Adik adik semuanya,
Dengarkan sejenak apa yang saya ucapkan, ikutilah apa yang
saya katakan,
Nyamankan setiap letak posisi duduk kalian semua,
Rileks kan setiap lekuk sendi pada tubuh anda semua, mulai jari
bahkan sampai siku, pundak lutut anda biarkan
mereka santai.
Bernafaslah dengan santai,
Tarik nafas, hembuskan, 5x
Kemudian akan saya ajak kalian menikmati alam lain dari diri
kita yang akan kita ciptakan bersama-sama, lewat hati kita dan lewat imajinasi
kita,
Bayangkan kamu berada pada sebuah tempat yang sejuk, (boleh
memejamkan mata) rasakan hembusan angin yang sangat sejuk dan segar ini,
Kamu tak pernah datang di tempat seindah ini, lihatlah di
sekitarmu, lembah dan bukit yang hijau, segar dan sangat indah, semilir angin
melewati setiap sela rambut mu.
Udara yang segar ini hiruplah, hembuskan hirup lagi dan
hembuskan, buat kalian senyaman mungkin, nikmatilah setiap pemandangan yang ada
di depan kalian.
Tarik nafas, hembuskan perlahan secara santai.
Lihatlah kesamping,
ada hutan pinus yang
senantiasa menyejukkan pandangan kalian, menyegarkan pikiran kalian,
Nikmatilah, rasakanlah setiap apa pemandangan yang ada di
depan kalian. Nikmati dan nikmati, rasakan dan rasakan, tarik nafas hembuskan
Lihatlah ke langit, warna biru memberikan energi kesegaran dalam
diri, ambil setiap energi positifnya, nikmati keindahan langit itu, lihatlah
disana burung burung terbang bebas kesana kemari, mereka bebas mereka lepas,
begitu indah. Dengarkan senandung kicauan burung2 itu. Kali ini Dengarkan hanya
suara saya jangan hiraukan suara lain. Dengarkan suara gemricik air dan suara burung2 itu. Hal ini
nyata ada di hadapan kalian. Bayangkan senyata-nyatanya.
Kemudian, lihatlah lurus kedepan, datang dari kejauhan sosok
bayangan perlahan mendekat, mendekat, mendekat dan kian mendekat. Dan kini
duduk di sebelah kalian, kalian bisa merasakan hangat tubuhnya, kalian nyaman
dengan nya yang duduk disebelahmu.
Perlahan sesosok bayangan itu memegang tangan kanan mu, agak
kasar karena kerja keras, namun kalian menikmati sentuhan itu, sentuhan seorang
wanita. Rasakan setiap genggaman tangan nya di sela-sela jari tangan mu.
Perlahan, bayangan tadi mulai menampakkan wujudnya yang nyata. Dari bawah
sampai wajah,. Dia tersenyum., manis sekali, bahkan sangaaat maniis sekali,.
Berjuta-juta kali lipat senyum termanis yang pernah kalian temui selama ini.
Dan saat itu pula, kalian menyadari bahwa dia adalah ibu mu sendiri.
Kalian saat ini merasa kangen sekali dengan sosok ini, sosok
yang selalu menemanimu. Mulai dari pertama kamu menghirup nafas kehidupan
hingga kini duduk di tempat ini. Bayangkan sosok wajah ibu. Bayangkan setiap
kerutan diwajahnya, bayangkan senyuman indahnya, bayangkan senyumnya yang
menampakkan raut muka bahagia dari beliau. Bayangkan, lihat wajahnya semakin
dalam, lihat senyum yang selalu terpancar dari dalam dirinya. Ingatlah dia saat
ini, mungkin saat kita berada disini, orang yang satu ini berdoa di setiap
sholatnya, dia berdoa “Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk anakku. Berikan
kemudahan untuk kelangsungan hidupnya, berikan kemudahan untuk tercukupinya
segala kebutuhanyang dia perlukan selama dia sekolah.” Mereka berdoa, berdoa
kepada Tuhan hanya untuk kita. Generasinya yang akan melanjutkan kehidupan di
rumah mereka. Bahkan, mungkin mereka sedang bekerja di swah, di bawah terik
matahari yang sangat menyengat, keringat mereka bercucuran, dan mereka selalu
berharap agar panen nya akan melimpah. Untuk apa? Untuk kelangsungan hidup
kalian. Mereka rela lapar namun jangan anak nya yang kelaparan. Mereka bekerja
keras, kelelahan namun pada saat dirumah ibu masih bisa tersenyum, dan senyum
itu sangat aman indaah, dan senyum itu yang bisa membuat kita sangaat nyaman.
Bahkan bukan ibu saja yang ada di situ, lihatlah dan rasakan
sentuhan tangan yang kasar itu. Mungkin kalian merasa kurang nyaman, namun apa?
Kalian tidak bisa melepas genggaman tangan itu. Itu adalah genggaman tangan seorang
pekerja keras. Rasakan disetiap sela jari-jari mu, ada jari seorang lelaki, dan
lihatlah wajahnya. Bayangkan wajah ayah kalian. Saat itu ia tersenyum.
Sangat menawan, memberikan kesejukan
yang mendalam. Dia seperti ibu kalian, atau mungkin dia jarang tersenyum namun
hati nya selalu bahagia setiap pulang kerumah dan melihat anaknya yang asyik
menonton televisi. Ayahmu kangen, namun ayah tidak seperti ibu, dia melihat
dari kejauhan anaknya yang dia sayangi dia cintai, dia bahagia anaknya rajin,
setiap hari sekolah. Dia ingin sekali memeluk kalian, namun dia tidak seperti
ibu kalian. Ayah juga berdoa untuk kita “ya Allah, mudahkanlah segala urusan
anakku, berikanlah kekuatan untukku agar aku bisa bekerja dan melihat anakku
bahagia dan tercukupi segala keinginannya”
Namun apa yang telah kita lakukan selama ini?
Kita, jarang memberikan senyuman kita kepada ibu ayah kita,
kita jarang menjabat tangan ayah ibu kita, kita jarang peduli dengan kesusahan
kedua orang tua kita. Kita selalu menang dengan ego kita masing-masing.
Pernahkah kita tahu perasaan ayah ibu kita jika mereka tidak bisa memenuhi
permintaan kita? Mereka sebenarnya menangis, mereka menyesal kenapa mereka
tidak bisa memenuhi permintaan kalian, mereka ingin melihat kalian bahagia,
mereka menagis, mereka menangis namun mencoba tegar. Mereka berusaha mencari
uang agar permintaan kita terpenuh i. Mereka rela berhutang kesana kemari,
menjual cincin pernikahan mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan kalian. Mereka
rela berpuasa demi mencukupi kebutuhan kalian. Bayangkan setiap tetes peluh
keringat mereka, hanya satu yang mereka harapkan. Kalian, kalian yang berada di
ruangan ini kelak menjadi orang yang lebiih dari mereka, lebih dari cukup.
Namun kita sering lalai, sering acuh akan perjuangan mereka.
Ingatlah wajah mereka, ingatlah tatapan mata mereka,
ingatlah senyum mereka dan pesan mereka saat kita hendak pergi meninggalkan
rumah menuju sekolah. Mereka berharap kelak kamu menjadi orang sukses, biar
orang tua yang menderita. Namun sering kita pergi tanpa salam, tanpa mencium
tangan tangan kasar mereka.
Yakinkah jika saat kita pulang nanti kita yakin bertemu
dengan mereka?
Yakinkah kita bisa melihat senyum indah mereka setelah
pulang dari sini?
Bukankah usia dan setiap sendi kehidupan ini sudah ada yang memiliki
dan mengaturnya?
Bayangkan jika saat kita pulang ada bendera, adda kerumunan
di rumah kita yang tak pernah kita inginkan akaan terjadi. Saaat kalian masuk
ke dalam rumah, kalian melihat sosok ibu dan ayah kalian telah terbujur kaku. Mereka
telah meninggal. Karena kalelahan bekerja untuk kalian. Massyaallah! Orang tua
yang selalu sayang dan perhatian kepada kita kini telah terbujur kaku di hadapan
kita sebelum kita sempat untuk meminta maaf kepada mereka. Ya Allah, terlalu cepat kau mengambil mereka ya
Allah. Aku belum sempat meminta mav kepada mereka ya Allah, dosa-dosaku terlalu
banyak untuk dihtung dengan butiran pasir yang ada di lautan ya Allah.
Ya Allah, telah banyak ajaran yang diajarkan orang tua ku
namun aku jarang mengamalkannya. Andai aku diberi kesempatan untuk mengakui
semua kesalahanku untuk meringankan siksa kubur orang tua ku akibat
kesalahanku. Ampunkanlah Ya allah, tangaku ini pernah melakukan maksiat, mata
ini sering malkukan zina semenjak aku mengenal cinta. Ya Allah berikanlah hamba
pintu mav mu. Bukankah semua yang ada di alam raya akan kembali kepada
penciptanya?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar