Rabu, 09 Mei 2012

puisi romantis

puisi romantis

Satu
Satu hal yang pasti dari dirimu,
Tak kan pernah terbayangkan.
Satu jejak langkah kakimu,
Menuju satu tujuan yang ak tak tahu.
Satu jengkal kecil tanganmu,
Meraih apa yang ingin kau dapati.
Satu kedipan dalam lentik indah matamu,
Menerawang jauh menembus.
Satu hembusan nafasmu,
Sejukkan apa pun yang kamu lintasi.
Satu hal yang tak dapat aku kejar yakni,
Saat kau mencintaiku lebih dari aku mencintaimu selama ini.

Terperi hangat redup arti mentari

Terkesan semua bertalu..
Melintas sepi dalam waktu yang menua..
Hanya saja waktu semakin tua dan berharap..
Kinii dalam muda ku terayun dalam lamun..
Merasakan apa yang orang lain rasakan..
Namun orang tak jua merasakan yang terasakan oleh ku..
Detik dan detak kini senandungkan lagu lirih..
Terperi dalam mentari namun redup..
Kenapa hanya bayang yang nampak..?
Fatamorgana ini menyesatkan jalanku..
Kepastian tak kan kunjung bedaru dengan fakta..
Fiksi dari gagasan Ilahi menyelimuti dan jalan..
Falsafah hidup tak pernah bertemu dengan arti..
Bahwa arti bukanlah cinta.
Namun cinta pasti punya arti...

Komentar "Pangeran Bahagia"

Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (Oscar Wilde) adalah seorang novelis, dramawan, penyair, dan cerpenis asal Irlandia. Ia merupakan salah satu penulis drama paling sukses pada akhir era Victoria di London.
Karir Wilde berawal dari menulis cerita anak, The Happy Prince and Other Tales (1888). Dari sana ia beranjak kesebuah novel, yang merupakan novel satu-satunya, The Picture of Dorian Gray (1890). Barulah dua tahun kemudian ia berkesempatan mementaskan dramanya, Lady Windemere’s Fan, yang memperoleh banyak pujian. Hal ini menebalkan keyakinan Oskar bahwa dunia teater adalah jalan hidupnya. Ia pun semakin antusias berkarya.
Judul-judul lain dari pementasan drama Wilde yang tak kalah penting adalah: A Woman of No Importance of Being Earnest pada tahun 1895, yang membuat namanya semakin melekat dihati pencinta drama.
Lewat buku ini, Oscar Wilde benar-benar membuktikan bahwa dirinya sas-trawan ulung yang piawai menulis dalam beragam genre: novel, cerpen, puisi, esai, lakon, dan dongeng. Sastrawan legendaris ini, di balik kisah hidupnya yang flamboyan dan sangat kontroversial, ternyata mahir menulis dongeng-dongeng yang indah dan penuh makna.

Dalam buku yang ditulis oleh Oscar Wilde yang berjudul Pangeran Bahagia menceritakan tentang patung pangeran yang tinggi menjulang di pusat kota. Patung tersebut belapiskan emas dan berhiasakan permata di pedang dan di sepasang mata sang pangeran yang terkenal memiliki hidup yang sangat bahagia. Hingga sampai meninggalpun hidupnya sangat bahagia. Namun kali ini dia melihat sesuatu yang sangat berbeda dengan kehidupan yang dia jalani selama hidup dalam tembok kerajaan. Dari puncak tugu dimana patung ini berpijak, dia bisa melihat kehidupan nyata dan sangat berbeda tentang keadaan para warganya.
Pada saat melihat keadaan para warganya yang kesusahan, pangeran bahagia menangis padahal sebelumnnya dia tak pernah menangis dan selalu bahagia. Dalam buku ini diceritakan persahabatannya dengan seekor burung walet yang kesepian yang sedang berusaha mengejar kumpulannya untuk bermigrasi ke mesir. Namun karena tersesat burung walet pun memutuskan untuk istirahat di bawah patung pangeran bahagia. Dan mulai dari sini lah persahabatan keduanya berawal. Pangeran yang sedih menyaksikan kehidupan kotanya  yang ada berbagai pemandangan. Mulai dari kemeriahan dan kesunyian, kebahagiaan dan penderitaan para penduduknya.
Merasa tidak bisa berbuat apa-apa, pangeran bahagia menyuruh sang burung walet untuk mencongkel permata yang ada di pedangnya untuk diberikan kepada keluarga penjahit yang sedang kesusahan. Burung walet pun melaksanakan tugas dari pangeran bahagia itu. Kemudian saat burung walet hendak pergi, pangeran bahagia meminta tolong sekali lagi untuk mencongkelkan satu permata yang ada di matanya untuk diberikan kepada gadis kecil penjual korek api. Kemudian saat burung walet hendak pergi menyusul kawanannya, pangeran bahagia kembali meminta tolong untuk terakhir kalinya. Dia berharap permata yang ada di satu matanya dapat diberikan kepada seorang pemuda yang kesulitan mengerjakan naskah drama. Kemudian walet itu terbang dan memberikan permata itu kepada pemuda malang tersebut.
Burung walet yang hendak pergi meninggalkan pangeran mengalihkan niatnya untuk menyusul kawanannya. Karena saat ini pangeran sudah tidak memiliki mata untuk melihat. Walet pun memutuskan untuk tetap bersama pangeran bahagia dan melaksanakan apapun perintah dari pangeran bahagia, yaitu untuk membagikan lembaran emas yang menyelimuti tubuh patung pangeran bahagia hingga tak tersisa. Bahkan karena kesetiaannya, walet pun mati dibawah kaki pangeran bahagia sampai patung tersebut di ganti dengan  patung walikota kota tersebut.
Dilihat dari keseluruhan isi cerita dalam buku Oscar Wilde, terlihat buku tersebut mirip buku untuk anak-anak. Isi ceritanya mirip dengan dongeng yang selama ini ada dimasyarakat dan dibacakan saat anak-anak akan terlelap tidur pada malam hari. Cerita dalam kumpulan cerita oscar wilde menggunakan bahasa yang ringan berbeda dengan cerita-cerita yang biasanya ada di dalam cerita untuk bacaan orang-orang dewasa ataupun remaja.
Namun secara keseluruhan isi dari kumpulan cerita dalam buku Oscar Wilde menceritakan kehidupan kemanusiaan pada umumnya. Yaitu tentang kebaikan, keindahan, pengorbanan, persahabatan, kasih sayang, budi pekerti dan tentu saja tentang cinta. Seperti pada kebanyakan buku, Oscar Wilde menyajikan cerita yang umum ada dimasyarakat namun dibuat dengan gaya yang berbeda meskipun terkesan seperti dongeng anak-anak. Namun jika dilihat dari biografi dan riwayat kepengarangannya, Oscar Wilde juga pernah menulis cerita anak-anak. Sehingga tidak salah jika saat membuat cerita masih terinspirasi saat membuat dongeng.
Secara keseluruhan buku ini memang layak untuk dibaca oleh kelompok umur berapapun. Karena cerita yang dimuat di dalamnya mengandung banyak sekali pesan moral yang patut untuk dijadikan pedoman hidup bermasyarakat. Bahkan baik juga untuk dijadikan bahan referensi bacaan untuk anak-anak kecil. Dari pembahasaan yang digunakan cukup mudah untuk dipahami oleh pembaca karena ringan dan tidak terlalu berfilsafat meskipun ada dalam cerita lain dalam buku yang mengharuskan kita untuk sedikit berfikir apa maksud dari cerita tersebut. Pada umumnya buku Pangeran Bahagia karya Oscar Wilde adalah buku yang mengasyikkan dan pantas untuk dibaca oleh kalangan usia berapapun.

SUMBER DATA
Wilde, Oscar. 2011. Pangeran Bahagia. Jakarta. PT. Serambi Ilmu Semesta.

Senin, 07 Mei 2012

kritik karya kritik sastra


A.    PENGANTAR
            Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendi-dikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan; Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers. Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional; Hadiah Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia, Hadiah dari Departemen P dan K tahun 1975 bagi novelnya Harimau! Harimau!.
Salah satu karya kritik tentang novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis adalah Putu Arya Tirtawirya dalam bukunya yang berjudul “Pengarang Menelanjangi Manusia” dalam kumpulan karya kritik yang berjudul Kritik Sastra Sebuah Antologi yang diterbitkan pada 1984. Dalam karya kritik tentang novel “Harimau! Harimau!” pada halaman 21-23. Berikut ini akan disajikan hasil pene-laahan proses kritik sastra terhadap esai kritik tersebut sesuai urutan prosesnya, yaitu memilih subjek, membaca, meng-identifikasi, dan menginterpre-tasi.
B.     TAHAP KRITIK
·           Memilih Subyek
meskipun menampilkan manusia kampung di dalam hutan raya tapi kita dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa manusia sejagat. Pengarang menelanjangi jiwa manusia ── bahwa harimau pun berada dalam diri kita masing-masing. Dan masalah kebatinan ini semua orang telah mahfum. Tapi pengarang lewat novelnya ini mengetuk kesadaran kita dengan cara sedemikian rupa, unik ── pengarang tidak melolongkan hal tersebut tapi dia menyiratkan lewat peristiwa-peristiwa yang terjalin begitu menarik, tegang serta memukau dalam “Harimau! Harimau!” (paragraf 1)
            Dari kutipan pada paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya merupakan salah satu bagian alasan yang dipilih penulis untuk membahas novel karya Mochtar yang berjudul Harimau! Harimau! karena karya kritik ini hanya sebanyak tiga halaman sehingga penjelasan tentang alasan pemilihan subyek kurang pendukung. Namun dapat disimpulkan lebih dini jika karya kritik ini menggunakan kritik fungsionalis karena menyinggung makna yang tersirat dalam novel “Harimau! Harimau!”.
            “Pengarang menelanjangi jiwa manusia ── bahwa harimau pun berada dalam diri kita masing-masing” (paragraf 1).
·                Membaca
Karya kritik ini dibagi menjadi empat bagian yang membahas isi dari novel karya Mochtar Lubis. Yang pertama pada paragraf pertama membahas inti dari karya kritik yang meresepsi bahwa novel Harimau! Harimau adalah cerita dari cerminan sifat manusia kebanyakan.
            “Meskipun menampilkan manusia kampung di dalam hutan raya tapi kita dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa manusia sejagat.”
Pada paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya membahas tentang inti dari pembahasan novel Mochtar Lubis. Kemudian pada peragraf selanjutnya terdapat penggalan cerita dari novel Harimau! Harimau! yang merupakan cerita inti yang menyorot tentang kehidupan manusia kebanyakan. Pada paragraf ketiga dalam karya kritik Putu Arya membahas tentang seting yang ada dalam novel. Kemudian pada paragraf keempat merupakan sambungan pembahasan dari paragraf ketiga yang terdapat kekurangan yang ditemukan Putu Arya terhadap novel Karya Mochtar. Kembali, kekurangan dalam penjelasan dalam karya kritik ini membuat pembaca menjadi bingung dan kurang mengerti. Kemudian pada paragraf kelima terdapat penggalan cerita yang masih berhubungan dengan dengan paragraf keempat. Yaitu penggalan cerita yang menampilkan selingan pengarang untuk menutupi kekurangannya dalam hal setting dengan cara menceritakan sesuatu yang pornografis namun tidak pornografis (paragraf keempat).
Kemudian pada paragraf kelima adalah paragraf tentang kesimpulan dalam karya kritik Putu Arya.
·      MENGIDENTIFIKASI
              Dalam karya kritik tersebut penulis lebih mengutamakan pada kritik fungsionalis dibandingkan dengan formalis. Karena penulis lebih mengartikan dan meresepsi dari apa yang diceritakan oleh Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau!.
·      MENGINTERPRETASI
              Dalam karya kritik ini penulis mengambil kesimpulan yang terdapat pada paragraf kelima tentang kesimpulan dan maksud dari novel Harimau! Harimau! untuk dijadikan pelajaran bagi para pembaca.
              “Setiap orang wajib melawan kedzaliman di mana pun kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kedzaliman yang menimpa diri orang lain, besar maupun kecil. Dan ada atau tidak adanya kedzaliman tidak boleh diukur dengan jauhnyaterjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia harus mencintai manusia dan untuk menjadi manusia haruslah orang yang lebih dulu membunuh harimau dalam dirinya” (paragraf kelima).
C.    KESIMPULAN
              Kesimpulan yang dapat diperoleh dari karya kritik ini adalah penulis lebih memilih kritik fungsionalis ketimbang formalis. Terbukti dengan adanya kesimpulan dan pesan kepada pembaca pada paragraf kelima pada karya kritik karangan putu arya. Namun dalam pembuatan kritik yang dilakukan manusia memang belum sepenuhnya sempurna, seperti kekurangan penjelasan-penjelasan dalam tiap pokok bahasan yang dibahas.






Sumber Data
Tirtawirya, Putu A. 1984. Kritik Sastra: Sebuah Antalogi. Flores. Nusa Indah.