Senin, 07 Mei 2012

kritik karya kritik sastra


A.    PENGANTAR
            Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendi-dikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan; Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers. Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional; Hadiah Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia, Hadiah dari Departemen P dan K tahun 1975 bagi novelnya Harimau! Harimau!.
Salah satu karya kritik tentang novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis adalah Putu Arya Tirtawirya dalam bukunya yang berjudul “Pengarang Menelanjangi Manusia” dalam kumpulan karya kritik yang berjudul Kritik Sastra Sebuah Antologi yang diterbitkan pada 1984. Dalam karya kritik tentang novel “Harimau! Harimau!” pada halaman 21-23. Berikut ini akan disajikan hasil pene-laahan proses kritik sastra terhadap esai kritik tersebut sesuai urutan prosesnya, yaitu memilih subjek, membaca, meng-identifikasi, dan menginterpre-tasi.
B.     TAHAP KRITIK
·           Memilih Subyek
meskipun menampilkan manusia kampung di dalam hutan raya tapi kita dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa manusia sejagat. Pengarang menelanjangi jiwa manusia ── bahwa harimau pun berada dalam diri kita masing-masing. Dan masalah kebatinan ini semua orang telah mahfum. Tapi pengarang lewat novelnya ini mengetuk kesadaran kita dengan cara sedemikian rupa, unik ── pengarang tidak melolongkan hal tersebut tapi dia menyiratkan lewat peristiwa-peristiwa yang terjalin begitu menarik, tegang serta memukau dalam “Harimau! Harimau!” (paragraf 1)
            Dari kutipan pada paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya merupakan salah satu bagian alasan yang dipilih penulis untuk membahas novel karya Mochtar yang berjudul Harimau! Harimau! karena karya kritik ini hanya sebanyak tiga halaman sehingga penjelasan tentang alasan pemilihan subyek kurang pendukung. Namun dapat disimpulkan lebih dini jika karya kritik ini menggunakan kritik fungsionalis karena menyinggung makna yang tersirat dalam novel “Harimau! Harimau!”.
            “Pengarang menelanjangi jiwa manusia ── bahwa harimau pun berada dalam diri kita masing-masing” (paragraf 1).
·                Membaca
Karya kritik ini dibagi menjadi empat bagian yang membahas isi dari novel karya Mochtar Lubis. Yang pertama pada paragraf pertama membahas inti dari karya kritik yang meresepsi bahwa novel Harimau! Harimau adalah cerita dari cerminan sifat manusia kebanyakan.
            “Meskipun menampilkan manusia kampung di dalam hutan raya tapi kita dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa manusia sejagat.”
Pada paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya membahas tentang inti dari pembahasan novel Mochtar Lubis. Kemudian pada peragraf selanjutnya terdapat penggalan cerita dari novel Harimau! Harimau! yang merupakan cerita inti yang menyorot tentang kehidupan manusia kebanyakan. Pada paragraf ketiga dalam karya kritik Putu Arya membahas tentang seting yang ada dalam novel. Kemudian pada paragraf keempat merupakan sambungan pembahasan dari paragraf ketiga yang terdapat kekurangan yang ditemukan Putu Arya terhadap novel Karya Mochtar. Kembali, kekurangan dalam penjelasan dalam karya kritik ini membuat pembaca menjadi bingung dan kurang mengerti. Kemudian pada paragraf kelima terdapat penggalan cerita yang masih berhubungan dengan dengan paragraf keempat. Yaitu penggalan cerita yang menampilkan selingan pengarang untuk menutupi kekurangannya dalam hal setting dengan cara menceritakan sesuatu yang pornografis namun tidak pornografis (paragraf keempat).
Kemudian pada paragraf kelima adalah paragraf tentang kesimpulan dalam karya kritik Putu Arya.
·      MENGIDENTIFIKASI
              Dalam karya kritik tersebut penulis lebih mengutamakan pada kritik fungsionalis dibandingkan dengan formalis. Karena penulis lebih mengartikan dan meresepsi dari apa yang diceritakan oleh Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau!.
·      MENGINTERPRETASI
              Dalam karya kritik ini penulis mengambil kesimpulan yang terdapat pada paragraf kelima tentang kesimpulan dan maksud dari novel Harimau! Harimau! untuk dijadikan pelajaran bagi para pembaca.
              “Setiap orang wajib melawan kedzaliman di mana pun kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kedzaliman yang menimpa diri orang lain, besar maupun kecil. Dan ada atau tidak adanya kedzaliman tidak boleh diukur dengan jauhnyaterjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia harus mencintai manusia dan untuk menjadi manusia haruslah orang yang lebih dulu membunuh harimau dalam dirinya” (paragraf kelima).
C.    KESIMPULAN
              Kesimpulan yang dapat diperoleh dari karya kritik ini adalah penulis lebih memilih kritik fungsionalis ketimbang formalis. Terbukti dengan adanya kesimpulan dan pesan kepada pembaca pada paragraf kelima pada karya kritik karangan putu arya. Namun dalam pembuatan kritik yang dilakukan manusia memang belum sepenuhnya sempurna, seperti kekurangan penjelasan-penjelasan dalam tiap pokok bahasan yang dibahas.






Sumber Data
Tirtawirya, Putu A. 1984. Kritik Sastra: Sebuah Antalogi. Flores. Nusa Indah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar