A.
PENGANTAR
Mochtar Lubis
lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendi-dikan di Sekolah Ekonomi
INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center,
Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia
Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan;
Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers.
Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional; Hadiah Penghargaan
dari Persatuan Wartawan Indonesia, Hadiah dari Departemen P dan K tahun 1975
bagi novelnya Harimau! Harimau!.
Salah satu karya kritik tentang novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis adalah Putu Arya Tirtawirya
dalam bukunya yang berjudul “Pengarang Menelanjangi Manusia” dalam kumpulan
karya kritik yang berjudul Kritik Sastra Sebuah Antologi yang diterbitkan pada
1984. Dalam karya kritik tentang novel “Harimau!
Harimau!” pada halaman 21-23. Berikut ini akan disajikan hasil pene-laahan
proses kritik sastra terhadap esai kritik tersebut sesuai urutan prosesnya,
yaitu memilih subjek, membaca, meng-identifikasi, dan menginterpre-tasi.
B.
TAHAP KRITIK
·
Memilih Subyek
“meskipun menampilkan manusia kampung di dalam hutan raya tapi kita
dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa manusia sejagat. Pengarang
menelanjangi jiwa manusia ── bahwa harimau pun berada dalam diri kita
masing-masing. Dan masalah kebatinan ini semua orang telah mahfum. Tapi
pengarang lewat novelnya ini mengetuk kesadaran kita dengan cara sedemikian
rupa, unik ── pengarang tidak melolongkan hal tersebut tapi dia menyiratkan
lewat peristiwa-peristiwa yang terjalin begitu menarik, tegang serta memukau
dalam “Harimau! Harimau!” (paragraf 1)
Dari kutipan pada
paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya merupakan salah satu bagian
alasan yang dipilih penulis untuk membahas novel karya Mochtar yang berjudul
Harimau! Harimau! karena karya kritik ini hanya sebanyak tiga halaman sehingga
penjelasan tentang alasan pemilihan subyek kurang pendukung. Namun dapat
disimpulkan lebih dini jika karya kritik ini menggunakan kritik fungsionalis
karena menyinggung makna yang tersirat dalam novel “Harimau! Harimau!”.
“Pengarang menelanjangi jiwa manusia ── bahwa
harimau pun berada dalam diri kita masing-masing” (paragraf 1).
·
Membaca
Karya kritik ini dibagi menjadi empat bagian yang membahas isi
dari novel karya Mochtar Lubis. Yang pertama pada paragraf pertama membahas
inti dari karya kritik yang meresepsi bahwa novel Harimau! Harimau adalah cerita dari cerminan sifat manusia
kebanyakan.
“Meskipun menampilkan manusia kampung di dalam
hutan raya tapi kita dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa
manusia sejagat.”
Pada paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya membahas
tentang inti dari pembahasan novel Mochtar Lubis. Kemudian pada peragraf
selanjutnya terdapat penggalan cerita dari novel Harimau! Harimau! yang merupakan cerita inti yang menyorot tentang
kehidupan manusia kebanyakan. Pada paragraf ketiga dalam karya kritik Putu Arya
membahas tentang seting yang ada dalam novel. Kemudian pada paragraf keempat
merupakan sambungan pembahasan dari paragraf ketiga yang terdapat kekurangan
yang ditemukan Putu Arya terhadap novel Karya Mochtar. Kembali, kekurangan
dalam penjelasan dalam karya kritik ini membuat pembaca menjadi bingung dan
kurang mengerti. Kemudian pada paragraf kelima terdapat penggalan cerita yang
masih berhubungan dengan dengan paragraf keempat. Yaitu penggalan cerita yang
menampilkan selingan pengarang untuk menutupi kekurangannya dalam hal setting
dengan cara menceritakan sesuatu yang pornografis namun tidak pornografis
(paragraf keempat).
Kemudian pada paragraf kelima adalah paragraf tentang kesimpulan
dalam karya kritik Putu Arya.
· MENGIDENTIFIKASI
Dalam karya
kritik tersebut penulis lebih mengutamakan pada kritik fungsionalis
dibandingkan dengan formalis. Karena penulis lebih mengartikan dan meresepsi
dari apa yang diceritakan oleh Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau!.
· MENGINTERPRETASI
Dalam karya
kritik ini penulis mengambil kesimpulan yang terdapat pada paragraf kelima
tentang kesimpulan dan maksud dari novel Harimau!
Harimau! untuk dijadikan pelajaran bagi para pembaca.
“Setiap orang wajib melawan kedzaliman di
mana pun kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan
pura-pura menutup mata terhadap kedzaliman yang menimpa diri orang lain, besar
maupun kecil. Dan ada atau tidak adanya kedzaliman tidak boleh diukur dengan
jauhnyaterjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia harus
mencintai manusia dan untuk menjadi manusia haruslah orang yang lebih dulu
membunuh harimau dalam dirinya” (paragraf kelima).
C.
KESIMPULAN
Kesimpulan yang
dapat diperoleh dari karya kritik ini adalah penulis lebih memilih kritik
fungsionalis ketimbang formalis. Terbukti dengan adanya kesimpulan dan pesan kepada
pembaca pada paragraf kelima pada karya kritik karangan putu arya. Namun dalam
pembuatan kritik yang dilakukan manusia memang belum sepenuhnya sempurna,
seperti kekurangan penjelasan-penjelasan dalam tiap pokok bahasan yang dibahas.
Sumber Data
Tirtawirya, Putu A. 1984.
Kritik Sastra: Sebuah Antalogi. Flores. Nusa Indah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar