Sabtu, 28 April 2012

AFIKSASI DALAM KAJIAN MORFOLOGI

AFIKSASI DALAM KAJIAN MORFOLOGI


TUGAS INDIVIDU
Untuk Memenuhi Tugas Matakuliah
Morfologi Bahasa Indonesia
Yang dibina oleh Dr. Sumadi M.Pd.



Oleh:
Danang Febrianto         110211413101

Offering B






 










UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS SASTRA
JURUSAN SASTRA INDONESIA
MEI 2012

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya penu-lis bisa menyelesaikan makalah untuk memenuhi tugas akhir semester mata kuliah Morfologi. Makalah yang berjudul “Afiksasi Dalam Kajian Morfologi” merupakan persyaratan untuk menyelesaikan tugas serta untuk mengikuti ujian akhir semester genap.
Dalam penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan makalah ini
Akhirnya penulis berharap semoga Allah memberikan imbalan yang setimpal pada mereka yang telah memberikan bantuan, dan dapat menjadikan semua bantuan ini sebagai ibadah, Amiin Yaa Robbal ‘Alamiin.
LATAR BELAKANG
Bahasa merupakan salah satu bagian dari ilmu-ilmu bahasa yang digunakan sebagai alat untuk berkomunikasi satu sama lain. Terdapat berbagai bahasa khususnya dalam Bahasa Indonesia. Menurut WIBOWO (2009 : 3)
Bahasa adalah suatu sistem symbol bunyi yang bermakna yang berarti kualisi (dihasilkan oleh alat ucap) yang bersifat arbiter dan konfisional yang dipakai sebagai alat komunikasi oleh sekelompok orang untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Bahasa Indonesia yang terlihat mudah dari pandangan orang awam memang benar dalam kenyataan yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Namun dalam kenyataan yang terjadi, masih banyak kesalahan dan kekurangpahaman terhadap Bahasa Indonesia dalam kajian-kajian yang lebih mendalam. Sering ditemui dalam perkatan dan tulisan-tulisan yang ada dikehidupan sehari-hari tanpa disadari kita telah banyak mengucapkan dan menuliskan kata-kata yang dalam kajian ilmu linguistik mempunyai peranan dan kajiannya masing-masing. Namun kurangnya kemampuan dasar dalam pemahaman banyak yang tidak tahu makna dan bagaimana proses pembentukan katanya. Bahkan, masih banyak pengucapan-pengucapan yang kurang tepat atau kurang sesuai dengan KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia).
Secara umum bahasa adalah sesuatu yang semena-mena dalam pengucapannya. Sering dalam pengucapannya kita jarang melihat mana yang lebih tepat menurut aturan baku. Karena bahasa adalah semena-mena, orang memilih mana yang enak untuk diucapkan dibandingkan mana yang seharusnya wajib dan benar dalam aturan baku.
Morfologi Ramlan (1978:19) menjelaskan bahwa morfologi ialah bagian dari ilmu bahasa yang membicarakan atau yang mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-peruahan bentuk kata terhadap golongan kata dan arti kata, atau dengan kata lain dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik. Dalam kaitannya dengan kebahasaan, yang dipelajari dalam morfologi ialah bentuk kata. Selain itu, perubahan bentuk kata dan makna (arti) yang muncul serta perubahan kelas kata yang disebabkan perubahan bentuk kata itu, juga menjadi objek pembicaraan dalam morfologi. Dengan kata lain, secara struktural objek pembicaraan dalam morfologi adalah morfem pada tingkat terendah dan kata pada tingkat tertinggi.
Morfologi merupakan salah satu kajian linguistik yang membahas masalah berbahasa terdapat berbagai bagian-bagian yang dikaji. Karena dalam bahasa terdapat sub-sub yang membedakan jenis bahasa. Dari sini muncul gagasan untuk lebih memfokuskan pada satu bahasan masalah dalam kajian morfologi tentang afiksasi.
PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan permasalahan penelitian dikhususkan untuk membahas afiksasi.
TUJUAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah kali ini yaitu untuk menganalisis dan mengetahui afiksasi dalam bahasa Indonesia.
Manfaat Penelitian
Manfaat yang diharapkan dari penelitian antara lain :
Bagi Kepentingan Akademis
Sebagai sumbangan pengembangan ilmu pengetahuan khususnya ilmu pengem bangan sumber daya manusia dan dapat menjadi dasar penelitian selanjutnya.

BAB I

A.     PENGERTIAN AFIKS DAN AFIKSASI

            Afiks ialah satuan gramatik terikat yang bukan merupakan bentuk dasar, tidak mempunyai makna leksikal, dan hanya mempunyai makna gramatikal, serta dapat dilekatkan pada bentuk asal atau bentuk dasar untuk membentuk bentuk dasar dan atau kata baru. Sebagai contoh, satuan gramatik {meN-}, {di-}, {ter-}, {ke-an}, {se-nya}, {memper-}, {memper-i}, {ber-an} dan sebagainya. Karena satuan-satuan gramatik ini merupakan bentuk terikat dan tidak mempunyai makna leksikal dan hanya akan mempunyai makna gramatikal setelah digabung dengan satuan gramatik lain.
                  Afiks adalah bentuk terikat yang apabila ditambahkan ke bentuk lain akan mengubah makna gramatikalnya (Kridalaksana, 1993). Dasar yang dimaksud pada penjelasan tersebut adalah bentuk apa saja, baik sederhana maupun kompleks yang dapat diberi afiks apapun (Samsuri, 1988).
Afiksasi ialah proses pembentukan kata dengan cara menggabungkan afiks pada bentuk dasar atau juga dapat disebut sebagai proses penambahan afiks atau imbuhan menjadi kata. Hasil proses pembentukan afiks atau imbuhan itu disebut kata berimbuhan.
Afiksasi merupakan unsur yang ditempelkan dalam pembentukan kata dan dalam linguistik afiksasi bukan merupakan pokok kata melainkan pembentukan pokok kata yang baru. Sehingga para ahli bahasa merumuskan bahwa, afiks merupakan bentuk terikat yang dapat ditambahkan pada awal, akhir maupun tengah kata (Richards, 1992).
Afiksasi atau pengimbuhan sangat produktif dalam pembentukan kata, hal tersebut terjadi karena bahasa indonesia tergolong bahasa bersistem aglutinasi.  Sistem aglutinasi adalah proses dalam pembentukan unsur-unsurnya dilakukan dengan jalan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.
Menurut A. Chaer (106: ) afiksasi adalah salah satu proses dalam pembentukan kata turunan baik berkategori verba, berkategori nomina maupun berkategori ajektiva. Dalam hal ini akan dibahas afiksasi berkategori verba.
                        Dari penjelasan-penejelasa di atas dapat disimpulkan bahwa afiksasi adalah penggabungan antara morfem-morfem untuk membentuk kata baru dan menghasilkan makna gramatikal yang baru yaitu dengan menempelkan atau menambahkan unsur selainnya.

            Ciri-ciri kata berimbuhan adalah
1.      Memilliki makna gramatikal atau makna gramatis
2.      Polimorfemis atau memiliki atau terdiri lebih dari satu morfem dan salah satu atau lebih morfemnya berupa afiks.
3.      Terjadinya perubahan kelas kata.

B.     Jenis-jenis afiksasi

1.      Prefiks
Prefiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menambahkan afiks pada bentuk dasar dan melekatkannya di depan bentuk dasar. Adapun contoh prefiks adalah di-, ke-, ber-, ter-, se-, meN-, pra-, peN-, per-, a-, dan lain sebagianya.
Contoh kata ber-prefiks
·        Di + bantu à dibantu (sumadi, 76:2010)
Pembentukan kata dibantu dilakukan dengan cara menambahkan afiks di- di depan bentuk dasar bantu.
·        Ter + jatuh à terjatuh
Pembentukan kata terjatuh dilakukan dengan cara menambahkan afiks di- depan bentuk dasar jatuh.
·        Ke + tujuh à ketujuh
·        Se + kalian à sekalian
·        meN + tangis à menangis
·        pra + sejarah à prasejarah, dan lain sebagainya

2.      Sufiks http://qlearn.wordpress.com/2007/10/27/akhiran-sufiks/
Sufiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menambahkan atau menempelkan atau melekatakan afiks di belakang bentuk dasar sehingga menimbulkan makna gramatikal atau gramatis. Seperti kita ketahui dalam penggunaan kata baik dalam percakapan maupun tulisan kita harus menggunakan kata-kata yang benar dan sesuai dengan EYD. Untuk kali yang akan dibahas yaitu akhiran kata atau sering disebut juga sufiks
Akhiran merupakan imbuhan yang dibubuhkan di akhir kata. Contoh akhiran antara lain –kan, -i, dan –an.
Akhiran –an
Akhiran –an memiliki makna :
1. Menyatakan alat
Contoh : ayunan, timbangan
2. Menyatakan tempat
Contoh : belokan, tikungan, pangkalan
3. Menyatakan sesuatu yang di
Contoh : tulisan, catatan
4. Menyatakan hal atau cara
Contoh : asuhan, bujukan
5. Menyatakan akibat atau hasil perbuatan
Contoh : guntingan, kudapan
6. Menyatakan mempunyai sifat
Contoh : manisan
7. Menyatakan seluruh atau kumpulan
Contoh : lautan, luapan
8. Menyatakan menyerupai
Contoh : rumah-rumahan, mobil-mobilan, kuda-kudaan
9. Menyatakan tiap-tiap
Contoh : satuan, harian, mingguan, bulanan, tahunan
Akhiran –kan dan –i
Akhiran –kan dan –i berfungsi untuk membentuk pokok kata. Contoh : tuliskan, bacakan, belikan, bayarkan, jauhi, hindari.
Kata-kata tersebut bukan kata mandiri namun merupakan pokok kata, karena masih memerlukan imbuhan lain yang melengkapinya.
Kata-kata, seperti bacakan, belikan, bayarkan, tuliskan, jauhi, dan hindari tidak bisa digunakan dalam kalimat normal, karena kata-kata tersebut belum bisa digunakan sebagai kata mandiri.
Contoh kalimat yang tidak mungkin digunakan sebagai kata normal ( kita tidak mungkin menggunakan kalimat berikut ini ) :
1.      Saya tuliskan buku terjemahan ini.
2.      Dia jauhi semua teman-temannya.
Hanya dalam kalimat perintah, kata-kata tersebut dapat digunakan, antara lain :
1.      Coba kamu tukiskan isi buku ini di papan tulis !
2.      Jauhi semua teman-temanmu !
Dengan ditambahi awalan men(N)-, di-, dan ter- pokok kata tersebut dapat membentuk suatu kata.
a. Makna akhiran -kan
Secara umum akhiran –kan mengandung arti perintah.
Contoh : Tunjukan semua hasil perbuatanmu!
Namun pada kata kerja aktif intransitif (kata kerja yang membutuhkan objek) dapat mengandung makna sebagai berikut :
1. Menyatakan menganggap sebagai
Contoh : menganak-emaskan, mengagungkan, mendewakan
2. Menyatakan membuat jadi
Contoh : meningkatkan, merendahkan, dibersihkan
3. Menyatakan sebagai alat atau membuat dengan
Contoh : merobekkan kertas, mengunuskan pedang
4. Menyatakan perbuatan untuk orang lain
Contoh : dibawakan, menyajikan, membawakan, menuliskan
5. Mengantar objek sebagai pengganti kata depan
Contoh : bertahtahkan, beratapkan, beralaskan
6. Mentransitifkan kata kerja intransitif
Contoh : Sinar mentari pagi memantul ke dinding
Menjadi Kaca itu memnatulkan sinar mentari pagi ke dinding
7. Menyebabkan sesuatu melakukan tindakan
Contoh : mengoperasikan,
3.      Infiks
            Infiks adalah proses pembentukan kata dengan cara menyisipkan afiks ke dalam bentuk dasar. Seperti yang kita ketahui ada beberapa kata yang sepertinya mirip namun berbeda makna namun seperti berasal dari bentuk dasar yang sama. Seperti contohnya gerigi dan gigi, tunjuk dan telunjuk, dan lain sebagainya. Contoh dari infiks adalah –er-, -el-, -em-. Memang untuk infiks afiks yang ditemukan masih belum sebanyak prefiks dan sufiks. Adapun infiks –in- dalam kata kinerja. Namun dalam penggunaannya, afiks –in- sering dijumpai dalam kata dalam bahasa Jawa. Sehingga infiks –in- sebenarnya adalah afiks namun karena dalam konteks bahasa Indonesia infiks –in- belum bisa melekat pada bahasa Indonesia. Sehingga Bahasa Indonesia menyerap secara utuh kata kinerja dari Bahasa Jawa.

Proses pembentukanya:    infiks +     bentuk dasar         à kata
infiks -el-        +          tunjuk   àtelunjuk
infiks -em-      +          getar     àgemetar
infiks -er-         +          gigi       àgerigi
·         -el- contoh:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar