RESUME
LOGIKA,
ETIKA DAN ESTETIKA DALAM ILMU
- Logika
Secara etimologis
logika berasal dari bahasa Yunani logos
yang
berarti “kata atau pikiran”. Namun pengertian dasarnya sering
disebut sebagai ilmu berkata-kata atau berpikir benar, bukan tepat
melainkan benar.
Menurut Aristoteles
logika adalah bagian filsafat yang mempersoalkan bentuk susunan atau
cara penyusun pikiran. Aristoteles sangat menaruh perhatian pada
bagian filsafat ini, bahkan menganggapnya sebagai ilmu pendahulu
filsafat. Ia di anggap sebagai bapak logika terutama dengan buku yang
disusun murid-muridnya yang berjudul “organon” atau instrumen
tentang logika formal.
Logika demikian
bersifat alami atau disebut logika naturalis (natural logics) yang
berdasarkan kodrat atau fitrahnya saja misalnya digunakan untuk
membedakan mana yang bisa dimakan atau tidak bisa dimakan. Logika
buatan atau hasil pengemban yang disebut logika artifisial
(artificial logics) merupakan cara membedakannya berdasarlkan
laboratorium dengan cara menemukan unsur apa yang berada di dalam
tanaman sehingga dapat dimakan atau tidak bisa dimakan.
Jenis-jenis
logika ada 2 yaitu :
- Logika induktif merupakan cara berpikir dimana di tarik suatau kesimpulan yang bersifat umum dari berbagai kasus yang bersifat individual. Misalnya kita mempunyai fakta bahwa kambing mempunyai fakta, gajah mempunyai mata, demikian juga dengan singa, kucing, dan berbagai binatang lainnya. Dari kenyataan ini kita dapat menarik kesimpulan umum yakni semua binatang mempunyai mata.
- Logika deduktif merupakan cara berpikir dimana dari pernyataan yang bersifat umum ditarik kesimpulan yang bersifat khusus. Penariakan kesimpulan secara deduktif biasanya mempergunakan pola berpikir yang dinamakan silogismus. Silogismus disusun dari dua buah pernyataan dan sebuah kesimpulan. Pernyataan yang mendukung silogismus ini disebut premis yang kemudian dapat dibedakan sebagai premis mayor dan premis minor. Kesimpulan merupakan pengetahuan yang di dapat dari penalaran deduktif berdasarkan kedua premis tersebut.
Contoh
:
Semua
makhluk mempunyai mata (premis mayor)
Si
Polan adalah seorang makhluk (premis minor)
Jadi
SiPolan mempunyai mata (kesimpulan)
Kesimpulan
yang diambil bahwa Si Polan mempunyai mata adalah sah menurut
penalaran deduktif, sebab kesimpulan ini ditarik secara logis dari
dua premis yang mendukungnya.
- Etika
Etika dalam bahasa
Yunani, etos
artinya kebiasaan, habit atau custom. Maksudnya hampir tidak ada
orang yang tidak memiliki kebiasaan baik atau buruk. Oleh karena itu
istilah etis dan tidak etis dinilai kurang tepat. Adapun istilah yang
lebih tepat adalah etika baik dan etika jahat.
Etika adalah bagian
filsafat nilai dan penilaian yang membicarakan perilaku seseorang
dari sudut baik dan jahat. Semua perilaku mempunyai nilai, jadi tidak
benar suatu perilaku dikatakan tidak etis dan etis. Lebih tepatnya
adalah perilaku beretika baik atau perilaku beretika tidak baik,
sejalan dengan perkembangan penggunaan bahasa yang berlaku sekarang.
Istilah etis dan tidak etis, tidak baik untuk hal yang sama. Demikian
juga etis baik dan baik dan etis tidak baik. Dalam hal perilaku
digunakan istilah baik dan jahat untuk etika karena perbuatan manusia
yang tidak baik berarti merusak sedangkan perbuatan yang baik berarti
membangun.
- Jenis Etika
- Etika Filosofis
Etika
filosofis secara harfiah dapat dikatakan sebagai etika yang
berasal dari kegiatan berfilsafat atau berpikir, yang dilakukan oleh
manusia. Karena itu, etika sebenarnya adalah bagian dari filsafat;
etika lahir dari filsafat. Etika termasuk dalam filsafat, karena itu
berbicara etika tidak dapat dilepaskan dari filsafat]
Karena itu, bila ingin mengetahui unsur-unsur etika maka kita harus
bertanya juga mengenai unsur-unsur filsafat. Berikut akan dijelaskan
dua sifat etika:
- Non-empiris Filsafat digolongkan sebagai ilmu non-empiris. Ilmu empiris adalah ilmu yang didasarkan pada fakta atau yang kongkret. Namun filsafat tidaklah demikian, filsafat berusaha melampaui yang kongkret dengan seolah-olah menanyakan apa di balik gejala-gejala kongkret. Demikian pula dengan etika. Etika tidak hanya berhenti pada apa yang kongkret yang secara faktual dilakukan, tetapi bertanya tentang apa yang seharusnya dilakukan atau tidak boleh dilakukan.
- Praktis Cabang-cabang filsafat berbicara mengenai sesuatu “yang ada”. Misalnya filsafat hukum mempelajari apa itu hukum. Akan tetapi etika tidak terbatas pada itu, melainkan bertanya tentang “apa yang harus dilakukan”. Dengan demikian etika sebagai cabang filsafat bersifat praktis karena langsung berhubungan dengan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan manusia. Tetapi ingat bahwa etika bukan praktis dalam arti menyajikan resep-resep siap pakai. Etika tidak bersifat teknis melainkan reflektif. Maksudnya etika hanya menganalisis tema-tema pokok seperti hati nurani, kebebasan, hak dan kewajiban, dsb, sambil melihat teori-teori etika masa lalu untuk menyelidiki kekuatan dan kelemahannya. Diharapakan kita mampu menyusun sendiri argumentasi yang tahan uji.
- Etika Teologis
Ada dua hal yang
perlu diingat berkaitan dengan etika
teologis. Pertama, etika teologis bukan hanya milik agama
tertentu, melainkan setiap agama dapat memiliki etika teologisnya
masing-masing. Kedua, etika teologis merupakan bagian dari etika
secara umum, karena itu banyak unsur-unsur di dalamnya yang terdapat
dalam etika secara umum, dan dapat dimengerti setelah memahami etika
secara umum.
Secara umum, etika
teologis dapat didefinisikan sebagai etika yang bertitik tolak dari
presuposisi-presuposisi teologis. Definisi tersebut menjadi kriteria
pembeda antara etika filosofis dan etika teologis. Di dalam etika
Kristen, misalnya, etika teologis adalah etika yang bertitik
tolak dari presuposisi-presuposisi tentang Allah
atau Yang
Ilahi, serta memandang kesusilaan bersumber dari dalam
kepercayaan terhadap Allah atau Yang Ilahi Karena itu, etika teologis
disebut juga oleh Jongeneel
sebagai etika transenden dan etika teosentris
Etika teologis Kristen
memiliki objek yang sama dengan etika secara umum, yaitu tingkah laku
manusia. Akan tetapi, tujuan yang hendak dicapainya sedikit berbeda,
yaitu mencari apa yang seharusnya dilakukan manusia, dalam hal baik
atau buruk, sesuai dengan kehendak Allah.
Setiap agama dapat
memiliki etika teologisnya yang unik berdasarkan apa yang diyakini
dan menjadi sistem nilai-nilai yang dianutnya. Dalam hal ini, antara
agama yang satu dengan yang lain dapat memiliki perbedaan di dalam
merumuskan etika teologisnya.
- Estetika
Estetika adalah
bagian filsafat tentang nilai dan penilaian yang memandang karya
manusia dari sudut indah dan jelek. Secara umum estetika disebut
sebagai kajian filsafati mengenai pengindraan atau persepsi yang
menimbulkan rasa senang dan nyaman pada suatu pihak, rasa tidak
senang dan tidak nyaman pada pihak lainnya. Hal ini mengisyaratkan
bahwa ada baiknya bagi kita untuk menghargai pepatah “De
gustibus non disputdum”
yang artinya meskipun tidak mutlak, tidak untuk segala hal. Secara
fisual dan imajinasi estetika disebut juga kajian mengenai keindahan
atau teori tentang cita rasa, kritik dalam kesenian kreatif serta
pementasan. Tokoh paling terkenal dalam bidang ini adalah Alexander
Baumgarten (1714-1762) dalam disertasinya pada 1735 yang justru
dianggap awal diwacanakannya estetika
Tidak ada komentar:
Posting Komentar