AFIKSASI DALAM KAJIAN MORFOLOGI
TUGAS INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Morfologi Bahasa Indonesia
Yang dibina oleh Dr. Sumadi M.Pd.
Oleh:
Danang Febrianto 110211413101
Offering B
![]() |
UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
MEI 2012
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat dan
karunia-Nya penu-lis bisa menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas akhir
semester mata kuliah Morfologi. Makalah yang berjudul “Afiksasi Dalam Kajian
Morfologi” merupakan persyaratan untuk menyelesaikan tugas serta untuk
mengikuti ujian akhir semester genap.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak
kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan
kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak
sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal
pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan
ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
LATAR BELAKANG
Bahasa merupakan salah satu bagian dari ilmu-ilmu bahasa yang
digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi satu sama lain. Terdapat berbagai
bahasa khususnya dalam Bahasa Indonesia. Menurut WIBOWO (2009 : 3)
Bahasa adalah suatu sistem symbol bunyi yang bermakna yang berarti kualisi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbiter dan konfisional yang dipakai sebagai alat komunikasi oleh sekelompok orang untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Bahasa Indonesia yang terlihat mudah dari pandangan orang awam memang benar dalam kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataan yang terjadi, masih banyak kesalahan dan kekurangpahaman terhadap Bahasa Indonesia dalam kajian-kajian yang lebih mendalam. Sering ditemui dalam perkatan dan tulisan-tulisan yang ada dikehidupan sehari-hari tanpa disadari kita telah banyak mengucapkan dan menuliskan kata-kata yang dalam kajian ilmu linguistik mempunyai peranan dan kajiannya masing-masing. Namun kurangnya kemampuan dasar dalam pemahaman banyak yang tidak tahu makna dan bagaimana proses pembentukan katanya. Bahkan, masih banyak pengucapan-pengucapan yang kurang tepat atau kurang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Bahasa adalah suatu sistem symbol bunyi yang bermakna yang berarti kualisi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbiter dan konfisional yang dipakai sebagai alat komunikasi oleh sekelompok orang untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Bahasa Indonesia yang terlihat mudah dari pandangan orang awam memang benar dalam kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataan yang terjadi, masih banyak kesalahan dan kekurangpahaman terhadap Bahasa Indonesia dalam kajian-kajian yang lebih mendalam. Sering ditemui dalam perkatan dan tulisan-tulisan yang ada dikehidupan sehari-hari tanpa disadari kita telah banyak mengucapkan dan menuliskan kata-kata yang dalam kajian ilmu linguistik mempunyai peranan dan kajiannya masing-masing. Namun kurangnya kemampuan dasar dalam pemahaman banyak yang tidak tahu makna dan bagaimana proses pembentukan katanya. Bahkan, masih banyak pengucapan-pengucapan yang kurang tepat atau kurang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Secara umum bahasa adalah sesuatu yang semena-mena dalam
pengucapannya. Sering dalam pengucapannya kita jarang melihat mana yang lebih
tepat menurut aturan baku. Karena bahasa adalah semena-mena, orang memilih mana
yang enak untuk diucapkan dibandingkan mana yang seharusnya wajib dan benar
dalam aturan baku.
Morfologi Ramlan (1978:19) menjelaskan bahwa morfologi ialah
bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk
bentuk kata serta pengaruh perubahan-peruahan bentuk kata terhadap golongan
kata dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi
mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk
kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Dalam kaitannya dengan
kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu,
perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata
yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam
morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam
morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Morfologi merupakan salah satu kajian linguistik yang membahas
masalah berbahasa terdapat berbagai bagian-bagian yang dikaji. Karena dalam
bahasa terdapat sub-sub yang membedakan jenis bahasa. Dari sini muncul gagasan
untuk lebih memfokuskan pada satu bahasan masalah dalam kajian morfologi
tentang afiksasi.
PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas
maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian dikhususkan untuk membahas
afiksasi.
TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah kali ini yaitu untuk
menganalisis dan mengetahui afiksasi dalam bahasa Indonesia.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian antara lain :
Bagi Kepentingan Akademis
Sebagai sumbangan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu
pengem bangan sumber daya manusia dan dapat menjadi dasar penelitian
selanjutnya.
BAB I
A.
PENGERTIAN AFIKS DAN AFIKSASI
Afiks ialah satuan
gramatik terikat yang bukan merupakan bentuk dasar, tidak mempunyai makna
leksikal, dan hanya mempunyai makna gramatikal, serta dapat dilekatkan pada
bentuk asal atau bentuk dasar untuk membentuk bentuk dasar dan atau kata baru.
Sebagai contoh, satuan gramatik {meN-},
{di-}, {ter-}, {ke-an}, {se-nya}, {memper-}, {memper-i}, {ber-an} dan
sebagainya. Karena satuan-satuan gramatik ini merupakan bentuk terikat dan
tidak mempunyai makna leksikal dan hanya akan mempunyai makna gramatikal setelah
digabung dengan satuan gramatik lain.
Afiks adalah bentuk terikat
yang apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana,
1993). Dasar yang dimaksud pada penjelasan tersebut adalah bentuk apa saja,
baik sederhana maupun kompleks yang dapat diberi afiks apapun (Samsuri,
1988).
Afiksasi ialah proses pembentukan kata
dengan cara menggabungkan afiks pada bentuk dasar atau juga dapat disebut
sebagai proses penambahan afiks atau imbuhan menjadi kata. Hasil proses
pembentukan afiks atau imbuhan itu disebut kata berimbuhan.
Afiksasi
merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik
afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru.
Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang
dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata (Richards, 1992).
Afiksasi
atau pengimbuhan sangat produktif dalam pembentukan kata, hal tersebut terjadi
karena bahasa indonesia tergolong bahasa bersistem aglutinasi. Sistem
aglutinasi adalah proses dalam pembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan
jalan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.
Menurut
A. Chaer (106: ) afiksasi adalah
salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori verba, berkategori
nomina maupun berkategori ajektiva. Dalam hal ini akan dibahas afiksasi
berkategori verba.
Dari
penjelasan-penejelasa di atas dapat disimpulkan bahwa afiksasi adalah
penggabungan antara morfem-morfem untuk membentuk kata baru dan menghasilkan makna
gramatikal yang baru yaitu dengan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.
Ciri-ciri kata berimbuhan adalah
1.
Memilliki makna gramatikal atau makna gramatis
2.
Polimorfemis atau memiliki atau terdiri lebih dari satu morfem dan salah satu atau lebih morfemnya berupa afiks.
3.
Terjadinya perubahan kelas kata.
B. Jenis-jenis afiksasi
1.
Prefiks
Prefiks adalah proses
pembentukan kata dengan cara menambahkan afiks pada bentuk dasar dan
melekatkannya di depan bentuk dasar. Adapun contoh prefiks adalah di-, ke-, ber-,
ter-, se-, meN-, pra-, peN-, per-, a-, dan lain sebagianya.
Contoh kata ber-prefiks
·
Di + bantu à dibantu (sumadi,
76:2010)
Pembentukan kata dibantu dilakukan dengan cara
menambahkan afiks di- di depan bentuk
dasar bantu.
·
Ter + jatuh à terjatuh
Pembentukan kata terjatuh dilakukan dengan cara
menambahkan afiks di- depan bentuk
dasar jatuh.
·
Ke + tujuh à ketujuh
·
Se + kalian à sekalian
·
meN + tangis à menangis
·
pra + sejarah à prasejarah, dan lain
sebagainya
2.
Sufiks http://qlearn.wordpress.com/2007/10/27/akhiran-sufiks/
Sufiks adalah proses pembentukan kata dengan cara
menambahkan atau menempelkan atau melekatakan afiks di belakang bentuk dasar
sehingga menimbulkan makna gramatikal atau gramatis. Seperti kita ketahui dalam
penggunaan kata baik dalam percakapan maupun tulisan kita harus menggunakan kata-kata
yang benar dan sesuai dengan EYD. Untuk kali yang akan dibahas yaitu akhiran
kata atau sering disebut juga sufiks
Akhiran merupakan
imbuhan yang dibubuhkan di akhir kata. Contoh akhiran antara lain –kan, -i, dan
–an.
Akhiran –an
Akhiran –an memiliki
makna :
1. Menyatakan alat
Contoh : ayunan,
timbangan
2. Menyatakan tempat
Contoh : belokan,
tikungan, pangkalan
3. Menyatakan sesuatu
yang di
Contoh : tulisan, catatan
4. Menyatakan hal atau
cara
Contoh : asuhan, bujukan
5. Menyatakan akibat
atau hasil perbuatan
Contoh : guntingan,
kudapan
6. Menyatakan mempunyai
sifat
Contoh : manisan
7. Menyatakan seluruh
atau kumpulan
Contoh : lautan, luapan
8. Menyatakan menyerupai
Contoh : rumah-rumahan,
mobil-mobilan, kuda-kudaan
9. Menyatakan tiap-tiap
Contoh : satuan, harian,
mingguan, bulanan, tahunan
Akhiran –kan dan –i
Akhiran –kan dan –i
berfungsi untuk membentuk pokok kata. Contoh : tuliskan, bacakan, belikan, bayarkan,
jauhi, hindari.
Kata-kata tersebut bukan
kata mandiri namun merupakan pokok kata, karena masih memerlukan imbuhan lain
yang melengkapinya.
Kata-kata, seperti
bacakan, belikan, bayarkan, tuliskan, jauhi, dan hindari tidak bisa digunakan
dalam kalimat normal, karena kata-kata tersebut belum bisa digunakan sebagai
kata mandiri.
Contoh kalimat yang
tidak mungkin digunakan sebagai kata normal ( kita tidak mungkin menggunakan
kalimat berikut ini ) :
1.
Saya tuliskan buku terjemahan ini.
2.
Dia jauhi semua teman-temannya.
Hanya dalam kalimat
perintah, kata-kata tersebut dapat digunakan, antara lain :
1.
Coba kamu tukiskan isi buku ini di papan
tulis !
2.
Jauhi semua teman-temanmu !
Dengan ditambahi awalan
men(N)-, di-, dan ter- pokok kata tersebut dapat membentuk suatu kata.
a. Makna akhiran -kan
Secara umum akhiran –kan
mengandung arti perintah.
Contoh : Tunjukan semua
hasil perbuatanmu!
Namun pada kata kerja
aktif intransitif (kata kerja yang membutuhkan objek) dapat mengandung makna
sebagai berikut :
1. Menyatakan menganggap
sebagai
Contoh :
menganak-emaskan, mengagungkan, mendewakan
2. Menyatakan membuat
jadi
Contoh : meningkatkan,
merendahkan, dibersihkan
3. Menyatakan sebagai
alat atau membuat dengan
Contoh : merobekkan
kertas, mengunuskan pedang
4. Menyatakan perbuatan
untuk orang lain
Contoh : dibawakan,
menyajikan, membawakan, menuliskan
5. Mengantar objek
sebagai pengganti kata depan
Contoh : bertahtahkan,
beratapkan, beralaskan
6. Mentransitifkan kata
kerja intransitif
Contoh : Sinar mentari
pagi memantul ke dinding
Menjadi Kaca itu
memnatulkan sinar mentari pagi ke dinding
7. Menyebabkan sesuatu
melakukan tindakan
Contoh : mengoperasikan,
3. Infiks
Infiks adalah proses pembentukan kata dengan cara
menyisipkan afiks ke dalam bentuk dasar. Seperti yang kita ketahui ada beberapa
kata yang sepertinya mirip namun berbeda makna namun seperti berasal dari
bentuk dasar yang sama. Seperti contohnya gerigi dan gigi, tunjuk dan telunjuk,
dan lain sebagainya. Contoh dari infiks adalah –er-, -el-, -em-. Memang untuk
infiks afiks yang ditemukan masih belum sebanyak prefiks dan sufiks. Adapun
infiks –in- dalam kata kinerja. Namun dalam penggunaannya, afiks –in- sering
dijumpai dalam kata dalam bahasa Jawa. Sehingga infiks –in- sebenarnya adalah
afiks namun karena dalam konteks bahasa Indonesia infiks –in- belum bisa
melekat pada bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Indonesia menyerap secara utuh
kata kinerja dari Bahasa Jawa.
Proses pembentukanya: infiks + bentuk dasar à kata
infiks -el- + tunjuk àtelunjuk
infiks -em- + getar àgemetar
infiks -er- + gigi àgerigi
·
-el- contoh:
