Putri dan Tiga Peri
“Nak, ibu ingatkan agar kamu tidak pergi terlalu jauh dari rumah. Apalagi sampai masuk ke dalam hutan yang ada di seberang sungai itu. Kamu mengerti?”
“Mmm. Memang kenapa bu?” tanya Sheila bingung.
Sheila merupakan anak yang masih kecil. Dia masih lugu dan sanat polos. Ia sangat disayang oleh kedua orang tuanya. Umurnya masih empat tahun. Baik hati dan suka menolong, adalah kebiasaan yang selalu ditanamkan oleh kedua orang tuanya sejak ia masih kecil.
Seperi biasa, setiap pagi Sheila selalu di bekali roti oleh ibunya. Ibunya adalah seorang pembuat roti yang sangat enak. Hari tu, Sheila sedang duduk duduk di bawah pohon yang sangat besar dan rindang. Dalam hatinya ia bertanya-tanya.
“Kenapa ya, aku tidak boleh masuk ke dalam hutan yang ada disana?” gumamnya dalam hati.
Sheila adalah anak yang sifat keingintahuannya sangat besar. Jika ia tidak tahu tentang satu hal, maka ia akan bertanya dan mencari tahu supaya ia menjadi tahu. Ia anak yang sangat cerdas meskipun ia masih belum sekolah. Setiap hari ia selalu memandangi hutan yang ada dihadapannya saat ini. Hutan itu sangat berkabut. Ia ingat dengan perkataan tetangga dekatnya.
“Di hutan yang sangat berkabut yang ada disana, sebaiknya kamu jangan pernah berpikiran untuk pergi kesana. Banyak monster dan hantu-hantu jahat yang akan membawa kalian pada ketakutan. Karena di sana sangat amat menyeramkan” kata tetangganya suatu waktu kemarin.
“Apa benar itu bi? Aku tidak percaya sebelum aku melihatnya sendiri.”
“Nak, kamu masih kecil. Orang tua saja belum tentu berani untuk masuk ke dalam hutan tersebut.” Kata Ibu Sheila.
Namun hal tersebut membuatnya semakin bertanya-tanya dengan apa yang ada didalam hutan berkabut itu. Benarkah ada monster dan mahluk jahat yang bersemayam disana?
Bagaikan sebuah tanaman yang selalu disirami dan diberi pupuk seiap hari. Tanaman tersebut tumbuh menjadi besar dan kian lebat. Hingga akhirnya ia menghasilkan buah dan biji-bijian dari pohon tersebut. Seperi halnya dengan gadis kecil yang bernama Sheila ini. Setiap hari ia selalu penasaran dengan cerita-cerita tentang isi hutan disana.
“Ibu, aku tadi bermimpi tentang hutan yang ada disana. Tapi sesaat aku ingin masuk ke dalam hutan tersebut, aku tiba-tiba terbangun.” Ceritanya kepada ibunya.
“Ohh, itu tandanya kamu harus segera bangun dan membantu ibu menyiapkan roti-roti ini untuk dijual. Atau jangan-jangan kamu.. sini ibu lihatnya, pasti kamu ngmpol lagi? hahahaha” canda ibunya sambil memberikan ciuman hangat di pagi hari ini.
Merekah senyum Sheila mendapati ciuman dari ibunya yang sangat ia sayangi dan ia kagumi itu.
“yeeee. Meskipun aku masih kecil, tapi aku udah ndak suka ngompol lagi!” katnya sambil pura-pura ngambek kepada ibunya.
Tiba-tiba Sheila bertanya kepada ibunya tentang hutan yang membuatnya penasarean itu.
“bu, kenapa aku ndak boleh masuk ke dalam hutan itu? Trus, kalau aku masuknya sama teman aku, apakah boleh?” cercanya untuk ingin tahu apa yan membuanya tidak boleh masuk kedalam hutan disana.
“hehee.. kamu mau ya dimakan sama mahkluk hutan yang ada disana? Apa kamu ndak takut?tanya ibu.
“Ndak tuh”jawabnya singkat.
“Yakiin?”
“mmm. Yakin”jawabnya meyakinkan.
“nanti, kalau kamu masuk kesana, jangan lupa pake popok dulu ya biar kamu kalau ngmpol, celana mu ndak basah. Hihihihi. Kan kamu selalu ngompol kalau sedan ketakutan.”ejek ibu pada Sheila.
Hal itu membuat Sheila menjadi ngambek dengan ibunya. “hiihiiihii”ibu tertawa geli melihat putri sulungnya itu.
Seperti biasa, setiap pagi Sheila selalu duduk di bawah pohon dekat sunai yang menjadi jarak antara tempat tinggalnya dengan hutan misterius itu. Sambil mengunyah roti buatan ibunya, ia memperhatikan secara seksama jauh ke dalam hutan tersebut. Namu yang dilihat hanyalah kabut yang sangat pekat. Namun tiba-tiba aa yang mengejutkan penglihatannya. “kresek-kresek” suara semak-semak yang bergerak karena tersenggol sesuatu. Di balik kabut ada sosok kecil yang melintas. Sejenak Sheila terkejut dan mulai sedikit takut. Apakah semua cerita itu benar?
Setelah sekian lama tercengang, baru ia percaya bahwa apa yang dilihatnya itu benar adanya. Ada tiga mahkluk hidup kecil mungil sedang bersayap menghampirinya. Mereka adalah peri yang ternyata berasal dari hutan yang berkabut pekat itu. Sheila menawarinya roti yang ada di genggamannya. Ketiga peri kecil itu sangat senang mendapatkan roti tersebut dan menyukainya. Mereka pun berkenalan dengan Sheila, mereka adalah Plea, Pio, dan Plom. Ketiganya sengaja keluar hutan karena dari tadi melihat Sheila sedang memakan sesuatu dan mereka menginginkannya.
“Nama ku Sheila. Kalian berasal dari hutan disana ya? Boleh kah aku melihat rumah kalian?”tanyanya ingin tau.
“pssst...pssttt”Para peri sedang berbisik-bisik.
“Sebenarnya, kami sangat dilarang membawa manusia masuk ke dalam hutan kami. Namun karena kamu memaksa kita usahakan”Plea menjawab.
“terimakasih ya”sambut Sheila bahagia.
Dan akhirnya mereka berempat masuk ke dalam hutan berkabut itu. Namun, mata Sheila tidak bisa melihat apa-apa kecuali kabut. Di sana ia melihat banyak sekali jalan yang hampir sama. Jika belum pernah dan belum tahu masuk ke dalam hutan ini, pasti akan sangat tersesat.
“Waahh..aku belum pernah melihat tempat seperti ini. Tempat ini sangat indah.” Ucap Sheila kagum.
Tempat para peri begitu indah dan sangat berwarna-warni. Sangat jauh berbeda dengan apa yang terlihat dari luar hutan. Rumah para peri yang berda di atas pohon begitu indah.warna berwarna pelangi sangat membuat siapa saja yang melihatnya akan kagum dan terkejut dengan keindahannya. Para peri terbang berlalu lalang bagai burung terbang bebas di alam terbuka. Pohon-pohon yang masih sangat teduh dan rindang membuat udara menjadi sangat sejuk. Sinar matahari menembuh lebatnya dedaunan pohon menciptakan cahaya surga yang sangat indah dan menawan. Namun Sheila tahu dia seorang penyusup yang harus menyamar agar tidak ketahuan oleh ratu peri. Dia pun meminta ketiga teman barunya untuk mendandaninya agar terlihat seperti peri-peri lain.
“Ubahlah aku menjadi seperti kalian. Agar aku tidak dicurigai oleh teman-teman kalian”pinta Sheila kepada ketiga temannya. “cliing” Sheila berubah seperti ketiga teman perinya.
Ke empat kawan baru itu kembali melanjutkan jalan-jalan mereka ke dalam rumah para peri itu. Melihat betapa indahnya rumah peri dan segala sesuatunya yang belum pernah dilihat oleh Sheila. Tiba-tiba mereka berpapasan dengan Ratu Peri mereka.
“Hey kalian. Siapa anak baru itu? Aku tidak pernah melihatnya sebelumnya? Tanya Ratu Peri sedikit curiga. Ratu Peri melihat sesuatu yang berbeda dari salah satu dari ke empat orang yang ada di hadapannya itu. Plea, Pio, dan Plom bingung untuk menjawab apa.
“Mmmmhh. Dia, eee, dia saudara sepupu kami ratu.” Mereka terpakasa berbohong agar Ratu Peri tidak marah. Karena barang siapa yang membawa masuk manusia ke dalam rumah mereka adalah pelanggaran berat. Dan akan mendapat hukuman yang sangat setimpal. Para peri takut jika keberadaan mereka diketahui oleh manusia, karena mereka takut manusia akan merusak apa yang mereka punya. Sehingga para peri dilarang untuk berinteraksi dengan manusia. Untung saja kali ini ratu percaya akan ketiga ucapan ketiga peri kecil tadi. Namun tiba-tiiba.
“Kalian bertiga mendapat hukuman! Kalian telah melanggar janji peri untuk tidak membawa manusia masuk ke dalam rumah kita! Kalian tahu, itu akan membawa kesusahan bagi kita semua! Kalian bertiga dihukum!”Bentak ratu peri sangat marah. Ketiganya sangat ketakutan. Hukuman kali ini pasti sangat berat. Karena mereka telah melanggar janji peri untuk tidak membawa manusia masuk ke dalam tempat mereka. Di tengah tempat mereka sudah dipersiapkan sebuah kuali besar dan di bawahnya api yang menyala-nyala. Mereka akan direbus!
“Tunggu Ratu!” teriak Sheila. “Bukan mereka yang salah! Aku yang salah! Aku yang memaksa mereka untuk membawa ku ke sini. Jadi hukumlah saja aku! Jangan mereka! Mereka tidak bersalah!” pinta Sheila.
“Hukum anak itu!” perintah Ratu Peri.
Akhirnya, Sheila di masukkan kedalam kuali yang berisi air mendidih itu. Namun secara ajaib, Sheila tidak merasakan panas. Kemudian Ratu memerintahkan Sheila untuk keluar.
“Hukumanmu sudah selesai” kata Rau Peri.
Ternyata berkat kejujuran yang di tunjukkan oleh Sheila, ia berhasil lolos dari hukuman Ratu Peri. Kemudian oleh Ratu Peri, ingatannya dengan rumah para peri dihapus dan hanya menyisakan sedikit kenangan indah tentang rumah peri. Dan ia disulap untuk di kembalikan ke rumahnya dalam keadaan tertidur dan membiarkan kenangan yang sedikit itu menjadi mimpi yang akan ia bawa saat ia bangun dari tidirnya nanti.
Sheila terbangun di tempat dimana ia biasanya tidur. Ia sekarang berada di kamarnya sendiri. Di rumahnya. Ia segera bangun dan menuju ibunya.
“Ibu. Tadi aku bermimpi kalau aku bertemu dengan para peri yang sangat indah yang ada di dalam hutan bu.” Ceritanya kepada ibunya. Ibunya tersenyum dan mencium pipi Sheila.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar