Rabu, 09 Mei 2012

puisi romantis

puisi romantis

Satu
Satu hal yang pasti dari dirimu,
Tak kan pernah terbayangkan.
Satu jejak langkah kakimu,
Menuju satu tujuan yang ak tak tahu.
Satu jengkal kecil tanganmu,
Meraih apa yang ingin kau dapati.
Satu kedipan dalam lentik indah matamu,
Menerawang jauh menembus.
Satu hembusan nafasmu,
Sejukkan apa pun yang kamu lintasi.
Satu hal yang tak dapat aku kejar yakni,
Saat kau mencintaiku lebih dari aku mencintaimu selama ini.

Terperi hangat redup arti mentari

Terkesan semua bertalu..
Melintas sepi dalam waktu yang menua..
Hanya saja waktu semakin tua dan berharap..
Kinii dalam muda ku terayun dalam lamun..
Merasakan apa yang orang lain rasakan..
Namun orang tak jua merasakan yang terasakan oleh ku..
Detik dan detak kini senandungkan lagu lirih..
Terperi dalam mentari namun redup..
Kenapa hanya bayang yang nampak..?
Fatamorgana ini menyesatkan jalanku..
Kepastian tak kan kunjung bedaru dengan fakta..
Fiksi dari gagasan Ilahi menyelimuti dan jalan..
Falsafah hidup tak pernah bertemu dengan arti..
Bahwa arti bukanlah cinta.
Namun cinta pasti punya arti...

Komentar "Pangeran Bahagia"

Oscar Fingal O’Flahertie Wills Wilde (Oscar Wilde) adalah seorang novelis, dramawan, penyair, dan cerpenis asal Irlandia. Ia merupakan salah satu penulis drama paling sukses pada akhir era Victoria di London.
Karir Wilde berawal dari menulis cerita anak, The Happy Prince and Other Tales (1888). Dari sana ia beranjak kesebuah novel, yang merupakan novel satu-satunya, The Picture of Dorian Gray (1890). Barulah dua tahun kemudian ia berkesempatan mementaskan dramanya, Lady Windemere’s Fan, yang memperoleh banyak pujian. Hal ini menebalkan keyakinan Oskar bahwa dunia teater adalah jalan hidupnya. Ia pun semakin antusias berkarya.
Judul-judul lain dari pementasan drama Wilde yang tak kalah penting adalah: A Woman of No Importance of Being Earnest pada tahun 1895, yang membuat namanya semakin melekat dihati pencinta drama.
Lewat buku ini, Oscar Wilde benar-benar membuktikan bahwa dirinya sas-trawan ulung yang piawai menulis dalam beragam genre: novel, cerpen, puisi, esai, lakon, dan dongeng. Sastrawan legendaris ini, di balik kisah hidupnya yang flamboyan dan sangat kontroversial, ternyata mahir menulis dongeng-dongeng yang indah dan penuh makna.

Dalam buku yang ditulis oleh Oscar Wilde yang berjudul Pangeran Bahagia menceritakan tentang patung pangeran yang tinggi menjulang di pusat kota. Patung tersebut belapiskan emas dan berhiasakan permata di pedang dan di sepasang mata sang pangeran yang terkenal memiliki hidup yang sangat bahagia. Hingga sampai meninggalpun hidupnya sangat bahagia. Namun kali ini dia melihat sesuatu yang sangat berbeda dengan kehidupan yang dia jalani selama hidup dalam tembok kerajaan. Dari puncak tugu dimana patung ini berpijak, dia bisa melihat kehidupan nyata dan sangat berbeda tentang keadaan para warganya.
Pada saat melihat keadaan para warganya yang kesusahan, pangeran bahagia menangis padahal sebelumnnya dia tak pernah menangis dan selalu bahagia. Dalam buku ini diceritakan persahabatannya dengan seekor burung walet yang kesepian yang sedang berusaha mengejar kumpulannya untuk bermigrasi ke mesir. Namun karena tersesat burung walet pun memutuskan untuk istirahat di bawah patung pangeran bahagia. Dan mulai dari sini lah persahabatan keduanya berawal. Pangeran yang sedih menyaksikan kehidupan kotanya  yang ada berbagai pemandangan. Mulai dari kemeriahan dan kesunyian, kebahagiaan dan penderitaan para penduduknya.
Merasa tidak bisa berbuat apa-apa, pangeran bahagia menyuruh sang burung walet untuk mencongkel permata yang ada di pedangnya untuk diberikan kepada keluarga penjahit yang sedang kesusahan. Burung walet pun melaksanakan tugas dari pangeran bahagia itu. Kemudian saat burung walet hendak pergi, pangeran bahagia meminta tolong sekali lagi untuk mencongkelkan satu permata yang ada di matanya untuk diberikan kepada gadis kecil penjual korek api. Kemudian saat burung walet hendak pergi menyusul kawanannya, pangeran bahagia kembali meminta tolong untuk terakhir kalinya. Dia berharap permata yang ada di satu matanya dapat diberikan kepada seorang pemuda yang kesulitan mengerjakan naskah drama. Kemudian walet itu terbang dan memberikan permata itu kepada pemuda malang tersebut.
Burung walet yang hendak pergi meninggalkan pangeran mengalihkan niatnya untuk menyusul kawanannya. Karena saat ini pangeran sudah tidak memiliki mata untuk melihat. Walet pun memutuskan untuk tetap bersama pangeran bahagia dan melaksanakan apapun perintah dari pangeran bahagia, yaitu untuk membagikan lembaran emas yang menyelimuti tubuh patung pangeran bahagia hingga tak tersisa. Bahkan karena kesetiaannya, walet pun mati dibawah kaki pangeran bahagia sampai patung tersebut di ganti dengan  patung walikota kota tersebut.
Dilihat dari keseluruhan isi cerita dalam buku Oscar Wilde, terlihat buku tersebut mirip buku untuk anak-anak. Isi ceritanya mirip dengan dongeng yang selama ini ada dimasyarakat dan dibacakan saat anak-anak akan terlelap tidur pada malam hari. Cerita dalam kumpulan cerita oscar wilde menggunakan bahasa yang ringan berbeda dengan cerita-cerita yang biasanya ada di dalam cerita untuk bacaan orang-orang dewasa ataupun remaja.
Namun secara keseluruhan isi dari kumpulan cerita dalam buku Oscar Wilde menceritakan kehidupan kemanusiaan pada umumnya. Yaitu tentang kebaikan, keindahan, pengorbanan, persahabatan, kasih sayang, budi pekerti dan tentu saja tentang cinta. Seperti pada kebanyakan buku, Oscar Wilde menyajikan cerita yang umum ada dimasyarakat namun dibuat dengan gaya yang berbeda meskipun terkesan seperti dongeng anak-anak. Namun jika dilihat dari biografi dan riwayat kepengarangannya, Oscar Wilde juga pernah menulis cerita anak-anak. Sehingga tidak salah jika saat membuat cerita masih terinspirasi saat membuat dongeng.
Secara keseluruhan buku ini memang layak untuk dibaca oleh kelompok umur berapapun. Karena cerita yang dimuat di dalamnya mengandung banyak sekali pesan moral yang patut untuk dijadikan pedoman hidup bermasyarakat. Bahkan baik juga untuk dijadikan bahan referensi bacaan untuk anak-anak kecil. Dari pembahasaan yang digunakan cukup mudah untuk dipahami oleh pembaca karena ringan dan tidak terlalu berfilsafat meskipun ada dalam cerita lain dalam buku yang mengharuskan kita untuk sedikit berfikir apa maksud dari cerita tersebut. Pada umumnya buku Pangeran Bahagia karya Oscar Wilde adalah buku yang mengasyikkan dan pantas untuk dibaca oleh kalangan usia berapapun.

SUMBER DATA
Wilde, Oscar. 2011. Pangeran Bahagia. Jakarta. PT. Serambi Ilmu Semesta.

Senin, 07 Mei 2012

kritik karya kritik sastra


A.    PENGANTAR
            Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendi-dikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan; Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers. Hadiah Sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional; Hadiah Penghargaan dari Persatuan Wartawan Indonesia, Hadiah dari Departemen P dan K tahun 1975 bagi novelnya Harimau! Harimau!.
Salah satu karya kritik tentang novel Harimau! Harimau! Karya Mochtar Lubis adalah Putu Arya Tirtawirya dalam bukunya yang berjudul “Pengarang Menelanjangi Manusia” dalam kumpulan karya kritik yang berjudul Kritik Sastra Sebuah Antologi yang diterbitkan pada 1984. Dalam karya kritik tentang novel “Harimau! Harimau!” pada halaman 21-23. Berikut ini akan disajikan hasil pene-laahan proses kritik sastra terhadap esai kritik tersebut sesuai urutan prosesnya, yaitu memilih subjek, membaca, meng-identifikasi, dan menginterpre-tasi.
B.     TAHAP KRITIK
·           Memilih Subyek
meskipun menampilkan manusia kampung di dalam hutan raya tapi kita dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa manusia sejagat. Pengarang menelanjangi jiwa manusia ── bahwa harimau pun berada dalam diri kita masing-masing. Dan masalah kebatinan ini semua orang telah mahfum. Tapi pengarang lewat novelnya ini mengetuk kesadaran kita dengan cara sedemikian rupa, unik ── pengarang tidak melolongkan hal tersebut tapi dia menyiratkan lewat peristiwa-peristiwa yang terjalin begitu menarik, tegang serta memukau dalam “Harimau! Harimau!” (paragraf 1)
            Dari kutipan pada paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya merupakan salah satu bagian alasan yang dipilih penulis untuk membahas novel karya Mochtar yang berjudul Harimau! Harimau! karena karya kritik ini hanya sebanyak tiga halaman sehingga penjelasan tentang alasan pemilihan subyek kurang pendukung. Namun dapat disimpulkan lebih dini jika karya kritik ini menggunakan kritik fungsionalis karena menyinggung makna yang tersirat dalam novel “Harimau! Harimau!”.
            “Pengarang menelanjangi jiwa manusia ── bahwa harimau pun berada dalam diri kita masing-masing” (paragraf 1).
·                Membaca
Karya kritik ini dibagi menjadi empat bagian yang membahas isi dari novel karya Mochtar Lubis. Yang pertama pada paragraf pertama membahas inti dari karya kritik yang meresepsi bahwa novel Harimau! Harimau adalah cerita dari cerminan sifat manusia kebanyakan.
            “Meskipun menampilkan manusia kampung di dalam hutan raya tapi kita dapat merasakan bahwa mereka adalah cermin dari jiwa manusia sejagat.”
Pada paragraf pertama dalam karya kritik Putu Arya membahas tentang inti dari pembahasan novel Mochtar Lubis. Kemudian pada peragraf selanjutnya terdapat penggalan cerita dari novel Harimau! Harimau! yang merupakan cerita inti yang menyorot tentang kehidupan manusia kebanyakan. Pada paragraf ketiga dalam karya kritik Putu Arya membahas tentang seting yang ada dalam novel. Kemudian pada paragraf keempat merupakan sambungan pembahasan dari paragraf ketiga yang terdapat kekurangan yang ditemukan Putu Arya terhadap novel Karya Mochtar. Kembali, kekurangan dalam penjelasan dalam karya kritik ini membuat pembaca menjadi bingung dan kurang mengerti. Kemudian pada paragraf kelima terdapat penggalan cerita yang masih berhubungan dengan dengan paragraf keempat. Yaitu penggalan cerita yang menampilkan selingan pengarang untuk menutupi kekurangannya dalam hal setting dengan cara menceritakan sesuatu yang pornografis namun tidak pornografis (paragraf keempat).
Kemudian pada paragraf kelima adalah paragraf tentang kesimpulan dalam karya kritik Putu Arya.
·      MENGIDENTIFIKASI
              Dalam karya kritik tersebut penulis lebih mengutamakan pada kritik fungsionalis dibandingkan dengan formalis. Karena penulis lebih mengartikan dan meresepsi dari apa yang diceritakan oleh Mochtar Lubis dalam novel Harimau! Harimau!.
·      MENGINTERPRETASI
              Dalam karya kritik ini penulis mengambil kesimpulan yang terdapat pada paragraf kelima tentang kesimpulan dan maksud dari novel Harimau! Harimau! untuk dijadikan pelajaran bagi para pembaca.
              “Setiap orang wajib melawan kedzaliman di mana pun kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri dan pura-pura menutup mata terhadap kedzaliman yang menimpa diri orang lain, besar maupun kecil. Dan ada atau tidak adanya kedzaliman tidak boleh diukur dengan jauhnyaterjadi dari diri seseorang. Manusia di mana juga di dunia harus mencintai manusia dan untuk menjadi manusia haruslah orang yang lebih dulu membunuh harimau dalam dirinya” (paragraf kelima).
C.    KESIMPULAN
              Kesimpulan yang dapat diperoleh dari karya kritik ini adalah penulis lebih memilih kritik fungsionalis ketimbang formalis. Terbukti dengan adanya kesimpulan dan pesan kepada pembaca pada paragraf kelima pada karya kritik karangan putu arya. Namun dalam pembuatan kritik yang dilakukan manusia memang belum sepenuhnya sempurna, seperti kekurangan penjelasan-penjelasan dalam tiap pokok bahasan yang dibahas.






Sumber Data
Tirtawirya, Putu A. 1984. Kritik Sastra: Sebuah Antalogi. Flores. Nusa Indah.

Sabtu, 28 April 2012

AFIKSASI DALAM KAJIAN MORFOLOGI

AFIKSASI DALAM KAJIAN MORFOLOGI


TUGAS INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Morfologi Bahasa Indonesia
Yang dibina oleh Dr. Sumadi M.Pd.



Oleh:
Danang Febrianto         110211413101

Offering B






 










UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
MEI 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penu-lis bisa menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Morfologi. Makalah yang berjudul “Afiksasi Dalam Kajian Morfologi” merupakan persyaratan untuk menyelesaikan tugas serta untuk mengikuti ujian akhir semester genap.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
LATAR BELAKANG
Bahasa merupakan salah satu bagian dari ilmu-ilmu bahasa yang digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi satu sama lain. Terdapat berbagai bahasa khususnya dalam Bahasa Indonesia. Menurut WIBOWO (2009 : 3)
Bahasa adalah suatu sistem symbol bunyi yang bermakna yang berarti kualisi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbiter dan konfisional yang dipakai sebagai alat komunikasi oleh sekelompok orang untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Bahasa Indonesia yang terlihat mudah dari pandangan orang awam memang benar dalam kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataan yang terjadi, masih banyak kesalahan dan kekurangpahaman terhadap Bahasa Indonesia dalam kajian-kajian yang lebih mendalam. Sering ditemui dalam perkatan dan tulisan-tulisan yang ada dikehidupan sehari-hari tanpa disadari kita telah banyak mengucapkan dan menuliskan kata-kata yang dalam kajian ilmu linguistik mempunyai peranan dan kajiannya masing-masing. Namun kurangnya kemampuan dasar dalam pemahaman banyak yang tidak tahu makna dan bagaimana proses pembentukan katanya. Bahkan, masih banyak pengucapan-pengucapan yang kurang tepat atau kurang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Secara umum bahasa adalah sesuatu yang semena-mena dalam pengucapannya. Sering dalam pengucapannya kita jarang melihat mana yang lebih tepat menurut aturan baku. Karena bahasa adalah semena-mena, orang memilih mana yang enak untuk diucapkan dibandingkan mana yang seharusnya wajib dan benar dalam aturan baku.
Morfologi Ramlan (1978:19) menjelaskan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-peruahan bentuk kata terhadap golongan kata dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Morfologi merupakan salah satu kajian linguistik yang membahas masalah berbahasa terdapat berbagai bagian-bagian yang dikaji. Karena dalam bahasa terdapat sub-sub yang membedakan jenis bahasa. Dari sini muncul gagasan untuk lebih memfokuskan pada satu bahasan masalah dalam kajian morfologi tentang afiksasi.
PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian dikhususkan untuk membahas afiksasi.
TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah kali ini yaitu untuk menganalisis dan mengetahui afiksasi dalam bahasa Indonesia.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian antara lain :
Bagi Kepentingan Akademis
Sebagai sumbangan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengem bangan sumber daya manusia dan dapat menjadi dasar penelitian selanjutnya.

BAB I

A.     PENGERTIAN AFIKS DAN AFIKSASI

            Afiks ialah satuan gramatik terikat yang bukan merupakan bentuk dasar, tidak mempunyai makna leksikal, dan hanya mempunyai makna gramatikal, serta dapat dilekatkan pada bentuk asal atau bentuk dasar untuk membentuk bentuk dasar dan atau kata baru. Sebagai contoh, satuan gramatik {meN-}, {di-}, {ter-}, {ke-an}, {se-nya}, {memper-}, {memper-i}, {ber-an} dan sebagainya. Karena satuan-satuan gramatik ini merupakan bentuk terikat dan tidak mempunyai makna leksikal dan hanya akan mempunyai makna gramatikal setelah digabung dengan satuan gramatik lain.
                  Afiks adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 1993). Dasar yang dimaksud pada penjelasan tersebut adalah bentuk apa saja, baik sederhana maupun kompleks yang dapat diberi afiks apapun (Samsuri, 1988).
Afiksasi ialah proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan afiks pada bentuk dasar atau juga dapat disebut sebagai proses penambahan afiks atau imbuhan menjadi kata. Hasil proses pembentukan afiks atau imbuhan itu disebut kata berimbuhan.
Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata (Richards, 1992).
Afiksasi atau pengimbuhan sangat produktif dalam pembentukan kata, hal tersebut terjadi karena bahasa indonesia tergolong bahasa bersistem aglutinasi.  Sistem aglutinasi adalah proses dalam pembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan jalan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.
Menurut A. Chaer (106: ) afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori verba, berkategori nomina maupun berkategori ajektiva. Dalam hal ini akan dibahas afiksasi berkategori verba.
                        Dari penjelasan-penejelasa di atas dapat disimpulkan bahwa afiksasi adalah penggabungan antara morfem-morfem untuk membentuk kata baru dan menghasilkan makna gramatikal yang baru yaitu dengan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.

            Ciri-ciri kata berimbuhan adalah
1.      Memilliki makna gramatikal atau makna gramatis
2.      Polimorfemis atau memiliki atau terdiri lebih dari satu morfem dan salah satu atau lebih morfemnya berupa afiks.
3.      Terjadinya perubahan kelas kata.

B.     Jenis-jenis afiksasi

1.      Prefiks
Prefiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menambahkan afiks pada bentuk dasar dan melekatkannya di depan bentuk dasar. Adapun contoh prefiks adalah di-, ke-, ber-, ter-, se-, meN-, pra-, peN-, per-, a-, dan lain sebagianya.
Contoh kata ber-prefiks
·        Di + bantu à dibantu (sumadi, 76:2010)
Pembentukan kata dibantu dilakukan dengan cara menambahkan afiks di- di depan bentuk dasar bantu.
·        Ter + jatuh à terjatuh
Pembentukan kata terjatuh dilakukan dengan cara menambahkan afiks di- depan bentuk dasar jatuh.
·        Ke + tujuh à ketujuh
·        Se + kalian à sekalian
·        meN + tangis à menangis
·        pra + sejarah à prasejarah, dan lain sebagainya

2.      Sufiks http://qlearn.wordpress.com/2007/10/27/akhiran-sufiks/
Sufiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menambahkan atau menempelkan atau melekatakan afiks di belakang bentuk dasar sehingga menimbulkan makna gramatikal atau gramatis. Seperti kita ketahui dalam penggunaan kata baik dalam percakapan maupun tulisan kita harus menggunakan kata-kata yang benar dan sesuai dengan EYD. Untuk kali yang akan dibahas yaitu akhiran kata atau sering disebut juga sufiks
Akhiran merupakan imbuhan yang dibubuhkan di akhir kata. Contoh akhiran antara lain –kan, -i, dan –an.
Akhiran –an
Akhiran –an memiliki makna :
1. Menyatakan alat
Contoh : ayunan, timbangan
2. Menyatakan tempat
Contoh : belokan, tikungan, pangkalan
3. Menyatakan sesuatu yang di
Contoh : tulisan, catatan
4. Menyatakan hal atau cara
Contoh : asuhan, bujukan
5. Menyatakan akibat atau hasil perbuatan
Contoh : guntingan, kudapan
6. Menyatakan mempunyai sifat
Contoh : manisan
7. Menyatakan seluruh atau kumpulan
Contoh : lautan, luapan
8. Menyatakan menyerupai
Contoh : rumah-rumahan, mobil-mobilan, kuda-kudaan
9. Menyatakan tiap-tiap
Contoh : satuan, harian, mingguan, bulanan, tahunan
Akhiran –kan dan –i
Akhiran –kan dan –i berfungsi untuk membentuk pokok kata. Contoh : tuliskan, bacakan, belikan, bayarkan, jauhi, hindari.
Kata-kata tersebut bukan kata mandiri namun merupakan pokok kata, karena masih memerlukan imbuhan lain yang melengkapinya.
Kata-kata, seperti bacakan, belikan, bayarkan, tuliskan, jauhi, dan hindari tidak bisa digunakan dalam kalimat normal, karena kata-kata tersebut belum bisa digunakan sebagai kata mandiri.
Contoh kalimat yang tidak mungkin digunakan sebagai kata normal ( kita tidak mungkin menggunakan kalimat berikut ini ) :
1.      Saya tuliskan buku terjemahan ini.
2.      Dia jauhi semua teman-temannya.
Hanya dalam kalimat perintah, kata-kata tersebut dapat digunakan, antara lain :
1.      Coba kamu tukiskan isi buku ini di papan tulis !
2.      Jauhi semua teman-temanmu !
Dengan ditambahi awalan men(N)-, di-, dan ter- pokok kata tersebut dapat membentuk suatu kata.
a. Makna akhiran -kan
Secara umum akhiran –kan mengandung arti perintah.
Contoh : Tunjukan semua hasil perbuatanmu!
Namun pada kata kerja aktif intransitif (kata kerja yang membutuhkan objek) dapat mengandung makna sebagai berikut :
1. Menyatakan menganggap sebagai
Contoh : menganak-emaskan, mengagungkan, mendewakan
2. Menyatakan membuat jadi
Contoh : meningkatkan, merendahkan, dibersihkan
3. Menyatakan sebagai alat atau membuat dengan
Contoh : merobekkan kertas, mengunuskan pedang
4. Menyatakan perbuatan untuk orang lain
Contoh : dibawakan, menyajikan, membawakan, menuliskan
5. Mengantar objek sebagai pengganti kata depan
Contoh : bertahtahkan, beratapkan, beralaskan
6. Mentransitifkan kata kerja intransitif
Contoh : Sinar mentari pagi memantul ke dinding
Menjadi Kaca itu memnatulkan sinar mentari pagi ke dinding
7. Menyebabkan sesuatu melakukan tindakan
Contoh : mengoperasikan,
3.      Infiks
            Infiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menyisipkan afiks ke dalam bentuk dasar. Seperti yang kita ketahui ada beberapa kata yang sepertinya mirip namun berbeda makna namun seperti berasal dari bentuk dasar yang sama. Seperti contohnya gerigi dan gigi, tunjuk dan telunjuk, dan lain sebagainya. Contoh dari infiks adalah –er-, -el-, -em-. Memang untuk infiks afiks yang ditemukan masih belum sebanyak prefiks dan sufiks. Adapun infiks –in- dalam kata kinerja. Namun dalam penggunaannya, afiks –in- sering dijumpai dalam kata dalam bahasa Jawa. Sehingga infiks –in- sebenarnya adalah afiks namun karena dalam konteks bahasa Indonesia infiks –in- belum bisa melekat pada bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Indonesia menyerap secara utuh kata kinerja dari Bahasa Jawa.

Proses pembentukanya:    infiks +     bentuk dasar         à kata
infiks -el-        +          tunjuk   àtelunjuk
infiks -em-      +          getar     àgemetar
infiks -er-         +          gigi       àgerigi
·         -el- contoh: