Jumat, 20 April 2012

SAMPEL RENUNGAN


Adik adik semuanya,
Dengarkan sejenak apa yang saya ucapkan, ikutilah apa yang saya katakan,
Nyamankan setiap letak posisi duduk kalian semua,
Rileks kan setiap lekuk sendi pada tubuh anda semua, mulai jari bahkan sampai siku, pundak lutut anda  biarkan mereka santai.
Bernafaslah dengan santai,
Tarik nafas, hembuskan, 5x
Kemudian akan saya ajak kalian menikmati alam lain dari diri kita yang akan kita ciptakan bersama-sama, lewat hati kita dan lewat imajinasi kita,
Bayangkan kamu berada pada sebuah tempat yang sejuk, (boleh memejamkan mata) rasakan hembusan angin yang sangat sejuk dan segar ini,
Kamu tak pernah datang di tempat seindah ini, lihatlah di sekitarmu, lembah dan bukit yang hijau, segar dan sangat indah, semilir angin melewati setiap sela rambut mu.
Udara yang segar ini hiruplah, hembuskan hirup lagi dan hembuskan, buat kalian senyaman mungkin, nikmatilah setiap pemandangan yang ada di depan kalian.
Tarik nafas, hembuskan perlahan secara santai.
Lihatlah kesamping,
 ada hutan pinus yang senantiasa menyejukkan pandangan kalian, menyegarkan pikiran kalian,
Nikmatilah, rasakanlah setiap apa pemandangan yang ada di depan kalian. Nikmati dan nikmati, rasakan dan rasakan, tarik nafas hembuskan
Lihatlah ke langit, warna biru memberikan energi kesegaran dalam diri, ambil setiap energi positifnya, nikmati keindahan langit itu, lihatlah disana burung burung terbang bebas kesana kemari, mereka bebas mereka lepas, begitu indah. Dengarkan senandung kicauan burung2 itu. Kali ini Dengarkan hanya suara saya jangan hiraukan suara lain. Dengarkan  suara gemricik air dan suara burung2 itu. Hal ini nyata ada di hadapan kalian. Bayangkan senyata-nyatanya.
Kemudian, lihatlah lurus kedepan, datang dari kejauhan sosok bayangan perlahan mendekat, mendekat, mendekat dan kian mendekat. Dan kini duduk di sebelah kalian, kalian bisa merasakan hangat tubuhnya, kalian nyaman dengan nya yang duduk disebelahmu.
Perlahan sesosok bayangan itu memegang tangan kanan mu, agak kasar karena kerja keras, namun kalian menikmati sentuhan itu, sentuhan seorang wanita. Rasakan setiap genggaman tangan nya di sela-sela jari tangan mu. Perlahan, bayangan tadi mulai menampakkan wujudnya yang nyata. Dari bawah sampai wajah,. Dia tersenyum., manis sekali, bahkan sangaaat maniis sekali,. Berjuta-juta kali lipat senyum termanis yang pernah kalian temui selama ini. Dan saat itu pula, kalian menyadari bahwa dia adalah ibu mu sendiri.
Kalian saat ini merasa kangen sekali dengan sosok ini, sosok yang selalu menemanimu. Mulai dari pertama kamu menghirup nafas kehidupan hingga kini duduk di tempat ini. Bayangkan sosok wajah ibu. Bayangkan setiap kerutan diwajahnya, bayangkan senyuman indahnya, bayangkan senyumnya yang menampakkan raut muka bahagia dari beliau. Bayangkan, lihat wajahnya semakin dalam, lihat senyum yang selalu terpancar dari dalam dirinya. Ingatlah dia saat ini, mungkin saat kita berada disini, orang yang satu ini berdoa di setiap sholatnya, dia berdoa “Ya Allah, berikanlah yang terbaik untuk anakku. Berikan kemudahan untuk kelangsungan hidupnya, berikan kemudahan untuk tercukupinya segala kebutuhanyang dia perlukan selama dia sekolah.” Mereka berdoa, berdoa kepada Tuhan hanya untuk kita. Generasinya yang akan melanjutkan kehidupan di rumah mereka. Bahkan, mungkin mereka sedang bekerja di swah, di bawah terik matahari yang sangat menyengat, keringat mereka bercucuran, dan mereka selalu berharap agar panen nya akan melimpah. Untuk apa? Untuk kelangsungan hidup kalian. Mereka rela lapar namun jangan anak nya yang kelaparan. Mereka bekerja keras, kelelahan namun pada saat dirumah ibu masih bisa tersenyum, dan senyum itu sangat aman indaah, dan senyum itu yang bisa membuat kita sangaat nyaman.
Bahkan bukan ibu saja yang ada di situ, lihatlah dan rasakan sentuhan tangan yang kasar itu. Mungkin kalian merasa kurang nyaman, namun apa? Kalian tidak bisa melepas genggaman tangan itu. Itu adalah genggaman tangan seorang pekerja keras. Rasakan disetiap sela jari-jari mu, ada jari seorang lelaki, dan lihatlah wajahnya. Bayangkan wajah ayah kalian. Saat itu ia tersenyum. Sangat  menawan, memberikan kesejukan yang mendalam. Dia seperti ibu kalian, atau mungkin dia jarang tersenyum namun hati nya selalu bahagia setiap pulang kerumah dan melihat anaknya yang asyik menonton televisi. Ayahmu kangen, namun ayah tidak seperti ibu, dia melihat dari kejauhan anaknya yang dia sayangi dia cintai, dia bahagia anaknya rajin, setiap hari sekolah. Dia ingin sekali memeluk kalian, namun dia tidak seperti ibu kalian. Ayah juga berdoa untuk kita “ya Allah, mudahkanlah segala urusan anakku, berikanlah kekuatan untukku agar aku bisa bekerja dan melihat anakku bahagia dan tercukupi segala keinginannya”
Namun apa yang telah kita lakukan selama ini?
Kita, jarang memberikan senyuman kita kepada ibu ayah kita, kita jarang menjabat tangan ayah ibu kita, kita jarang peduli dengan kesusahan kedua orang tua kita. Kita selalu menang dengan ego kita masing-masing. Pernahkah kita tahu perasaan ayah ibu kita jika mereka tidak bisa memenuhi permintaan kita? Mereka sebenarnya menangis, mereka menyesal kenapa mereka tidak bisa memenuhi permintaan kalian, mereka ingin melihat kalian bahagia, mereka menagis, mereka menangis namun mencoba tegar. Mereka berusaha mencari uang agar permintaan kita terpenuh i. Mereka rela berhutang kesana kemari, menjual cincin pernikahan mereka hanya untuk memenuhi kebutuhan kalian. Mereka rela berpuasa demi mencukupi kebutuhan kalian. Bayangkan setiap tetes peluh keringat mereka, hanya satu yang mereka harapkan. Kalian, kalian yang berada di ruangan ini kelak menjadi orang yang lebiih dari mereka, lebih dari cukup. Namun kita sering lalai, sering acuh akan perjuangan mereka.
Ingatlah wajah mereka, ingatlah tatapan mata mereka, ingatlah senyum mereka dan pesan mereka saat kita hendak pergi meninggalkan rumah menuju sekolah. Mereka berharap kelak kamu menjadi orang sukses, biar orang tua yang menderita. Namun sering kita pergi tanpa salam, tanpa mencium tangan tangan kasar mereka.
Yakinkah jika saat kita pulang nanti kita yakin bertemu dengan mereka?
Yakinkah kita bisa melihat senyum indah mereka setelah pulang dari sini?
Bukankah usia dan setiap sendi kehidupan ini sudah ada yang memiliki dan mengaturnya?
Bayangkan jika saat kita pulang ada bendera, adda kerumunan di rumah kita yang tak pernah kita inginkan akaan terjadi. Saaat kalian masuk ke dalam rumah, kalian melihat sosok ibu dan ayah kalian telah terbujur kaku. Mereka telah meninggal. Karena kalelahan bekerja untuk kalian. Massyaallah! Orang tua yang selalu sayang dan perhatian kepada kita kini telah terbujur kaku di hadapan kita sebelum kita sempat untuk meminta maaf kepada mereka. Ya  Allah, terlalu cepat kau mengambil mereka ya Allah. Aku belum sempat meminta mav kepada mereka ya Allah, dosa-dosaku terlalu banyak untuk dihtung dengan butiran pasir yang ada di lautan ya Allah.
Ya Allah, telah banyak ajaran yang diajarkan orang tua ku namun aku jarang mengamalkannya. Andai aku diberi kesempatan untuk mengakui semua kesalahanku untuk meringankan siksa kubur orang tua ku akibat kesalahanku. Ampunkanlah Ya allah, tangaku ini pernah melakukan maksiat, mata ini sering malkukan zina semenjak aku mengenal cinta. Ya Allah berikanlah hamba pintu mav mu. Bukankah semua yang ada di alam raya akan kembali kepada penciptanya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar