidak cukup, seperti Tipe 2 di beberapa kesaksian. Biasanya terjadi selama kehamilan dan dapat sembuh setelah melahirkan. Diabetes gestasional meliputi gestational impaired glucose tolerance (GIGT) dan gestational diabetes mellitus (GDM) dan berdasarkan tahap klinis tanpa mempertimbangkan patogenesis dapat dibedakan menjadi 3 antara lain :
  1. Insulin requiring for survival diabetes, seperti pada kasus defisiensi peptida-C.
  2. Insulin requiring for control diabetes. Pada tahap ini, sekresi insulin endogenus tidak cukup untuk mencapai gejala normoglicemia, jika tidak disertai dengan tambahan hormon dari luar tubuh.
  3. Not insulin requiring diabetes
Meskipun bersifat temporer namun Gestational diabetes mellitus kemungkinan dapat merusak kesehatan janin karena efeknya berhubungan dengan jantung, organ pernafasan yang dapat menimbulkan kecacatan pada bayi ketika dilahirkan selain itu tentunya sangat mengganggu kesehatan ibu hamil. Hanya sekitar 20–50% dari wanita penderita  diabetes melitus tipe ini dapat bertahan hidup untuk itu bagi ibu hamil yang menderita tipe diabet ini sangat memerlukan pengawasan secara medis sepanjang kehamilan dan sebagai pencegahan anda perlu mengetahui gejala diabetes dan hal hala apa saja yang menjadi penyebab diabetes melitus dan usahakan agar selalu memeriksa kadar gula secara berkala.

Diabates bisa dialami siapa saja termasuk ibu hamil. Resiko dabetes bagi tiap orang berbeda-beda. Lalu bagaimana bila diabetes terjadi pada wanita hamil? Seberapa bahaya diabetes bagi wanita hamil?

Bahaya diabetes kehamilan

Diabetes kehamilan berisiko menimbulkan komplikasi kehamilan yang membahayakan ibu hamil dan bayinya. Risiko komplikasi bagi ibu hamil mencakup hipertensi kehamilan (pre-eklamsia), edema (pembengkakan), cairan ketuban terlalu banyak, melahirkan bayi lebih besar dari ukuran normal (makrosomia) dan persalinan prematur. Potensi risiko untuk bayinya termasuk penyakit kuning, gula darah rendah dan kesulitan bernafas saat lahir.
Bayi yang ibunya terkena diabetes kehamilan cenderung memiliki berat badan besar karena dia harus membuat insulin ekstra untuk mengontrol gula darah yang tinggi, sehingga cadangan lemak dan jaringannya besar. Hal ini dapat membuat proses kelahirannya sulit dan seringkali harus melalui operasi caesar. Bayi tersebut juga dapat memiliki gula darah rendah (hipoglikemia) setelah lahir karena tingkat insulin tubuhnya yang tinggi. Beberapa studi menunjukkan bahwa bayi yang lahir dari ibu yang menderita diabetes kehamilan lebih berisiko terkena diabetes tipe 2 dan obesitas di usia dewasanya.

PRINSIP PERENCANAAN MAKAN ORANG DENGAN DIABETES DI INDONESIA

A. Kebutuhan Kalori.
Kebutuhan kalori sesuai untuk mencapai dan mepertahankan berat badan ideal komposisi
energi adalah 60 – 70% dari karbohidrat, 10 – 15% dari protein dan 20 – 25% dari lemak.
Ada beberapa cara untuk menentukan jumlah kalori yang dibutuhkan orang dengan
diabetes. Diantaranya adalah dengan memperhitungkan berdasarkan kebutuhan kalori basal yang
besarnya 25-30 kalori/kg BB ideal, ditambah dan dikurangi bergantung pada beberapa faktor
yaitu jenis kelamin, umur, aktifikasi, kehamilan/laktasi, adanya komplikasi dan berat badan.
Cara lain adalah seperti tabel 1. Sedangkan cara yang lebih gampang lagi adalah dengan
pegangan kasar, yaitu untuk pasien kurus 2300 – 2500 kalori, normal 1700 – 2100 kalori dan
gemuk 1300 – 1500 kalori.
Tabel 1. Kebutuhan Kalori Orang Dengan Diabetes
Kalori/kg BB ideal
Dewasa Kerja santai sedang berat
Gemuk 25 30 35
Normal 30 35 40
Kurus 35 40 40-50
Perhitungan Berat Badan Idaman.
Dengan rumus Brocca yang dimodifikasi adalah sebagai berikut :
Berat badan idaman = 90% x (TB dalam cm – 100) x 1 kg.
Bagi pria dengan tinggi badan dibawah 160 cm dan wanita di bawah 150 cm, atau bagi mereka
yang berumur lebih dari 40 tahun, rumus dimodifikasi menjadi.
Berat badan ideal = (TB dalam cm – 100) x 1 kg.
Sedangkan menurut Body Mass Index (BMI) atau Indeks Massa Tubuh (IMT) yaitu berat
badan (kg) TB2 sebagai berikut :
Berat ideal : BMI 21 untuk wanita
BMI 22,5 untuk pria.
Faktor-faktor yang menentukan kebutuhan kalori.
1. Jenis Kelamin.
Kebutuhan kalori pada wanita lebih kecil daripada pria, untuk ini dapat dipakai angka 25
kal/kg BB untuk wanita dan angka 30 kal/kg BB untuk pria.
2. Umur.
§ Pada bayi dan anak-anak kebutuhan kalori adalah jauh lebih tinggi daripada orang
dewasa, dalam tahun pertama bisa mencapai 112 kg/kg BB.
§ Umur 1 tahun membutuhkan lebih kurang 1000 kalori dan selanjutnya pada anakanak
lebih daripada 1 tahun mendapat tambahan 100 kalori untuk tiap tahunnya.
§ Penurunan kebutuhan kalori diatas 40 tahun harus dikurangi 5% untuk tiap dekade
antara 40 dan 59 tahun, sedangkan antara 60 dan 69 tahun dikurangi 10%, diatas 70
tahun dikurangi 20%.
3. Aktifitas Fisik atau Pekerjaan.
Jenis aktifitas yang berbeda membutuhkan kalori yang berbeda pula. Jenis aktifitas
dikelompokan sebagai berikut :
§ Keadaan istirahat : kebutuhan kalori basal ditambah 10%.
§ Ringan : pegawai kantor, pegawai toko, guru, ahli hukum, ibu rumah tangga, dan
lain-lain kebutuhan harus ditambah 20% dari kebutuhan basal.
§ Sedang : pegawai di insdustri ringan, mahasiswa, militer yang sedang tidak perang,
kebutuhan dinaikkan menjadi 30% dari basal.
§ Berat : petani, militer dalam keadaan latihan, penari, atlit, kebutuhan ditambah 40%.
§ Sangat berat : tukang beca, tukang gali, pandai besi, kebutuhan harus ditambah
50% dari basal.
4. Kehamilan/Laktasi.
Pada permulaan kehamilan diperlukan tambahan 150 kalori/hari dan pada trimester II dan III
350 kalori/hari. Pada waktu laktasi diperlukan tambahan sebanyak 550 kalori/hari.
5. Adanya komplikasi. Infeksi,
Trauma atau operasi yang menyebabkan kenaikan suhu memerlukan tambahan kalori
sebesar 13% untuk tiap kenaikkan 1 derajat celcius.
6. Berat Badan.
Bila kegemukan/terlalu kurus, dikurangi/ditambah sekitar 20-30% bergantung kepada
tingkat/kekurusannya.
B. Gula.
Gula dan produk-produk lain dari gula dikurangi, kecuali pada keadaan tertentu, misalnya
pasien dengan diet rendah protein dan yang mendapat makanan cair, gula boleh diberikan untuk
mencukupi kebutuhan kalori, dalam jumlah terbatas. Penggunaaan gula sedikit dalam bumbu
diperbolehkan sehingga memungkinkan pasien dapat makan makanan keluarga. Penggunaaan
gula untuk minuman dapat diberikan sesuai petunjuk bila diperlukan.
C. Standard Diet Diabetes Mellitus.
Untuk perencanaan pola makan sehari, pasien diberi petunjuk berapa kebutuhan bahan
makanan setiap kali makan dalam sehari dalam bentuk Penukar (P). Lihat lampiran (satu) 1.
Berdasarkan pola makan pasien tersebut dan daftar bahan makanan penukar, dapat disuusn
menu makanan sehari-hari.
D. Daftar Makanan Penukar.
Daftar bahan makanan penukar adalah suatu daftar nama bahan makanan dengan
ukuran tertentu dan dikelompokkan berdasarkan kandungan kalori, protein, lemak dan hidrat
arang. Setiap kelompok bahan makanan dianggap mempunyai nilai gizi yang kurang lebih sama .
Dikelompokkan menjadi 7 kelompok bahan makanan yaitu :
§ Golongan 1 : bahan makanan sumber karbohidrat.
§ Golongan 2 : bahan makanan sumber protein hewani.
§ Golongan 3 : bahan makanan sumber protein nabati.
§ Golongan 4 : sayuran.
§ Golongan 5 : buah-buahan.
§ Golongan 6 : Susu.
§ Dolongan 7 : Minyak
§ Golongan 8 : makanan tanpa kalori.