Pengantar
Cerita
pendek (cerpen) sebagai salah satu jenis karya sastra ternyata dapat memberikan
manfaat kepada pembacanya. Di antaranya dapat memberikan pengalaman pengganti,
kenikmatan, mengembangkan imajinasi, mengembangkan pengertian tentang perilaku manusia,
dan dapat menyuguhkan pengalaman yang universal. Pengalaman yang universal itu
tentunya sangat berkaitan dengan hidup dan kehidupan manusia serta kemanusiaan.
Ia bisa berupa masalah perkawinan, percintaan, tradisi, agama, persahabatan,
sosial, politik, pendidikan, dan sebagainya. Jadi tidaklah mengherankan jika
seseorang pembaca cerpen, maka sepertinya orang yang membacanya itu sedang
melihat miniatur kehidupan manusia dan merasa sangat dekat dengan permasalahan
yang ada di dalamnya. Akibatnya, si pembacanya itu ikut larut dalam alur dan
permasalahan cerita. Bahkan sering pula perasaan dan pikirannya dipermainkan
oleh permasalahan cerita yang dibacanya itu. Ketika itulah si pembacanya itu
akan tertawa, sedih, bahagia, kecewa, marah , dan mungkin saja akan memuja sang
tokoh atau membencinya.
Saya
memilih salah satu cerpen dari kumpulan cerpen dari tiga penulis yang berjudul DAN MALAIKAT PUN RUKUK karya Agustrijanto.
Cerpen ini merentang dari segala penjuru dunia dan kilasan masa, dari Andalusia
Lama, hingga Oklahoma, dari Condet zaman colonial hingga Kobe kala diguncang
gempa, semua dengan benang merah: semangat untuk berbagi tentang nasib umat
Islam dunia, dengan beragam situasi dan kondisinya. Cerpen ini akan di ulas
berdasarkan dengan teori sastra yang saya punya.
Synopsis
cerpen Dan Malaikat Pun Ruku
Cerpen Dan Malaikat Pun Rukuk karya Agustrijanto ini menceritakan tentang
kelompok islam yang hidup dalam golongan minoritas di Andalusia Lama yang
hidupnya selalu terpinggirkan diantara golongan orang Kristen. Mereka, para
kelompok islam minoritas selalu diperlakukan tidak manusiawi. Mereka dituduh
Kristen kafir, sampai mereka dibakar hidup-hidup satu keluarga. Namun,
Rosalinan melihat sesuatu yang aneh setiap ia menyaksikan adegan tersebut. Para
korban tampak tenang menghadapi kematian. Klimaknya ketika misa mingguan, pada
hari itu suasananya berbeda, lebih khidmad. Dengan bersimpuh, Rosalina
menguatkan genggaman tangan memuja Tuhannya. Tiba-tiba saat matanya terbuka, ia
melihat lukisan di dinding gereja itu bergerak seperti manusia hidup. Ia
melihat malaikat bersayap tersenyum kepadanya. Ia tak percaya melihat ke
sekeliling ruangan tampak semua malaikat bergerak dan serentak mengangkat kedua
tangannya kedekat telinga lalu menempelkan ke dua tangan itu ke arah tumit.
Tanpa sadar ia mengikuti gerakan tersebut dan tiba-tiba terdengar suara keras
mengejutkan sukmanya. “Bangsat! Dia Islam!”.
Sejak saat itu, Rosalina dijebloskan
ke penjara dan akan dihukum layaknya para kaum islam yang biasanya ia saksikan
saat prosesi pembakaran. Pada saat Rosalina dibakar hidup-hidup, terucap
kata-kata dari mulutnya. Semua orang yang mellihat kejadian tersebut seraya
menitikan air matanya dan menangis. Asap hitam pekat mengapung di udara.
Menyesakki pagi itu, memasuki celah-celah rumah warga namun ia biarkan ia masuk
tanpa penghalang.
Tema
Cerpen
dan malaikat pun ruku ini mengambil tema tentang agama islam yang masih
minoritas di Negara lain. Yaitu berada di Andalusia. Agustrijanto ingin
mengangkat tema tentang islam yang sesungguhnya. Dimana islam itu baik, indah
dan bersahabat. Karena dalam cerita tersebut golongan islam tergambar meskipun
dalam keadaan sangat tertindas masih begitu sabar dan tak pernah melakukan
tindakan balas dendam.
Sudut
pandang
Dalam
cerita yang mengangkat nilai dan ingin berbagi dengan sesama ini mengambil
sudut pandang orang ketiga. Karena dalam cerpen itu penulis menceritakan semua
kejadian baik di saat prosesi pembakaran hidup-hidup, saat Rosalina melihat
para malaikat membimbingnya untuk meniru gerakan orang islam yaitu ruku, dan
saat Rosalina dibakar hidup-hidup.
Alur
Alur
cerita yang digunakan menulis cerpen ini adalah alur maju. Dimana ia
menceitakan semua kejadian dengan urut dan bukan suatu kilas balik.
Amanat
Amanat yang bisa diambil dari cerpen
ini ialah, penulis ingin memberitahu dan berbagi pengalaman dengan sesama kaum
muslim di Indonesia tentang pengalaman para saudara muslim kita yang ada di
luar wilayah Indonesia. Seperti yang ada pada cover belakang sudah tercantumkan
tujuan dari cerpen ini. Namun secara khusus, cerpen ini memberi amanat bahwa
Tuhan itu mempunyai jalan cerita dan rencana yang tak pernah terduga bagi siapa
saja. Dapat dilihat dari cerita, seorang Rosalina yang merupakan orang yang
khusyuk dalam beribadah dan merupakan seorang biarawati tiba-tiba melihat
malaikat membimbingnya ruku. Sampai akhirnya ia berbalik dihukum oleh
orang-orang gereja yang sebelumnya telah mengutuk kaum islam.
Analisis
Cerpen Dan
Malaikat Pun Ruku ini cerita yang diangkat sangat menarik untuk dibaca.
Dari segi bahasa yang digunakan sudah baik. Dengan bahasa yang mudah untuk
dipahami serta tidak begitu kaku, ringan. Dari awal cerita, kita akan dibuat
penasaran dengan apa yang akan terjadi selanjutnya. Melihat cerita yang
tiba-tiba akan membakar satu keluarga gubernur, menarik mata kita untuk
melanjutkan cerita selanjutnya. Kalimat-kalimat yang digunakan mampu membuat
batin kita untuk menerawang pada saat itu bagaimana kejadian yang menimpa para
korban di Andalusia Lama. Cerita dalam cerpen tersebut tidak menggunakan
diskriptif yang terlalu panjang. Banyak variasi yang dilakukan Agustrijanto
dalam pembuatann novel ini. Sehingga pembaca tidak jenuh untuk membacanya
karena memang Agustrijanto merupakan penulis yang telah lama berkiprah di dunia
cerpen, menjadikan beliau berpengalaman dalam setiap proses pembuatan cerita.
Dibantu
dengan judul cerita Dan Malaikat Pun Ruku
membuat kita bertanya-tanya dengan isi dari cerita tersebut. Judul memang
penting dalam setiap pembuatan karya. Kita bisa tertarik walau hanya membaca
judul yang ada pada karya sastra. Ini terjadi di cerpen Agustrijanto. Beliau
membuat judul yang dijadikan judul sampul kumpulan cerpen ini karena memang
judul tersebut paling membuat orang bertanya-tanya “Malaikat mana yang ruku?”,
“Untuk apa Malaikat itu ruku?” dan sebagainya.
Selain
itu, cerpen tersebut mengandung nilai yang ingin disampaikan oleh penulis
tentang keadaan Islam di lain wilayah di dunia yang menjadi kaum minoritas.
Sedangkan pada saat itu juga sedang gencar-gencarnya Negara barat yang telah
mengalami suatu kejadian terorisme. Seperti yang terjadi pada tahun 2001 saat
dua buah pesawat yang dibajak oleh teroris menabrak gedung kembar pencakar
langit di Amerika Serikat pada 21 September 2001. Amerika pada saat itu menuduh
kelompok islam yang menjadi dalang dalam peristiwa tersebut, dan saat itu pula
nama Islam mulai dicoreng mentah-mentah oleh Negara barat. Sejak saat itu
posisi Islam selalu dalam keadaan dicurigai. Islam dianggap agama yang tidak
berprikemanusiaan, biadab, dan semua yang negative ditunjukkan kepada kaum
Islam. Dalam cerpen ini, penulis ingin menyampaikan pesan kepada dunia melalui
karyanya bahwa sebenarnya Islam itu adalah agama yang indah, cinta damai, sabar
dan penuh kasih sayang dan tak pernah mendendam. Pernyataan itu ditulis secara
konotatif oleh Agustrijanto dalam cerita Dan
Malaikat Pun Ruku ini. Beliau ingin menegaskan bahwa apa yang ditunjukkan
kepada kaum Islam itu salah, hanya sebuah spekulasi yang belum tentu benar.
Kesimpulan
akhir menurut saya, cerpen ini sudah baik dalam berbagai hal, baik dari judul,
isi dan gaya bahasanya juga sudah bagus. Ceritanya universal, tidak menunjukkan
suatu pembelaan yang berlebih-lebihan terhadap apa yang ia ceritakan. Semuanya
subyektif namun sangat mengena kalau beliau hanya ingin berbagi kisah.